Ayah Melihat Ibu Sedang Memarahi Anak, Sebaiknya Diam atau Pergi

Sering kasihan juga melihat seorang ibu sedang memarahi anak. Bukan kasihan kepada ibunya, tetapi kepada sang anak yang sedang dinarahi.

Tidak jarang mereka menunduk sambil berurai airmata dan sesenggukan mendengar omelan ibunya, yang seperti senapan mesin tidak berhenti. Situasinya mirip seperti kelinci terjebak di depan harimau yang sedang lapar.

Tak berkutik dan hanya bisa pasrah.

Pemandangan yang memilukan. Betul sekali, memilukan.

Biasanya saya pilih "ngeloyor" pergi kalau istri sedang memarahi anak semata wayang kami.

Lho, kok ngeloyor pergi bukannya menghentikan amarah sang bunda? Mana peran sebagai ayah dan pemimpin keluarga.

Itu jalan yang akan saya selalu pilih kalau melihat sang mantan pacar memarahi buah hatinya. Bukan karena saya tidak sayang anak, tetapi ada banyak hal lain yang membiarkan hal tersebut terjadi.

Peran pengasuhan dan rasa hormat

Walaupun keluarga yang kami bangun lebih berdasarkan prinsip kerjasama tim, dimana semua pihak harus ikut berperan, tetapi karena sebagai kepala keluarga saya lebih banyak di luar mencari nafkah, peran pengasuhan diberikan lebih banyak pada bundanya anak-anak.

Kondisi dan pembagian peran seperti itu, membuat saya harus menghormati hak yang hadir bersama dengan peran tersebut.

Salah satu haknya adalab untuk menentukan langkah terbaik untuk kebaikan si anak. Kalau ia memutuskan untuk memarahi anaknya, maka sebagai kepala keluarga, saya harus menerima keputusannya.

Begitu pun sebaliknya. Kalau saya memutuskan untuk memarahi si anak, maka sang ibu pun harus menerima keputusan tersebut.

Tindakan ini untuk menanamkan rasa hormat sang anak terhadap ibunya.

Sebuah contoh yang buruk kalau seorang ayah menyela di saat sang ibu sedang memarahi anak. Bila itu dilakukan akan memberi sinyal yang salah kepada si anak bahwa kalau mendapat dukungan dari sang ayah, maka tidak perlu khawatir tentang ibunya.

Dampak buruknya bisa berupa turunnya rasa hormat dari sang anak kepada ibunya sendiri.

Anak harus belajar ada konsekuensi dari segala tindakan

Seorang ibu yang memarahi anaknya, biasanya karena ia menemukan kesalahan yang dilakukan sang anak. Untuk itu, marah adalah salah satu cara untuk menegur atau memperingatkan sang anak akan kesalahannya.

Dimarahi itu sudah pasti tidak menyenangkan. Sang anak pasti akan merasakan hal itu. Tetapi, tujuan dari marah adalah memang untuk membiasakan sang anak pada kenyataan, bahwa kesalahan biasanya berujung pada sesuatu yang tidak menyenangkan.

Apabila seorang ayah menyela dan membela sang anak saat ibu sedang memarahinya, maka ia sebenarnya membiarkan sebuah pemikiran tertanam bahwa tidak ada konsekuensi dari kesalahannya.

Kalau hal ini berulang, maka ia akan terus melakukan kesalahan yang sama . Ia akan terbiasa berpikir bahwa ada ayahnya yang akan membela dan melindunginya dari konsekuensi yang rasanya tidak enak itu.

Seorang ibu juga sayang anaknya

Bukan cuma ayah yang sayang anak. Ibu juga pasti menyayanginya. Apalagi sang anak itu dikandungnya selama 9 bulan dan diasuhnya setiap hari.

Lalu, mengapa harus seorang ayah berpikir lain? Mengapa harus tidak percaya bahwa ibu memarahi anaknya adalah bertujuan baik?

Tidak perlu.

Percayakan pada orang yang juga Anda sayangi itu.

Pikiran seperti itulah yang membuat saya memilih untuk meninggalkan tempat. Saya menyadari kalau sebagai ayah saya menyela atau membela justru bisa membawa keburukan di kemudian hari.

Kalaupun harus ada yang dikoreksi dan didiskusikan dengan sang mantan pacar, maka saya akan melakukannya nanti. Yang pasti tidak di hadapan sang anak.

Bagaimana dengan Anda?

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon