Bagaimana Membagi Tugas Antara Suami Dan Istri Yang Baik ?

Bagaimana membagi tugas antara suami dan istri?  Pertanyaan yang akan selalu dihadapi oleh sepasang manusia ketika mereka memutuskan untuk menikah dan hidup bersama. Sebuah pertanyaan kecil, tetapi sangat krusial yang bisa menentukan arah sebuah rumah tangga.

Pertanyaan yang sama juga sering menyebabkan gejolak yang tak kunjung henti dan bisa menimbulkan keretakan hubungan antara suami dan istri. Hal itu bisa terjadi jika pertanyaan itu tidak bisa terjawab dengan baik.

Mengapa perlu membagi tugas antara suami dan istri?


Sebuah rumah tangga adalah sebuah tim. Sebuah tim yang lahir dari keinginan dua orang untuk mencapai kebahagiaan bersama. 
Dalam sebuah tim tentu saja perlu ada pembagian tugas dan fungsi dari setiap orang yang terlibat didalamnya. Tanpa itu, tidak mungkin tim tersebut bisa berjalan dengan baik. Fungsi dan tugas yang tidak dibagi dapat menyebabkan rumah tangga kehilangan arah dan bisa gagal mencapai tujuan.

Bayangkan saja kalau suami dan istri memiliki tugas dan fungsi yang sama, misalkan keduanya berfungsi mencari uang saja, lalu siapa yang akan mengurus rumah dan anak. 

Itulah mengapa pembagian tugas antara suami dan istri perlu ada, tujuannya dengan maksud agar roda rumah tangga bisa berjalan dengan mulus.

Bagaimana membagi tugas antara suami dan istri yang baik?

Pasti akan banyak perdebatan dalam hal ini. Bisa sangat panjang karena masing-masing akan membawa nilai ideal mereka yang didasarkan pada apa yang mereka yakini sebagai "terbaik" dan "benar".

Kalau di Indonesia, yang masih kental sekali budaya Timur dan agama Islam, mayoritas masih menganut paham bahwa wanita tugasnya di "rumah" saja. Maksudnya, tugas wanita adalah mengurus rumah, suami, dan anak. Sementara tugas "luar" seperti mencari nafkah adalah urusan kaum pria atau suami.

Benarkah ini merupakan pembagian tugas suami dan istri yang terbaik?

Jawabnya tidak selalu. 

Zaman berubah. 

Tuntutan kebutuhan hidup terkadang melebihi apa yang mampu dihasilkan oleh seorang laki-laki atau suami. Keinginan untuk hidup sejahtera, yang pasti dimiliki oleh semua rumah tangga, seringkali sulit digapai kalau hanya mengandalkan kerja keras suami. Keinginan wanita untuk berperan serta secara aktif di luar urusan rumah pun terus membesar seiring berkembangnya pemikiran tentang emansipasi wanita.

Hal-hal seperti ini sangat mempengaruhi pola pembagian tugas antara suami dan istri. Baik secara sengaja atau dipaksa keadaan, pola peran dan fungsi suami dan istri dewasa ini sudah berubah dan akan terus mengalami perubahan.

Sifatnya dinamis.

Lalu, bagaimana cara membagi tugas yang baik antara suami dan istri dengan situasi demikian?

Jawabnya hanya satu, KOMPROMI!

Pasangan suami istri adalah sebuah tim. Tim tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa adanya kemauan dari kedua belah pihak untuk berkomunikasi dan coba mengerti apa yang dimau oleh pasangannya.

Begitu juga dalam hal pembagian tugas. Komunikasikan apa yang dimaui dan dengarkan apa yang pasangan Anda kehendaki. Akan ada benturan karena masing-masing akan membawa ego, tetapi dengan landasan rasa saling sayang dan tujuan mencari kebahagiaan bersama, masalah itu bisa , dan harus bisa, dikompromikan dan dicarikan jalan keluar.

Hasil kompromi itulah yang menjadi landasan untuk menggerakkan pasangan tersebut ke arah yang sama. Apa yang diputuskan keduanya haruslah membawa kebahagiaan bagi keduanya, karena bukankah menikah itu memang bertujuan mencari kebahagiaan bersama? Kalau ada salah satu pihak yang tidak bahagia karena itu, maka sudah seharusnya didiskusikan kembali.

Hasil kompromi mungkin tidak akan sejalan dengan kebiasaan atau tradisi yang ada di masyarakat umum. Misalkan, kalau keputusan itu membuat seorang suami justru tinggal di rumah, sementara sang istri bekerja, tentu akan ada reaksi dan pandangan dari orang lain. 

Seharusnya bukanlah sebuah masalah dan tidak perlu terlalu diambil hati. Orang lain, tetangga biasanya hanya bisa melihat dari sisi yang mereka mau, mereka tidak mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tangga yang lain. Lagi pula, bukankah kita mengikat janji untuk mencapai kebahagiaan bersama dengan istri dan suami, dan bukan tetangga.

Kalau memang hasil komprominya tetap sang istri di rumah dan suami yang mencari nafkah, itupun juga bukan masalah. Selama kedua pihak merasa senang dan nyaman dengan keputusan itu.

Jadi, menjawab pertanyaan "Bagaimana membagi tugas antara suami dan istri yang baik?", saya tidak bisa memberikan detail atau tips dan trik. Saya hanya bisa memberikan saran diskusi, komunikasikan, dan kompromikan antara Anda dan pasangan.

Anda berdualah yang tahu yang terbaik untuk rumah tangga yang Anda jalani. Bukan tetangga. Bukan saudara. Apalagi saya.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon