Tidak Diterima di Sekolah Negeri Favorit Bukan Akhir Dari Segalanya


Banyak orangtua merasa resah di akhir tahun ajaran, terutama mereka yang anaknya duduk di bangku kelas 6, 9 (3 SMP), atau 12 (3 SMA). Mereka sangat cemas dan tidak sabar menanti untuk mengetahui bagaimana hasil dari Ujian Akhir yang dijalani oleh anaknya.

Hal ini biasanya berkaitan dengan keinginan agar anaknya bisa diterima di sekolah negeri favorit atau sekolah ternama lainnya. Hasil ujian akhir yang bagus akan membuat senang karena peluang anak mereka bisa masuk ke sekolah favorit menjadi lebih besar. Ni;ai rendah seperti membuat banyak orangtua menjadi sangat kecewa dan keresahan mereka bertambah.

Diterima bersekolah di sebuah SMP atau SMA Negeri, terutama yang terkenal sebagai sekolah favorit adalah impian banyak orangtua. Bukan karena berarti mereka terbebas dari SPP (Sumbangan Pembangunan Pendidikan) yang rendah, tetapi lebih dikarenakan tiga hal berikut :

1. Banyak orangtua menganggap dengan menyekolahkan anaknya di sekolah negeri favorit akan menjamin bahwa pada saat lulus mereka memiliki kesempatan lebih baik untuk melanjutkan ke sekolah favorit di jenjang pendidikan berikutnya
2. Bersekolah di sekolah favorit juga menjamin bahwa masa depan sang anak juga akan lebih baik dibandingkan mereka yang bersekolah di sekolah non favorit
3. Faktor gengsi, karena berada di sebuah sekolah yang passing gradenya tinggi berarti hanya murid-murid yang pintar saja bisa bersekolah disana. Dengan bergabung di dalamnya, maka gengsi orangtua di mata masyarakat akan menjadi lebih tinggi dibandingkan yang bersekolah di tempat yang non favorit

Oleh karena itulah, maka banyak orangtua yang tidak akan segan melakukan segala cara untuk bisa membuat anaknya diterima di sekolah negeri favorit. Tidak sedikit yang bersedia melakukannya dengan cara curang dan melalui jalur yang tidak semestinya seperti menyogok yang besarnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Tetapi, benarkah jika diterima di sekolah favorit berarti masa depan terjamin dan sebaliknya jika tidak diterima berarti masa depan sudah pasti suram?

Kenyataannya tidak demikian.

Sejarah mencatat banyak nama-nama yang berhasil meraih kesuksesan berasal dari sekolah-sekolah yang namanya bahkan tidak pernah terdengar. Begitu juga, tidak sedikit orang yang berasal dari sekolah yang dikenal sebagai sekolah favorit gagal dalam kehidupannya.

Semua tetap memiliki peluang yang sama untuk meraih kesuksesan yang mereka impikan.

Kesuksesan bukan tergantung nilai akademis

Apakah seorang pencipta lagu menjadi tenar karena nilai-nilai akademis yang diraihnya di sekolah favorit? Tidak mereka menjadi terkenal karena daya kreasi berhasil menggugah orang dalam bentuk lagu. Masyarakat juga tidak peduli gelar apa yang disandangnya dan juga dari sekolah mana ia berasal, yang terpenting adalah lagu-lagunya enak didengar.

Seorang pengusaha sukses tidak akan ditanya ijazahnya berasal dari unievrsitas atau akademi mana. Orang sudah melihat hasil kerja kerasnya dalam bentuk perusahaan-perusahaan atau bisnis-bisnis yang dimilikinya. Tidak ada yang akan ambil pusing bahwa mungkin ia tidak lulus Sekolah Dasar sekalipun.

Orang-orang sukses biasanya karena mereka berhasil mengembangkan diri, kreatifitas dan mau bekerja keras untuk mencapainya.

Bill Gates, Pete Cashmore, dan Bob Sadino adalah sedikit nama dari mereka yang berhasil mencapai tangga kesuksesan tanpa mengandalkan ijazah dari sekolah ternama.

Bill Gates menjadi orang terkaya di dunia dengan Microsoftnya. Pernahkah disadari bahwa ia bahkan tidak pernah menamatkan kuliahnya. Pete Cashmore, pendiri Mashable, sebuah blog terkenal dengan berita teknologi dan entertainmentnya meraup ratusan ribu dollar padahal ia terpaksa tidak bisa bersekolah dengan normal karena fisiknya yang lemah. Bob Sadino, pengusaha sukses, entah dia sekolah dimana tetapi ia memiliki jaringan departemen store ternama Kemchicks.

Bukan karena mereka bersekolah di sekolah favorit.

Bersekolah di sekolah favorit bukan berarti sudah pasti orang pintar

Kata pintar atau pandai selalu dikaitkan dengan nilai akademis. Tidak salah seratus persen, tetapi tidak juga benar 100%.

Bakat dan minat orang tidak sama. Ada orang yang tidak pandai mengerjakan tugas matematika dengan baik, tetapi mampu bermain alat musik dan menghasilkan musik yang sangat indah. Banyak yang tidak bisa menghafal istilah-istilah biologi, tetapi bisa dengan baik menciptakan desain dengan komputer.

Tidak ada standar orang pintar atau bodoh karena pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan dan kepandaian yang berbeda. Melakukan generalisasi adalah sesuatu hal yang absurd.

Seseorang bisa pandai dan pintar dalam satu hal dan bodoh pada hal lainnya pada saat bersamaan.

Menjadi anggota dari sebuah sekolah negeri favorit tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah orang pintar. Apalagi, banyak anak diterima di sekolah ternama tidak melalui sistem yang seharusnya, yaitu dengan cara memanfaatkan kedekatan atau kenalan dan menyogok untuk bisa diterima.

Gengsi dan status

Apakah status orangtua terangkat dan lebih tinggi dari warga masyarakat yang lainnya ketika anaknya bersekolah di sebuah sekolah negeri ternama? Tidak ada kaitannya sama sekali.

Orang akan dilihat dan dipandang masyarakat bukan karena anaknya dianggap orang pandai. Orang akan dilihat ketika ia mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakat di sekitarnya, tingkah lakunya, dan hal-hal positif yang dilakukannya.

TIDAK.

Sama sekali tidak ada kaitan antara masa depan dengan dimana seorang anak bersekolah.

Terutama di masa sekarang dimana kompetisi demikian ketat dan keras. Banyak perusahaan penyedia lapangan kerja akan menilai calon karyawannya bukan sekedar hanya melihat ijazah dan nilai yang tertulis di dalamnya. Banyak perusahaan juga mempertimbangkan karakter dari calon orang yang akan dipekerjakannya.

Mampukah mereka bekerja? Maukah mereka belajar? Maukah mereka beradaptasi? Itu beberapa hal yang selalu menjadi bahan pertimbangan bagian HRD (Human Resource Development) ketika menyaring pelamar.

Tidak berarti bahwa para orangtua tidak perlu mendorong anaknya untuk mencoba diterima di sekolah negeri favorit. Dorongan itu perlu agar anak juga tahu rasanya berkompetisi dalam dunia nyata. Meskipun demikian, menjadi resah, kecewa, dan memiliki anggapan bahwa masa depan anaknya akan suram jika tidak diterima di sekolah negeri favorit atau ternama adalah sebuah hal yang berlebihan.

Tidak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Selama orangtua bisa mendorong anaknya untuk terus berkembang, terus belajar, terus mengasah kreatifitasnya, peluang itu terbuka lebar sama dengan mereka yang diterima di sekolah favorit itu. Tidak kurang sama sekali.

Yang berbeda hanya jalannya saja yang memang merupakan kodrat setiap manusia. Mereka memiliki jalannya masing-masing.

Artikel Terkait

2 comments

3 point :
1.orang tdk akan memandang siapa kita...tpi memandang apa yang kita lakukan.

2.sekolah pavorit sekedar motivasi....bukan tujuan.


3.sekolah adalah tempat berlatih ilmu

Teorinya begitu kenyataannya tidak demikian... Pagi ini saya melihat ada orang mencari cara menyogok sekolah negeri menunjukkan bahwa masih banyak yang ingin masuk sekolah negeri .. bahkan dengan cara apapun


EmoticonEmoticon