Masa Anak-Anak Itu Sebentar, Jangan Sampai Disia-siakan

Masa anak-anak. Sebuah masa dimana mereka begitu kecil, lucu, imut, dan menggemaskan. Suatu masa dimana mereka sangat bergantung kepada kita, orangtuanya.

Sebuah periode dimana mereka menyerahkan sepenuhnya nasib mereka kepada kita, yang berstatus sebagai orangtuanya. Apakah harus belok ke kiri atau ke kanan, mereka tidak peduli. Mereka akan tetap menggenggam erat tangan kita dengan tangan mungil mereka.

Masa anak-anak, sebuah masa dimana dunia mereka, anak-anak kita, seperti menjadi satu dengan dunia kita, para orangtua. Ketika mereka, dan kita seperti tidak terpisahkan dan menjadi satu kesatuan. Sebuah tim.

Hanya, menuruti siklus yang sudah ditetapkan di dunia ini, pada suatu waktu semua ada akhirnya. Masa anak-anak pun akan berakhir ketika mereka membesar, secara fisik dan juga mental. Perlahan tetapi pasti mereka pun akan berubah menjadi seperti kita, menua.

Kodrat yang sudah tidak bisa dielakkan. Kalau terjadi sesuatu yang bertentangan dengan kodrat ini, justru akan mengkhawatirkan.

Bukankah begitu?


Bolehkah, saya bertanya kepada Anda?

Apa yang teringat oleh Anda tentang anak (atau anak-anak) Anda sendiri?

Mungkin Anda heran dengan pertanyaan ini. Mungkin juga tidak. Mungkin Anda bisa menjawabnya dengan mudah dengan menceritakan berbagai kenakalan yang dilakukan oleh mereka. Mungkin.

Tidak semua orang bisa seberuntung Anda dalam hal ini. Cukup banyak orang yang bahkan tidak bisa menceritakan kembali tentang sesuatu yang terkait dengan anak-anak mereka sendiri. Banyak sekali.

Boleh dan dipersilakan untuk tidak percaya. Meskipun demikian, pengalaman pribadi saya menunjukkan cukup banyak orang yang seakan tidak memiliki kenangan berarti tentang kehidupan mereka di saat anak mereka masih kecil. Mereka mengalami kesulitan untuk bercerita tentang hal itu.

Saya memprediksi, walau saya bukan seorang ahli nujum, bahwa di masa depan jumlah orang-orang seperti itu bertambah banyak. Jumlahnya akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Anda tahu mengapa alasan saya berkata demikian, mungkin sedikit pandangan tentang hal ini dapat membantu menjelaskan.

Masa Anak-Anak Itu Sebentar

Berapa tahun menurut Anda masa kecil seorang anak itu?

Kalau menurut hukum perlindungan anak, maka usia seseorang dianggap sebagai anak-anak adalah 17 tahun. Itu sebuah titik dimana seseorang dianggap dewasa dan lepas dari wilayah orangtua.

Tujuhbelas tahun. Cukup panjang juga.

Tetapi, betulkah masa anak-anak sepanjang itu?

Pada kenyataannya tidak demikian. Masa kecil seorang anak, atau sering disebut masa anak-anak sebenarnya sudah berakhir jauh sebelum usianya mencapai 17 tahun.

Silakan perhatikan sedikit contoh yang kita coba ambil dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing keluarga akan berbeda satu dengan yang lain, oleh karena itu Anda bisa melihatnya dari perkembangan anak Anda sendiri.

Coba tanyakan pada diri sendiri, mulai umur berapa anak Anda menolak untuk dicium atau dipeluk?

Pertanyaan aneh? Tidak juga. Reaksi seorang anak terhadap apa yang dilakukan oleh orangtuanya kepada dirinya mencerminkan sebuah perkembangan sikap mental sang anak.

Pada saat berusia antara 0-4 tahun, seorang anak akan menyukai kalau dirinya dipeluk dan diciumi oleh orangtuanya. Mereka justru akan menangis kalau orangtuanya tidak melakukan itu.

Sikap yang berbeda akan diterima orangtua ketika sang anak mulai berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas, masyarakat. Mereka akan mulai menunjukkan keengganan untuk menerima perlakuan yang sama di saat mereka masih "kecil".

Reaksinya sangat beragam. Bisa berbentuk melengoskan kepala, menjauh, mendorong ayah atau ibunya agar tidak memeluk atau menciumnya, hingga mengatakan "ayah/ibu jangan dong, kan saya sudah besar".

Sebuah sikap yang mencerminkan bahwa dirinya tidak ingin lagi dianggap sebagai anak kecil. Sikap yang oleh banyak orangtua dianggap lucu karena bagi para orangtua mereka masih kecil.



Tentu saja, secara kenyataan mereka masih tetap anak-anak, dan mereka akan selalu menjadi anak-anak bagi kita. Meskipun demikian, sikap "kecil" tersebut menjelaskan bahwa terjadi perubahan dalam diri sang anak, mereka ingin lepas dari dunia kita dan bergabung dengan dunia yang lebih luas, masysrakat.

Reaksi seperti ini, memang lucu untuk dilihat. Meskipun demikian, para orangtua harus menyadari bahwa reaksi lucu ini merupakan pertanda adanya perubahan.

Perubahan yang menunjukkan bahwa dunia yang dulu bersatu dengan dunia kita, para orangtua, sedang bergerak memisahkan diri. Perlahan tapi pasti dan tidak bisa ditolak.

Sebuah pertanda kecil, bahwa masa anak-anak akan segera berakhir. Bergerak membentuk dunianya sendiri, yang terpisah dengan dunia kita.

Itulah mengapa saya katakan masa anak-anak itu sebentar. Tidak lama. Bukan 17 tahun seperti yang disebutkan oleh hukum di Indonesia. Masa anak-anak jauh lebih singkat dibandingkan itu.


Banyak orang di masa depan tidak punya kenangan tentang masa kecil anaknya

Pernyataan yang sepertinya sembrono dan tidak berdasar. Tetapi, tanpa menjadi seorang ahli seperti Kak Seto, sang pemerhati dunia anak, sekalipun, seharusnya hal itu bisa terlihat dewasa ini.

Berbagai perubahan pola hidup, tatanan budaya, dan interaksi antar manusia, hari demi hari menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin terjadi.

Ada beberapa hal yang membuat pernyataan tersebut sangat mungkin terjadi. Saya coba gambarkan sebagai berikut dalam beberapa poin

1. Pekerjaan

Ini menjadi nomor satu karena menyebabkan efek berantai.

Orangtua memang harus bekerja untuk menafkahi hidup keluarganya, normal dan memang harus dilakukan. Justru kalau orangtua tidak mencari penghasilan, bukan hanya kehidupannya terancam, kehidupan anak pun akan ikut terimbas.

Wajar. Normal.

Tetapi, tekanan kebutuhan yang sedemikian ttinggi, juga tuntutan gaya hidup, terkadang membuat para orangtua tenggelam dalam keasyikan di dunianya sendiri.

Kerja lembur tak kenal waktu.

Ibu bapak bekerja dua-duanya.

Semua dengan alasan, demi menghidupi keluarga. Terkesan bahwa mereka berjuang habis-habisan demi anak mereka. Sebuah usaha yang mulia.

Kelihatannya.

Meskipun demikian, manusia adalah makhluk yang rumit. Mereka tidak hanya terbentuk dari seonggok daging yang bisa tumbuh dengan diberi makanan seperti ternak. Mereka membutuhkan lebih dari itu untuk tumbuh dan berkembang.

Begitu juga seorang anak. Mereka bukan hanya perlu makanan bergizi, pakaian bagus, sekolah bagus, mereka memerlukan seseorang untuk menjadi gantungan bagi dirinya hingga saat ia mampu berdiri.

Anak manusia tidak seperti hewan, seperti zebra misalnya, yang sudah mampu berlari beberapa jam setelah ia keluar dari perut induknya. Seorang anak manusia tetap membutuhkan bimbingan, bantuan, perlindungan dari orangtuanya.

Oleh karena itulah, ketiadaan orangtua, yang katanya sedang sibuk "berjuang" mencari nafkah akan membuatnya kehilangan tempat bergantung. Secara naluriah, mereka akan mencari tempat bergantung yang lain, dari orang yang dianggapnya bisa.

Pembantu, baby sitter, kakek nenek yang dititipi akan menggantikan peran orangtua. Hubungan anak dan orangtua sesungguhnya seperti tergerus seikit demi sedikit dan posisinya tergantikan oleh orang lain.

Sesuatu yang membuat hubungan antar orangtua-anak menjadi "tidak ada".

Bagaimana bisa sebuah kenangan dilahirkan ketika hubungan itu "tidak ada"? Sang anak akan tetap memiliki kenangan masa kecil, yang mungkin tetap indah tetapi bisa juga tidak menyenangkan, dengan orang yang bukan orangtuanya.

2. Tehnologi

Pernahkah Anda membaca berita seorang anak terjun dari lantai 3 hanya karena ibunya tidak bisa berhenti bermain game kesayangannya? Kalau belum, mungkin ada baiknya Anda memanfaatkan Google untuk mencari berita tersebut. Sudah pasti ada arsipnya.

Ini hanya sebuah contoh kecil saja. Kenyataannya sebenarnya tidak terlihat oleh mata tetapi bisa dirasakan betapa pengaruh tehnologi terhadap masyarakat bisa memberikan efek yang besar sekali.


Perhatikan lingkungan sekitar Anda.


Bukankah mudah sekali ditemukan pemandangan orangtua memegang gadget dan anak bermain game/gadget/komputer.

Bagaimana bisa sebuah kenangan indah masa anak-anak ketika kedua belah pihak disibukkan dengan benda-benda seperti itu? Bagaimana bisa orangtua dan anak bermain bersama, ketika chatting via WA atau BBM lebih menarik dibandingkan berjalan-jalan bersama.

Penggunaan tehnologi yang berlebihan seperti ini, jelas suatu waktu akan menyisakan orangtua yang tidak memiliki kenangan indah masa kecil anaknya. Yang mereka punya adalah kenangan "chatting dengan si anu" pada saat anaknya masih kecil.

Sesuatu yang akan semakin banyak terjadi mengingat tehnologi yang terus merasuk ke dalam kehidupan bermasyarakat dimana saja.


3) Ego Orangtua

Mengapa orangtua masa kini pun seperti tidak bisa lepas dari gadget mereka? Karena mereka seperti menemukan dunia baru yang atraktif, menarik dan menyenangkan.

Tumbuhnya banyak komunitas online di media sosial memberikan kemudahan bagi semua orang untuk bergabung sesuai dengan minat. Komunitas mobil menggaet banyak member, begitu juga komunitas berjalan-jalan traveling. Tidak jarang para anggota komunitas pun melakukan kopi darat alias bertemu di dunia nyata.

Para orangtua seperti tertarik masuk ke dalam pusaran baru bernama komunitas online.

Begitu juga mereka dipermudah untuk bertemu dengan teman-lama di masa mudanya dulu. Nostalgia masa lalu seperti menemukan jalannya untuk masuk kembali ke kehidupan banyak orangtua, membawa mereka ke masa-masa menyenangkan.

Itulah beberapa sebab banyak orangtua seperti tidak bisa lepas dari gadget mereka. Istilahnya, mereka lebih suka ketinggalan dompet dibandingkan HP yang tertinggal.

Orangtua butuh kesenangan juga dong.

Biasanya itu yang terlontar dari mulut untuk menjelaskan mengapa mereka begitu lekat pada gadgetnya.

No problem. Memang orangtua tetap manusia yang butuh hiburan atau kesenangan. Normal saja.

Yang menjadi tidak normal adalah ketika mereka lebih mendahulukan menjawab pesan di Whatsapp dari teman lama dibandingkan menemani anaknya membuat pekerjaan rumah. Abnormal ketika mereka lebih memilih chatting panjang lebar bagaimana memodifikasi kendaraan dibandingkan memenuhi keinginan anaknya bermain.

Padahal tentu saja sebagai pihak yang bertanggungjawab mencari nafkah, waktunya sudah tersita untuk pekerjaan. Hanya tersisa sedikit setiap harinya. Sangat sedikit.

Pilihan mengedepankan kesenangan pribadi daripada mendahulukan kebutuhan anak menunjukkan bahwa para orangtua pun tidak mau kalah membesarkan ego mereka. Keinginan untuk merasa "bahagia" lebih penting dibandingkan memberi kebahagiaan pada anak mereka.

4) Salah Kaprah Tentang Quality Time

Jangan khawatir ! Yang penting biar kita sibuk, kita bisa memberikan quality time pada anak! Sama saja hasilnya.

Quality Time. Waktu Berkualitas.

Istilah yang akrab dengan para orangtua masa kini, terutama yang sibuk dengan pekerjaan atau karirnya, atau apalah namanya. Istilah ini sering terlontar kalau mereka ditanya bagaimana menjaga hubungan dengan anak di tengah keaibukan mereka.

Keren. Hebat.

Tetapi... tunggu! Benarkah demikian? Apakah quality time itu benar-benar ada atau hanya sekedar halusinasi saja? Ataukah sebuah istilah lain yang menunjukkan bahwa para orangtua tidak mau mengorbankan waktu untuk anak mereka?

Bagaimana kalau dianggap memang ada saja supaya tulisan ini bisa berlanjut. Lagi pula semakin banyak orangtua yang mengatakan itu, rasanya jelas ada. Maybe. Perhaps. Mungkin.

Kita anggap saja demikian.

Nah, siapa yang berniat memberi quality time? Para orangtua. Yang menerima? Para anak. Orangtua berperan sebagai "penjual" dan anak sebagai "pembeli". Kira-kira begitu analogi sederhananya.



Lalu, bagaimana seorang penjual bisa mengetahui kualitas yang diinginkan pembeli? Biasanya mereka akan mengadakan survey dan pendekatan kepada calon pembeli untuk mengetahui apa yang mereka mau dari penjual. Ini standar dalam dunia marketing lo.

Pertanyaannya, bagaimana para orangtua bisa mengetahui apa yang dikehendaki anak mereka, jikalau mereka sendiri tidak pernah berada dekat dengan anak? Bagaimana para orangtua tahu apa yang diharapkan sang anak, ketika mereka lebih dekat dengan teman yang sehobi dibandingkan anak mereka?

Quality time jenis apa yang akan ditawarkan kepada para anak?

Apakah sebuah perjalanan ke luar negeri sudah dianggap sebagai masuk dalam memberikan waktu yang berkualitas? Mahal pasti! Tetapi, apakah itu sudah sesuai dengan kualitas yang diinginkan anaknya?

Apakah mainan mahal menunjukkan sebuah kualitas dalam hal ini? Apakah baju ngetren sesuai mode yang dibeli di butik dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh sang anak?

Maybe yes. Maybe no.

Tidak tahu.

Karena bagaimana biaa tahu kalau para orangtua tidak per ah berbincang dan ngobrol santai dengan anak mereka. Beban apa yang ada di pikiran mereka. Keinginan apa yang ingin diwujudkan dan sebagainya.

Quality Time yang sedang happening ini lebih condong pada versi para orangtua saja. Bukan apa yang dikehendaki anak.

Banyak anak yang sebenarnya hanya ingin melakukan sesuatu yang lebih sederhana, seperti bermain bola dengan ayahnya karena ia melihat tetangga sebelah melakukannya. Ingin berbelanja bersama dengan ibu karena teman sekolahnya bercerita tentang serunya memilih sayuran di pasar.

Mereka mungkin hanya ingin ayahnya menjelaskan penyelesaian sebuah soal matematika karena teman sekelasnya bercerita bahwa ayahnya berhasil memecahkan soal itu dengan cepat.

Sederhana.

Memang, anak-anak tidak berpikir rumit. Berbeda dengan para orangtua. Mereka sederhana, sangat sederhana.

Tetapi, mereka terlihat rumit, karena para orangtua sering mengedepankan egonya dalam sebuah kata Quality Time.

Itulah mengapa saya mengatakan bahwa di masa depan akan semakin sedikit orangtua yang memiliki kenangan indah tentang masa anak-anak buah hati mereka. Para orangtua cenderung menjauh, sengaja atau tidak semakin memperbesar ego mereka sendiri.

Mengapa kenangan itu begitu penting? Sudah pasti Anda heran kok kenangan diributkan. Kenapa bukan tentang efek dari sikap orangtua kepada anak?

Yah, para ahli anak sudah sering menulis dan menjelaskan betapa pentingnya menghabiskan waktu dengan anak. Betapa kedekatan orangtua dengan anak membuat sang anak lebih percaya diri dan bla bla bla... panjang lebar dan sudah sangat terperinci.

Hasilnya?

Tidak banyak berubah. Para orangtua masih tetap saja lebih menyukai smartphone dan aktifitas mereka.

Jadi, mengulangnya lagi disini, rasanya tidak akan berefek sama sekali. Apalagi saya bukan seorang ahli, saya hanya orangtua dari seorang anak remaja. Mana akan didengar.

