Gaji Anak Dipegang dan Diatur Orangtua


Garuk-garuk kepala dulu! Bukan karena banyak ketombe, karena saya keramas hampir setiap hari dengan shampoo-nya berbintang Agnes Monica dan bukan Anggun C Sasmi. Kepala saya terasa gatal karena baru-baru ini ada celetukan dari tetangga tentang satu hal yang berkaitan dengan gaji anak.

Intinya, ia mengatakan kalau nanti anaknya (laki-laki) sudah bekerja, gajinya akan si ibu minta, pegang dan atur. Alasannya demi kebaikan anaknya supaya nanti bisa membeli rumah, kendaraan, inilah, itulah, dan juga agar si anak tidak dimanfaatkan oleh pacarnya atau calon istrinya.

Sudah mulai merasa ikut pusing?

Saya sudah.

Mungkin karena pandangan kami, istri dan saya, orangtua dari seorang ABG laki-laki yang masih di bangku kelas 9 atau 3 SMP, memiliki pandangan yang berbeda 180 derajat. Bagi kami, pandangan ikut serta mengatur gaji anak sendiri adalah sesuatu yang abnormal dan bahkan anomali dari keumuman.

Bagaimanapun, tugas orangtua adalah mengantarkan anaknya hingga tahap dimana ia mampu berdiri. Survive dalam kehidupannya. Hal ini terkait dengan kenyataan, suatu waktu orangtua akan meninggalkannya atau ia harus mendirikan rumahtangganya sendiri.

Berbagai hal coba diajarkan kepada sang anak agar ketika saatnya tiba.

Itu tugas utama orangtua.

Mengatur keuangan termasuk diantaranya. Seorang ana harus diajarkan untuk mengatur pendapatan dan pengeluaran karena sudah pasti ia harus melakukannya di masa yang akan datang. Dimulai dari pemberian uang saku di saat masih SD sekedar untuk jajan. Kemudian ditingkatkan dengan jajan mingguan saat SMP, bulanan saat SMA atau kuliah.

Perlahan tapi pasti, ada titik dimana semua pengaturan masalah uang terkait si anak akan dilepaskan kepadanya.

Tujuannya agar di saat mereka sudah mendapatkan penghasilan sendiri, ia akan mampu mengatur arus keluar masuk uang bagi kehidupannya sendiri.Apalagi ketika ia sudah memiliki pasangan hidupnya, pada saat itulah orangtua bisa melepaskan tanggung jawabnya dalam membimbing anak-anak mereka.

Apa yang terjadi ketika orangtua memutuskan untuk mengontrol uang sang anak? Bahkan, setelah usia mereka memasuki usia dimana seharusnya ia sudah berdiri sendiri? Sudah memiliki gaji biasanya karena seseorang sudah berusia dewasa (menurut hukum) dan tentunya sudah cukup umur untuk menentukan diri sendiri.

Sampai kapan seorang anak harus "terpaksa" atau "dipaksa" menggantungkan diri pada orangtuanya? Kapan mereka akan bisa menentukan nasib dan jalan hidupnya sendiri? Bukankah mereka berhak menentukannya sendiri?

Itulah yang membuat kepala saya terasa gatal, walau tidak ada ketombenya.

Terutama mendengar alasan berikutnya, supaya ia tidak dimanfaatkan pacar atau calon istrinya. Lha, bukankah disitu ujian dan tantangannya bagi si anak.

  1. Mampukah ia mengendalikan dan mengontrol pengeluaran?
  2. Mampukah ia mengendalikan dan mengontrol hubungan mereka?
  3. Mampukah ia menilai seperti apa calon pasangan hidupnya itu kelak?
  4. Mampukah .....
Mengendalikan dan mengontrol gaji anak, akan membuatnya tidak akan mengalami proses seperti ini. Ia akan gagap ketika situasi seperti ini hadir dalam hidupnya kelak. Tidak ada kemampuan untuk memecahkan masalah terkait hal ini karena orangtuanya membiasakan dirinya untuk tergantung pada ibunya.

Kemungkinan ia menjadi anak mamih yang terus berlindung di balik ketiak ibunya akan semakin besar.

Padahal, setelah menikah, seorang anak tidak diharapkan untuk terus begitu. Pada saat itu ia dan pasangannya tentunya diharapkan sudah mampu berdiri sendiri dan memecahkan segala masalah rumahtangga berdua tanpa campur tangan dari orangtua.

Saya tak tahu apakah si tetangga itu juga berpikiran untuk tetap mengatur gaji sang anak setelah sang anak menikah. Tidak tertutup kemungkinan itu, apalagi ia adalah ibu dari seorang cowok yang kepala keluarga.

Jika itu terjadi, maka saya hanya bisa mengelus dada dan mengatakan "Sial banget nasib si cewek yang jadi istri sang anak. Nasibmu buruk sekali" atau "Untung anakku juga cowok, jadi tidak akan bisa menikah dengan anak tetanggaku itu".

Sesuatu yang patut disyukuri.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon