Memaksa Anak Mengikuti Pilihan Orangtua (Dalam Hal Sekolah)


Belum lama ini, seorang tetangga menyekolahkan anaknya ke Jerman untuk mempelajari sebuah bidan studi tertentu. Sang ayah adalah lulusan Institut Teknologi Bandung (entah tahun berapa) dan anaknya sebenarnya sudah lulus STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara).

Bagus tentunya. Memang sangat bagus untuk kemajuan sang anak. Paling tidak begitulah mungkin yang dipikirkan oleh sang ayah.

Tetapi, secara tidak sengaja sang anak berkeluh kesah bahwa ia sebenarnya tidak menginginkan untuk bersekolah di luar negeri. Ia lebih suka belajar di dalam negeri. Sayangnya, sang ayah berpendapat lain bahwa ia harus tetap mendapatkan gelar dari universitas di luar negeri dan bukan sekolah di dalam negeri.

Pasti akan ada yang mendukung tindakan sang ayah. Sudah pasti. Pandangan bahwa orangtua selalu tahu yang terbaik untuk anaknya masih sangat kental terasa dalam masyarakat Indonesia. Lebih jauh lagi, bersekolah di luar negeri tentunya dianggap lebih bergengsi dibandingkan dengan sekolah dalam negeri, paling tidak masih banyak orang yang berpandangan seperti itu. Iya kan?

Betulkah demikian?

Entahlah. Semua itu akan masih membutuhkan pembuktian yang tidak akan terjadi pada saat ini. Keberhasilan seseorang tidak akan bisa diukur dalam waktu yang sempit. Butuh waktu lumayan panjang untuk melihat hasilnya.

Dan, yang pasti, sejarah sebenarnya sudah menyediakan bukti banyak bahwa keberhasilan dan kesuksesan seseorang tidak selalu tergantung pada pendidikan yang dikenyamnya. Keberhasilan merupakan perpaduan banyak hal selain pendidikan dan nilai akademis. Tidak jarang sejarah mengatakan bahwa tanpa gelar sekalipun seseorang bisa sukses dalam kehidupannya.

Mau contoh? Cobalah lihat Bill Gates dan Bob Sadino. Cobalah cari apa gelar mereka.

Dari sinilah pula, saya berpandangan bahwa apa yang dilakukan sang tetangga lulusan ITB itu bahwa ia sebenarnya menyekolahkan anaknya ke Jerman sebagai langkah pemuasan egonya saja. Ia tidak benar-benar berpikir tentang masa depan anaknya.

Mungkin ia berpandangan bahwa dengan menyekolahkan anaknya di luar negeri ia akan dipandang oleh masyarakat sebagai orang yang peduli kepada pendidikan. Bisa jadi ia ingin keluarganya dipandang sebagai keluarga yang hebat dalam hal akademis. Atau bisa jadi, ia benar-benar beranggapan bahwa anaknya akan bisa menjadi orang sukses setelah lulus dari sekolah di Jerman.

Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti.

Hanya satu yang pasti bahwa anaknya merasa tertekan dengan pemaksaan yang dilakukan ayahnya sendiri. Tentu saja orangtua sebagai wali yang bertanggungjawab terhadap keluarganya memiliki hak tertentu hingga batas tertentu terhadap anak mereka. Tetapi, haruskah pemaksaan dilakukan terhadap anak yang tentunya sudah dianggap dewasa itu (sudah kuliah di STAN dan berarti sudah berusia di atas 20 tahun) termasuk wajar?

Terus terang, jika sang anak masih berusia di bawah 17 tahun, hal tersebut mungkin bisa dimaklumi. Anak berusia di bawah 17 tahun masih labil dan perlu banyak bimbingan untuk menemukan jalannya (walau bukan juga pemaksaan). Hanya saja, seorang anak berusia 20-21 tahun sudahlah harus dianggap dewasa dan bisa memutuskan jalannya sendiri.

Sebagai manusia tentunya ia sudah tahu mana yang terbaik untuk dirinya dan kehidupannya. Orangtuanya tidak lagi seharusnya menentukan segala sesuatunya dan harus bertindak sebagai kawan dibandingkan atasan.

Ternyata pemikiran pola lama bahwa anak adalah milik orangtua masih bercokol di banyak otak orangtua. Tidak peduli apakah sang orangtua berpendidikan tinggi atau tidak.

Sesuatu yang sangat disayangkan.

Bagaimanapun sayangnya kita terhadap anak, sebagai orangtua seharusnya kita menyadari satu hal yang pasti. Anak bukanlah milik kita, ia adalah milik dirinya sendiri. Kehidupan yang dijalaninya adalah miliknya dan bukan milik orangtuanya.

Dibandingkan orangtua, ia lebih berhak menentukan nasibnya sendiri. Ia berhak menentukan yang terbaik bagi kehidupannya. Orangtua hanya berhak memberikan masukan dan saran, tetapi bukan menentukan.

Bahkan dalam hal yang terdengar baik, seperti bersekolah, anak tetap merupakan pemilik hak tersebut. Yang mana yang diinginkannya bukan wilayah orangtua untuk menentukan.

Anak tidak selamanya sama minat dan keinginannya dengan orangtuanya. Jika seorang ayah ahli mesin, tidak berarti sang anak harus juga menyukai bidang yang sama. Ia memiliki hak untuk menjadi pedagang, penulis, pemusik dan hal lain yang diminatinya.

Dan, orangtua hanya harus mendukung apa yang dirasa terbaik oleh anaknya, selama bukan sesuatu yang buruk. Toh, kesuksesan bukan hanya diukur dari gelar apa dan nama sekolah dimana seseorang belajar.

Kesuksesan orangtua adalah ketika anaknya bisa berdiri sendiri dan menikmati kehidupannya dengan bahagia. Setidaknya itulah ukuran kesuksesan sebagai orangtua versi saya.




Artikel Terkait

1 comments so far

ortu lebih pada mengarahkan dan memotivasi...keputusan final ada pd anak itu sendiri.

sekolah bergengsi bukan tujuan....ilmu yg bermanfaat buat orang bnyk adalah tujuan akhir
.


EmoticonEmoticon