Saya hanya ingin berbagi sedikif tentang mengapa membuat kenangan dengan anak itu penting.

Silakan lanjutkan membacanya ke yang berikut

Kenangan masa anak-anak itu penting.... bagi orangtua!

Lho.

Iya.

Kenangan itu penting, justru untuk para orangtua, bukan untuk anak kita.

Seberapapun buruknya masa kecil seorang anak, ia akan melaluinya, tumbuh dewasa, dan kemudian melupakannya. Kalau masa kecilnya indah, ia akan terus mengingatnya.

Sesuatu yang normal. Tidak mengingat yang buruk, mengingat yang indah-indah dan menyenangkan saja.

Bagaimana dengan para orangtua?

Suatu waktu para orangtua akan sendiri lagi.

Setelah dewasa para anak yang sudah pasti akan meninggalkan kita untuk membangun dunianya sendiri. Entah sekolah, entah berumahtangga, semuanya mengharuskan para anak memiliki dunia mereka sendiri.

Dunia yang dulu bersatu dengan dunia kita, para orangtua, pada akhirnya akan terpisah sama sekali.

Yang menghubungkannya adalah seutas garis tipis bernama kenangan. Sangat tipis.

Ketika, kenangan masa anak-anak yang dialami seseorang menyenangkan dan indah, mereka akan cenderung merasa terikat dengan orangtuanya. Akan selalu ada rasa kangen untuk bertemu mereka yang telah memberikan begitu banyak kebahagiaan dalam hidup mereka.

Sayangnya, kenangan buruk pun memiliki efek. Kebalikan dari apa yang disebutkan di atas. Tidak akan ada rasa kangen dan rindu kepada orangtua ketika yang teringat dari mereka hanyalah orangtuanya lebih memilih pergi arisan daripada menemaninya nonton film.

Kenangan yang mana yang mendominasi akan menentukan tebal tipisnya garis yang menghubungkan kedua dunia.

Bagi para orangtua, usia tidak akan pernah turun. Ia akan terus naik. Menua, sudah pasti.

Aktifitas yang dilakukan pun berkurang banyak. Pensiun dan tidak lagi memiliki aktifitas rutin adalah masa yang biasa dialami manusia yang sudah tua.

Begitu juga teman-teman yang dulu aktif di room chatting, arisan, komunitas otomotif dan sebagainya. Mereka akan satu demi satu melepaskan hobinya karena banyak hal, termasuk bosan atau meninggal.

Suatu waktu, pada waktunya manusia akan kembali "sendiri".

Apalagi ketika fisik tidak memungkinkan. Bisa dikata aktifitas kita kembali ke titik nol, persis sama seperti kita bayi. Kita akan membutuhkan (bantuan) orang lain.

Yang paling menyedihkan, tetapi harus kita terima, adalah perasaan sepi akan datang. Teman-teman sejawat dan seusia sudah banyak yang tidak aktif, bahkan sudah ada yang mendahului berpulang. Kawan-kawan sesama hobbyist juga sudah tak tahu rimbanya.



Lalu, bagaimana dengan para orangtua ketika masa senja tiba?

Mungkin disitulah kenangan indah yang pernah kita bangun bersama anak-anak kita menunjukkan manfaatnya.

Yang pertama, dalam ketiadaan orang terdekat di sisi kita, kita bisa menguranginya dengan kenangan-kenangan manis saat masa anak-anak dulu. Tidak akan bisa mengusir rasa kesepian tetapi setidaknya kita memiliki "sesuatu" yang membuat kita tersenyum dan bahagia.

Yang kedua, akan ada harapan bahwa mereka yang dunianya sudah terpisah dari dunia kita, merasa perlu menyeberangi garis penghubung untuk menemani, walau tidak setiap waktu.

Sebuah harapan terkadang adalah segalanya, seberapapun kecilnya.

Itulah mengapa saya katakan bahwa membuat kenangan indah pada masa anak-anak itu penting.

Penting bukan hanya untuk sang anak, tetapi juga untuk kita, orangtua.

Sayangnya, semakin hari, semakin banyak orangtua yang menganggap teman, kawan sehobi dan komunitas, dan bahkan gadget lebih penting dibandingkan masa anak-anak.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda membangun kenangan indah bersama-sama dengan anak-anak? Ataukah smartphone atau pekerjaan tetap menjadi prioritas utama?

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon