Anak Mencontoh Orangtua Adalah Sebuah Kewajaran - Ketika Anak Perempuan Mulai Berdandan


"Mas, si Bu BBB bercerita dia sedang bingung dan pusing tentang anak perempuannya si CCC. Ia sering membeli berbagai perangkat kosmetik dan bahkan mulai berani melakukan rias wajah dan pergi ke salon", begitu cerita istri beberapa waktu lalu.

Tersenyum mendengarnya karena saya tahu pasti bahwa si ibu BBB adalah seorang pesolek juga. Kebetulan karena ia bekerja dan sering menemui klien, maka tentunya ia harus menjaga penampilan agar tetap meyakinkan di kala melakukan negosiasi.

Sebenarnya tidak heran kalau si CCC sudah mulai gemar bersolek meskipun usianya baru kelas 1 SMA. Bagaimanapun, kodrat seorang wanita adalah ingin tampil cantik. Kebiasaan itu sudah ada sejak zaman purba.

Berbagai artefak peninggalan bersejarah menunjukkan kebiasaan wanita bersoleh sudah ada bahkan beberapa abad sebelum masehi.

Tujuan akhirnya sederhana untuk mengundang ketertarikan lawan jenisnya.

Sebuah hal yang normal sebenarnya.

Walaupun begitu, cukup dimengerti pula kekhawatiran ibu BBB melihat sikap putrinya. Di sebuah zaman dimana predator anak dan kejahatan yang mengincar wanita begitu marak, sesuatu yang sebenarnya normal bisa disalahtafsirkan sebagai mengundang kejahatan.

Itu juga sesuatu yang wajar. Tidak ada orangtua yang akan rela anaknya menjadi sasaran para hidung belang. Mereka sebisa mungkin akan melindunginya sampai saatnya untuk mengantarkannya ke pelaminan tiba. Oleh karena itu, ketika sang anak mulai berdandan pada usia yang masih belia, wajar saja kalau hal itu akan membuat orangtuanya khawatir.

Anak Mencontoh orangtua

Tidak ada asap kalau tidak ada api. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab.


Mengapa si CCC yang usianya masih agak jauh dari usia dimana kebanyakan wanita mulai memoleskan bedak, lipstick dan kosmetik lainnya kok mulai berdandan? Pasti ada sebabnya.

Kalau sedikit dipikir ulang, siswi kelas 1 SMA sebenarnya belum dituntut untuk berdandan. Banyak sekolah yang pada saat itu masih menganggap siswa yang berdandan sebagai tidak seharusnya dan tidak jarang melarang siswa wanita untuk sekedar menggunakan lipstick. Sekolah biasanya mentolerir siswi menggunakan bedak atau lipgloss yangtidak menor atau mencolok.

Lalu, mengapa s CCC seperti sudah melampaui kewajaran pada usianya?

Akan ada banyak teori yang dikemukakan. Tetapi, saya akan mengatakan "Lihat orangtuanya!".

Mengapa?

Anak pada usia si CCC masih dalam tahap "belajar" dan keingintahuannya sangat tinggi. Oleh karena itu ia akan mencoba segaal sesuatu yang menurutnya menarik. Nah, biasanya figur yang dijadikannya role model adalah orangtuanya sendiri.

Sudah pasti. Orangtua bagi seorang anak akan selalu menjadi panutan utama. Bahkan, meski banyak juga pelajaran yang diserap mereka dari masyarakat, tetapi pembentukan karakter dan jiwa seorang anak akan didominasi oleh pengaruh dari orangtuanya sendiri.

Jika, sang orangtua terbiasa terus bermain dengan smartphone, tidak akan heran kalau anaknya juga menjadi tergila-gila pada smartphone. Mereka menganggap kalau orangtua mereka boleh melakukan, mereka pun juga boleh melakukan hal tersebut.

Tidak beda dalam kasus berdandan. Seorang anak wanita akan menjadikan ibunya sendiri sebagai rujukan atau panutan bagi tingkah lakunya. Ibu BBB yang selalu tampil modis dan berdandan secara tidak sadar juga memberikan pengaruh kepada anaknya. Dengan melakukan ini tanpa memberikan pengertian, hal itu seperti memberikan contoh "Begini lo seharusnya jadi wanita".

Jadi, jika si CCC yang masih belia berdandan, kemungkinan besar karena panutannya, ibunya sendiri melakukan hal itu. Ia menganggap hal itu jalan terbaik untuk menjadi seorang wanita.

Anak akan mencontoh orangtuanya. Pepatah "buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya" bukanlah tanpa dasar. Hal itu mencerminkan bahwa anak akan cenderung mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya.

Si ibu BBB, tidak seharusnya bingung, jika ia mau melihat kepada dirinya sendiri. Kebiasaannya berdandan dan berpakaian modis, tentunya dilakukan di lingkungan rumah dimana sang anak bisa melihat dan menilai sendiri.

Bukan sebuah masalah besar, tetapi kekhawatiran seperti yang sudah disebutkan di atas juga bukan tanpa dasar. Berdandan di luar kewajaran di usianya bisa mengundang kejahatan dan juga cibiran dari masyarakat, yang tentunya tidak dikehendaki oleh orangtuanya.

Pemecahannya sebenarnya sulit atau sekaligus tidak sulit.

Tidak sulit karena caranya adalah dengan berbicara dan berkomunikasi dengan si anak.

Sang ibu dan ayah harus bisa meyakinkan kepada anaknya bahwa pada usianya hal tersebut belumlah pantas untuk dilakukan. Sang anak pasti akan menentang karena sang ibu selalu melakukannya. Tetapi, sang ibu tentunya bisa menerangkan bahwa tujuan ia berdandan tidaklah sekedar menarik lawan jenis atau tampil cantik, tetapi dikarenakan kebutuhan pekerjaan.

Sulit karena meyakinkan sang anak untuk tidak melakukan sesuatu yang dianggapnya baik untuk dirinya dan ia akan merasa tidak diperlakukan dengan adil. Mengapa sang ibu boleh dan mengapa ia tidak boleh.

Sebuah masalah yang akan selalu dihadapi orangtua.


Anak mulai berdandan bukan sebuah masalah besar, bahkan sebuah kewajaran, tetapi terkadang bisa menjadi besar jika tidak diantisipasi oleh para orangtua. Bisa menjadi lebih besar lagi, kalau orangtua tidak menyadari bahwa kesemua itu adalah akibat dirinya sendiri yang tidak memperhatikan efek dari apa yang diperbuat terhadap anak-anaknya.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon