Fenomena Pengendara di Bawah Umur Harus Dihentikan

Kalau membaca berita di Detik, sepertinya masalah pengendara di bawah umur sedang menjadi salah satu hot topik. Beberapa tulisan dikeluarkan dalam waktu yang hampir bersamaan.

Banyak tokoh urun saran mengenai fenomena yang semakin lama, semakin tidak terkontrol ini.

Kalau boleh dibilang, topik ini sebenarnya sudah basi. Bukan sesuatu yang luar biasa karena sudah berjalan bertahun-tahun tanpa ada penyelesaian atau usaha yang berarti untuk menyetop laju penambahan jumlah pengendara di bawah umur.

Baru ketika berita tentang Bupati Purwakarta yang mengambil langkah tegas, melarang siswa-siswa di wilayahnya membawa kendaraan pribadi ke sekolah, fenomena ini kembali dibicarakan.

Entah untuk berapa lama akan bertahan, sama situasinya seperti ketika si Dul, anak musikus kontroversial Ahmad Dhani, menyebabkan tewasnya cukup banyak orang karena kelalaiannya berkendara. Saat itu Dul masih berusia 13-14 tahun dan kasusnya ditutup dengan "tenang".

Tetapi, tetap saja membaca ketegasan dari pak Bupati Purwakarta, seperti mendapatkan sebuah angin segar yang bisa melihat dengan jernih bahwa membiarkan anak di bawah umur berkendara adalah sebuah kesalahan besar. Sebuah pelanggaran hukum yang tidak biasa dibiarkan dan harua dihentikan.

Tindakannya mengeluarkan beberapa siswa dari sekolah dimana mereka belajar karena bersepeda motor atau mengendarai mobil ke sekolah tanpa Surat Izin Mengemudi meruoakan contoh yang seharusnya ditiru oleh banyak orang. Bukan hanya pemerintah, polisi atau aparat yang berwenang, tetapi juga para orangtua.

Mayoritas anak di bawah umur yang mengendarai kendaraan bermotor melakukannya dengan sepengetahuan orangtua mereka. Bahkan, sebenarnya banyak orangtua yang mendorong anaknya untuk belajar menggunakan sepeda motor sedini mungkin. Tidak jarang mereka sudah dikenalkan dengan sepeda motor pada usia kelas 2 atau 3 SD.

Banyak alasan dikemukakan, mulai dari biar tidak repot mengantar, biar bisa memboncengkan ibunya atau adiknya, hingga biar cepet mandiri.

Padahal, para orangtua itu tahu jelas bahwa usia minimum untuk mengendarai sepeda motor atau mobil adalah 17 tahun. Usia dimana seorang anak secara fisik dan mental sudah dianggap cukup. Mereka tahu tentang itu.

Mereka menyadari kalau apa yang mereka lakukan adalah melanggar hukum . Tidak jarang ada yang bercerita dengan rasa bangga kalau anak mereka bisa luput dari patroli atau razia polisi.

Sesuatu yang memperlihatkan kebodohan dan ketidakpatuhan terhadap aturan dan hukum.

Sebuah kebodohan yang dipelihara.

Sesuatu yang suatu saat bisa membentuk karakter curang dan mau enak sendiri. Sebuah karakter yang justru akan menghambat perkembangan mereka di masa yang akan datang.

Sesuatu yang merupakan halangan utama bangsa ini untuk menjadi lebih maju dan beradab. Tidak ada bangsa dan negara di dunia ini yang bisa maju ketika kedisiplinan dan kepatuhan terhadap hukum masih  ada di level yang rendah.

Fenomena pengendara di bawah umur di Indonesia mencerminkan hal tersebut. Tidak mengherankan bahwa bangsa Indonesia seperti jalan di tempat.

Tidak akan maju bangsa ini kalau generasi mudanya terus diajarkan untuk berbuat curang dan terbiasa melanggar aturan.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon