Serunya Sistem Zonasi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) Yang Tidak Sempurna dan Tidak Akan Pernah Sempurna


Bulan Juni dan Juli di Indonesia selalu menjadi bulan tersibuk bagi para orangtua. Pada kedua bulan ini memang ada sesuatu yang khusus yang membuat para orangtua menjadi resah, gelisah, pusing, mumet tidak karuan. Hal itu adalah pendaftaran sekolah.

Tahun ini, 2017 menjadi lebih ramai dan ruwet dari biasanya. Pertama karena bersamaan dengan hadirnya Lebaran atau Idul Fitri, yang tentunya menambah kemumetan orangtua dalam hal biaya. Yang kedua adalah penerapan sistem zonasi PPDB atau Penerimaan Peserta Didik Baru Online.

Sistem zonasi PPDB Online ini peraturannya baru dikeluarkan pada bulan Mei, alias hanya satu bulan sebelum pelaksanaan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Hasilnya? Heboh disana sini. Kritik, kecaman dan hujatan langsung diarahkan kepada pak Menteri Muhadjir Effendy, pengganti dari Pak Anies Baswedan. Banyak orangtua menganggap bahwa sistem tersebut cacat, tidak sempurna, dan merugikan banyak orang.

Bahkan, di media massa, terlihat terjadi beberapa demo kecil di beberapa daerah. Ada demo yang menuntut anaknya diterima masuk di sekolah tertentu karena merasa lokasinya berdekatan. Ada yang demo karena merasa terjadi kecurangan. Ada juga yang menebar kata-kata pedas via media sosial karena anak mereka gagal masuk diterima di sekolah favorit dan merasa sistem zonasi terlalu memprioritaskan anak-anak di lingkungan dekat sekolah.

HEBOH. RAMAI. RUWET. Belasan talk show membawakan topik tentang hal ini. Banyak pengamat mengatakan bahwa sistem zonasi PPDB online adalah sebuah sistem yang tidak sempurna dan tidak seharusnya diterapkan karena merugikan "banyak" pihak. Biasanya dihadirkan juga wawancara dengan para orangtua yang merasa keberatan dengan penerapan sistem itu.

Biasalah Indonesia. Kalau tidak rame, bukan Indonesia.

Tetapi pertanyaannya benarkah Sistem Zonasi PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru) Online adalah sistem yang tidak sempurna, cacat? Benarkah bahwa sistem ini terlalu terburu-buru untuk diterapkan? Benarkah hal ini memberikan keistimewaan berlebih pada anak-anak yang tinggal di dekat sebuah sekolah?

Benarkah?

Seperti Apa Sistem Zonasi PPDB Online?

Disini banyak salah kaprah dan salah pengertian dalam masyarakat bahwa seorang anak (CCC) yang tinggal di dekat sebuah sekolah, misal SMP atau SMA YYY, ia secara otomatis bisa diterima di sekolah tersebut.

Padahal sebenarnya tidak. Sistem zonasi PPDB hanya memberikan sedikit keunggulan baginya dalam bentuk tambahan nilai. Berdasarkan yang saya alami, karena kebetulan tahun ini, si kribo cilik harus masuk SMA, maka tambahan nilainya adalah (jarak rumah ke sekolah) :

  • 0-1 Km - 0.9
  • 1-3 Km - 0.8
  • 3-5 Km - 0.7
  • 5-7 Km - 0.6
  • 7-9 Km - 0.5
  • 9-11 Km - 0.4
  • 11-13 Km - 0.3
  • 13-15 Km - 0.2
  • 15-17 Km - 0.1
Ini nilai tambahan yang ditambahkan pada NEM atau Hasil Ujian Nasional. Jika hasil ujiannya 23 dan dia tinggal di rumah berjarak 0-1 Km dari sekolah, maka nilai total yang dimiliki CCC  23.9

Skor total inilah yang dipakai untuk bersaing dengan skor anak-anak lainnya. Jadi, tidak otomatis diterima, tetap ada proses seleksi dan kompetisi.

Bagaimana jika ada anak (DDD) yang tinggal di rumah berjarak 20 Km dari sekolah yang sama SMP atau SMA YYY, dan Nilai Ujian Nasionalnya 24?  Apakah CCC yang akan diterima dan posisinya berada di atas DDD yang rumahnya lebih jauh?

Tidak. Karena meskipun diberi keunggulan 23 + 0.9 = 23.9, nilai akhir  CCC tetap berada di bawah DDD yang tidak diberi nilai tambahan.

Jadi, tidak benar sistem zonasi yang menyebabkan seorang anak tidak diterima. Yang menyebabkan seorang anak tidak diterima oleh sebuah sekolah adalah karena hasil NEM, atau Ujian Nasionalnya tidak bisa bersaing dengan yang lain, alias kalah.

Cetusan orangtua yang menyalahkan sistem zonasi karena anaknya gagal diterima di sekolah tujuan seharusnya dipandang sebagai BURUK MUKA CERMIN DIBELAH. Ketidakmampuan sang anak ditimpakan kepada sebuah sistem. Kegagalan orangtua untuk mempersiapkan anaknya bersaing dalam sebuah kompetisi dibebankan kepada sistem.

Sistem Zonasi PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru) Online adalah sistem yang tidak sempurna dan tidak akan pernah sempurna?

Pertanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini :

1. Apakah mungkin sebuah kebijakan menyenangkan semua orang?
2. Apakah mungkin ada sistem buatan manusia yang sempurna?
3. Apakah mungkin semua anak ditampung di sekolah negeri?

Ketiga pertanyaan itu cukup dijawab dengan satu kata TIDAK. Tidak pernah mungkin terjadi.

Manusia adalah makhluk penuh kekurangan, jadi sistem apapun yang dibuatnya juga akan penuh kekurangan dan masalah. Sebagai hasilnya, maka sistem itu tidak akan bisa memuaskan dan membahagiakan semua orang.

Jadi, tidak akan pernah ada sistem yang sempurna, termasuk sistem zonasi PPDN 2017-2018. Diperbaiki dan diutak-atik seperti apapun, sistem itu akan tetap ada kekurangannya. Tahun ini tidak sempurna, tahun depan juga akan tetap tidak sempurna.

Apalagi jika kata sempurna dikaitkan dengan memuaskan semua orang. Hal itu tidak mungkin terjadi sama sekali. Dengan penduduk ratusan juta jiwa, tidak mungkin membuat mereka merasa senang dan bahagia semuanya. Sebuah hal yang absurd dan tidak masuk akal untuk mencoba menghasilkan sistem yang bisa melakukan hal itu.

Terlebih lagi, jika pertanyaan ke-3 diulik lebih dalam. Berapa sekolah negeri yang tersedia di Indonesia? Di Kota Bogor saja hanya ada 10 SMA Negeri dengan daya tampung 2200 saja, sedangkan yang berlomba masuk ke SMA Negeri mencapai lebih hampir 6 ribu orang.



Sejak awal memang sudah pasti bahwa tidak semua anak akan diterima. Hanya sebagian kecil saja dan bagian terbesarnya harus mencari sekolah lain.

Dengan melihat angka ini, sudah bisa dipastikan sebagian besar anak dan orangtua akan gagal dan merasa kecewa. Dan, biasanya banyak dari yang gagal akan menyalahkan sistem yang tidak mendukung keinginan mereka. Sistem zonasi PPDB Online dibuat berdasarkan kenyataan lebih banyak orang yang kecewa dibandingkan yang gembira. Tahun depan pun bisa dipastikan akan terjadi hal yang sama lagi.

Sistem apapun yang dibangun akan menjadi tidak sempurna (menyenangkan semua orang) dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Sebuah sistem dibangun tidak pernah ditujukan untuk memuaskan semua orang, itu fakta tak terbantahkan.

Bagaimana Menyikapi Sistem Zonasi PPDB Online?

Sederhana saja.

Pandang sebagai sebuah kompetisi, perlombaan.

Dalam sebuah kompetisi, panitia akan menetapkan sistem dan aturan perlombaan dan menyediakan "hadiah" untuk yang menang.

Pemenangnya hanya sedikit karena itu ada juara 1, 2, 3 atau pemenang harapan 1,2,3,4,5 dan seterusnya. Tidak semua orang akan menang.

Dengan memandang sistem zonasi PPDB Online atau sistem apapun, kita akan terhindar dari banyak hal, seperti dicurangi dan tidak merasa didukung. Kita akan lebih sportif dan bijak dibandingkan berkata bahwa ada kecurangan ini itulah.

Sudut pandang seperti ini juga membangun mentalitas siap bersaing dalam kondisi apapun. Sistem PPDB membutuhkan perjuangan cukup lama, 6 tahun untuk anak SD, 3 tahun untuk anak SMP. Bukan sebentar. Orangtua harus membangun anaknya dengan berbagai cara agar mereka siap berkompetisi dan bersaing saat hendak masuk ke jenjang berikutnya.

Kegagalan sang anak dalam memanfaatkan sistem zonasi PPDB Online, sebenarnya adalah kegagalan orangtua juga. Mereka tidak berhasil mendidik sang anak untuk memiliki kemampuan yang cukup di Ujian Nasional dan juga salah menerapkan strategi pemilihan sekolah tujuan.

Bukan salah sistem.

Kegeramana orangtua yang mengatakan hal-hal yang buruk menyikapi kegagalan anaknya masuk sekolah tujuan, seharusnya dialamatkan kepada diri mereka sendiri.

Mereka gagal melihat bahwa anak-anak yang lain begitu maju , berkembang dan memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan anak mereka. Mereka terlalu tinggi memandang kemampuan diri anaknya seakan anak mereka yang paling pintar dan kegagalan karena mereka dicurangi.

Demo-demo pemaksaan agar anaknya diterima di sekolah tertentu adalah cara orang-orang yang tidak siap untuk bersaing.

Jika anak siap bersaing, maka sistem apapun yang dipergunakan, dirubah sedemikian rupa tidak akan mengurangi kemampuannya untuk menjadi pemenang. Tetapi, jika mereka tidak memiliki kesiapan bersaing, sistem semudah apapun, maka ia tidak akan pernah siap untuk berkompetisi.

Sistem zonasi PPDB Online tidak sempurna, jelas itu. Sistem ini juga tidak akan pernah sempurna di masa yang akan datang. Jangan pernah berharap kesempurnaan karena tidak mungkin terjadi.

Yang bisa dilakukan adalah tetap berjuang bersama anak dan mempersiapkan mereka untuk mampu bertarung dan berkompetisi dalam kondisi apapun. Bukan merengek dan menjatuhkan kesalahan kepada orang lain.

Apakah saya pernah mengalaminya? Yah, begitulah. Tidak tahun ini, karena kebetulan si kribo kecil berhasil diterima di SMA Negeri, meskipun bukan SMA Negeri Favorit, tetapi ia berhasil di PPDB Online dengan sistem penzonaan kali ini.

Tiga tahun yang lalu, saat ia hendak masuk SMP, ia termasuk barisan yang gagal. Nilai NEM atau Hasil Ujian Nasionalnya kalah bersaing dan ia harus melupakan impiannya sejenak diterima di sekolah negeri.

Ia pernah gagal, tetapi kali ini berhasil.

Sesuatu yang membuat saya bangga dan bahagia. Bukan karena berhasil mengatasi sistem zonasi PPDB Online, tetapi karena ia bangkit dari kegagalan dan berjuang mencapai apa yang ia mau. Kemauan untuk terus belajar dan berjuang meski pernah tertimpa kegagalan.

Sebuah hal yang sangat mahal dan jelas akan berguna bagi dirinya di masa depan.

Buat kami, sistem zonasi atau sistem apapun bukanlah sebuah masalah. Si kribo mungkin akan gagal lagi, tetapi dengan pengalaman sebelumnya, saya yakin ia akan bangkit lagi dan berjuang lagi. Itu yang lebih penting.

Yang pasti, saya tidak akan menyalahkan sistem yang dipakai. Pepatah BURUK MUKA CERMIN DIBELAH selalu mengandung arti buruk dan tidak selayaknya dilakukan dalam kehidupan.


Artikel Terkait


EmoticonEmoticon