Bagusnya Kapan Yah? Anak Diajarkan, Mengenal Tentang , dan Diperbolehkan Berhubungan Dengan Lawan Jenis-nya?


Ini satu pertanyaan yang pasti hadir di kepala banyak orangtua. Sejak dulu hingga sekarang, pertanyaan itu akan muncul. Kapan seorang anak diajarkan tentang lawan jenisnya? Kapan mereka diperbolehkan mengenal? dan Kapan mereka diperbolehkan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya?

Jadi tiga pertanyaan, meski sebenarnya intinya cuma satu, yaitu hubungan dengan lawan jenisnya.

Di masa lalu, para orangtua cenderung mendirikan "benteng" di sekitar anak dalam kaitannya dengan lawan jenis dalam beberapa kalimat singkat, padat, jelas, tetapi menyebalkan.

"Jangan pacaran dulu sebelum bekerja"
"Sekolah dulu yang bener, jangan pacaran"
Dan sejenisnya.

Iya nggak? Pernah ngalamin?

Saya pernah kok.

Banyak teman-teman seangkatan juga mengalami hal yang sama.

Lalu, apa yang terjadi? Apakah saya dan teman-teman tersebut mematuhinya?

Ada yang pilih menjadi anak yang patuh, tetapi lebih banyak lagi yang tidak.

Jangan heran. Bagaimanapun "berpasangan" adalah kodrat dari manusia. Mereka memang harus berpasangan karena dengan begitu manusia bisa tetap "survive" dan ada. Ketertarikan terhadap lawan jenis adalah sebuah hal yang normal dan kodrati. Justru kalau hanya sesama jenis bisa menjadi sebuah masalah.

Jadi, mengenal dan kemudian menjalin hubungan antar lawan jenis adalah sebuah hal yang normal saja. Setiap manusia akan punya ketertarikan terhadap lawan jenisnya.

Hal itu juga disadari oleh orangtua di masa lalu. Mereka tidak mencoba menentang hal tersebut. Yang mereka coba lakukan hanyalah mengatur "timing" atau waktu kapan hal tersebut boleh dilakukan.

Mengingat beratnya konsekuensi dan resiko yang terkandung dalam hubungan dengan lawan jenis, mereka sudah menentukan batasan waktunya. Selama sang anak masih sekolah hal tersebut janganlah dilakukan.

Alasan utamanya adalah rasa takut orangtua bahwa hal tersebut bisa mengganggu konsentrasi belajar si anak kesayangan. Kalau sudah kacau konsentrasinya, bisa jadi akan membuat kacau pula sekolahnya. Ujungnya, masa depan gemilang yang diharapkan tidak akan bisa dicapai dan kehidupan sang anak akan ikut kacau.

Sebuah hal yang mulia.

Hanya, hal tersebut bertentangan dengan "gejolak" dalam diri seorang anak. Bagaimanapun, seorang anak, masih belum bisa 100% mengekang dan mengontrol emosi dirinya sendiri. Oleh karena itu, sesuatu yang sebenarnya baik, tidak akan terlihat baik ketika ego dan emosinya menginginkan kebebasan tetapi orangtua memberikan batasan.

Benturan pun terjadi.

Itulah mengapa banyak kasus kawin lari atau hal-hal buruk yang berkaitan dengan lawan jenis. Banyak yang dilakukan karena keinginan untuk "bebas" dalam diri anak-anak mendorng mereka melakukan pemberontakan terhadap batasan yang ditetapkan orangtua.

Apalagi ketika hormon mereka pun cenderung untuk mendorong mereka tertarik pada lawan jenisnya.

Jadilah perseteruan antar anak dan ortu.

Tetapi, pertanyaan itu hadir dalam diri setiap orangtua. Sayapun demikian adanya. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika si kribo kesayangan sudah mulai beranjak remaja.

Bolehkah dia mulai menjalin hubungan dengan seorang gadis?

Berbahayakah kalau dia mulai memiliki pacar?


Tidak berbeda dengan apa yang orangtua saya rasakan di masa lalu. Pertanyaan-pertanyaan itu hadir.

Hanya, saya dan istri memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda.

Kami tidak membuat batasan tentang hal itu.

Bukan karena kami tidak khawatir. Tetapi, kami memandang bahwa hal itu adalah proses belajar yang mau tidak mau harus dilalui semua manusia. Tidak bisa dicegah. Semua manusia sudah pasti akan selalu berinterkasi bukan hanya dengan sesama jenis, tetapi juga dengan lain jenis.

Lagi-lagi itu kodratnya.

Mencoba mengakali dan memberikan batasan tentang hal itu hanya akan menghasilkan perseturan khas yang sering terjadi di generasi sebelumnya.

Tidak ada gunanya.

Kami memutuskan untuk memberikan ruang bagi si kribo untuk mengeksplorasi hal tersebut sesuai dengan kemauannya. Bagaimanapun, itu adalah hidupnya dan bukan hidup kami. Ia berhak menggunakannya sesuai dengan kemauannya.

Yang bisa kami lakukan hanyalah mendampingi. Memberikan masukan. Memberikan arahan.

Karena, bagaimanapun hubungan antar manusia, termasuk dengan lawan jenis, terikat pada aturan dan norma yang berlaku kalau tidak mau berakibat buruk. Untuk itulah pendampingan dari kami sebagai orangtuanya akan sangat dibutuhkan olehnya dalam menemukan apa yang dikehendakinya.

Tidak masalah jika ia hanya ingin berteman dengan seorang atau beberapa gadis.

Tidak masalah juga jika ia ingin menjalin "cinta monyet" dengan salah satu diantaranya.

Bagi kami, itu adalah sebuah proses pembelajaran yang harus dijalaninya. Di masa depan, hal itu pasti akan berguna bagi kehidupannya. Tidak mungkin ia tidak bergaul dengan lawan jenisnya di masa depan. Untuk itu ia juga harus belajar sejak dini.

Dan, kami memutuskan untuk menyerahkan kapan waktunya pada dirinya. Ia yang akan menjalaninya. Sedangkan kami, tugasnya adalah memastikan ia memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghindari resiko yang bisa berakibat buruk bagi kehidupannya.

Itu saja.

Bukan kami, orangtuanya, yang memutuskan kapan waktunya. Dialah yang harus menentukan itu karena ia lebih tahu lebih tepat tentang dirinya sendiri.



Para Orangtua : Anak Kecanduan Handphone (Gadget)? Salahkan Diri Sendiri, Jangan Orang Lain


Sudah menjadi sebuah hal yang umum kalau mendengar keluhan banyak orangtua tentang anak mereka yang kecanduan Handphone/HP atau gadget. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di banyak bagian bumi yang lain, masalah ini juga terjadi.

Jadi, kalau anak Anda kecanduan bermain gadget atau smartphone, tidak perlu merasa berbeda dan gagal dalam mengurus anak, karena kenyataannya jutaan orangtua mengalami hal yang sama, dan di seluruh dunia. Paling tidak "gagal"nya jadi tidak sendirian, barengan dengan entah berapa orangtua lainnya.

Yang menjadi masalah, kenyataannya dari sekian banyak orangtua yang menghadapi masalah kecanduan ini, menyalahkan pada si anak. Tidak jarang mereka marah-marah ketika anaknya tidak mau mematuhi perintah mereka untuk berhenti memainkan smartphonenya.

Lucu juga sebenarnya kalau para orangtua melakukan itu.

Kenapa lucu? Ya, lucu saja.

Karena tidak seharusnya mereka menyalahkan anak mereka atas kebiasaan tersebut. Bukan anak yang salah (kalau berusia di bawah 17 tahun yah), mereka para orangtua yang salah dalam hal ini.

Jangan lempar batu sembunyi tangan.

Coba saja uraikan sedikit situasi yang terjadi itu dengan pertanyaan-pertanyaan berikut. Nanti akan ditemukan ujung pangkal masalahnya.

Siapa yang membelikan anak handphone/gadget/HP?

Ya, mayoritas adalah para ORANGTUA.

Kebanyakan anak berusia di bawah 17 tahun masih tergantun pada orangtuanya secara ekonomi. Smartphone, walau semakin murah tetap saja biasanya berada di luar jangkauan kantung anak-anak.

Keputusan untuk membelikan atau tidak pun dilakukan oleh ayah atau ibu. Meski biasanya dimulai dengan rengekan si anak , tetapi tetap saja ayah dan ibu lah yang menjatuhkan palu keputusan untuk jadi beli atau tidak.

Betul kan?

Cara paling efektif untuk mencegah anak kecanduan smartphone adalah dengan TIDAK MEMBELIKANNYA.

Dengan begitu sudah pasti ia tidak akan memegang gadget terus menerus. (Bagaimana bisa memegang kalau barangnya tidak ada? Logika sederhana saja)

Sudahkah mengajarkan cara menggunakan gadget dengan baik dan benar?

OK OK.. Jangan sewot.

Bisa dimengerti bahwa di masa kini, tentunya para orangtua pun tidak ingin anaknya menjadi gaptek (gagap teknologi) dan tertinggal dari kawan-kawan mereka.

Sangat bisa dimengerti.

Bagaimanapun, manusia memang harus dan dituntut mengikuti perkembangan budaya di sekitarnya. Kegagalan untuk melakukan ini akan melahirkan dampak dalam berbagai hal, mulai rasa rendah diri sampai dibully, bisa terjadi. Belum lagi sisi komunikasi dapat membantu orangtua mengawasi anaknya.

Jadi, tidak salah memang kalai para orangtua membelikan anaknya gadget. Walau berarti dengan begitu membuka celah dan menghadirkan resiko juga, yang namanya kecanduan hape atau smartphone itu tadi.

OK-lah.

Tetapi, pertanyaan berikutnya, kalau memang memutuskan untuk membelikan, sudahkah para orangtua mengajarkan

  1. Apa itu smartphone?
  2. Apa kegunaan dan fungsinya?
  3. Bagaimana cara menggunakannya?
  4. Bahaya yang terkandung di dalamnya?
Mengajarkan dalam hal ini bukan tentang bagaimana cara mengirim pesan via Whatsapp atau BBM atau Line. Juga bukan dengan sekedar menyuruh anak membaca buku manual smartphone yang diberikan kepadanya.

Bukan itu.

Setiap benda yang kita pakai akan menghadirkan konsekuensi dan resiko. Begitu juga dengan smartphone.

Smartphone akan membuka dunia bagi si anak. DUNIA.


Dalam dunia bukan hanya ada yang BAIK-BAIK saja, tetapi juga ada yang BURUK juga. Predator anak berkeliaran di dunia maya dimana identitas mudah sekali dipalsukan. Ada juga konflik-konflik. Ada juga hoaks dan sebagainya.

Smartphone bukan hanya membawa kebaikan, pengetahuan mendekat ke si anak, tetapi juga berbagai kejelekan dan keburukan pun akan beramai-ramai datang ke si anak.

Nah, sudah kah Anda memberikan tameng kepada si anak?

Sudahkah para orangtua memberitahukan bahwa terlalu banyak memandang layar smartphone bisa memberi efek buruk pada matanya? Sudahkah si orangtua mengajarkan bahwa tugas sekolah lebih penting daripada chatting dengan teman tak dikenal di ujung dunia entah sebelah mana? Sudahkah para orangtua memberikan batasan yang boleh dan yang tak boleh dilakukan dengan gadgetnya?

Sudahkah... ini dan itu yang susah dirinci saking banyaknya.

Anak tetaplah anak. Ia masih membutuhkan bantuan pengalaman dan kebijakan orangtuanya untuk memilah mana yang bisa menimbulkan dampak baik dan mana yang buruk. Ia belum bisa berdiri sendiri.

Oleh karena itu sudah seharusnya, ketika orangtua memutuskan membelikan anaknya smartphone atau hape, ia pun harus mengajarkan "CARA MEMPERGUNAKANNYA" dengan baik. Tanpa itu, sang anak akan bisa "kehilangan kendali" dan melahirkan ekses-ekses negatif yang membuat repot orangtuanya.

Masalahnya, kebanyakan orangtua tidak melakukan "pengajaran" tentang smartphone. Banyak dari mereka beranggapan bahwa hal itu adalah naluriah saja dan akan berjalan bersamaan dengan waktu. Padahal tidak.

Anak tetap anak. Yang masih harus banyak belajar dan diajari.

Sayangnya, para orangtuanya juga terkadang juga sedang kecanduan smartphone atau hapenya. Mereka merasa terganggung kalau anaknya bertanya ini dan itu. Mereka sering tidak peduli apa yang dikerjakan anaknya selama mereka tidak mengganggu kegiatannya.

Saat itulah anak kehilangan pembimbing yang seharusnya mengajarkan dirinya pengetahuan tentang dampak buruk dari smartphone. Lebih jauh lagi, mereka diberi contoh bahwa "BEGITULAH CARA MENGGUNAKAN SMARTPHONE/HP", yang sebenarnya tidak seharusnya dicontoh.

Jadi, orangtua seharusnya tidak marah-marah kepada si anak kalau mereka tidak bisa lepas dari gadget mereka. Kesalahan itu ada pada orangtuanya. Seharusnya para orangtua harus memarahi diri sendiri karena merekalah penyebab semua itu.

Merekalah penyebab para anak kecanduan HP.




Masih Perlukah Ibu Memisahkan Makanan Untuk Ayah?


Ibu saya dulu melakukannya. Ia akan menempatkan lauk pauk dan sayur pada piring yang diletakkan terpisah dari porsi yang disediakan untuk anak-anaknya. Dan, kebiasaan memisahkan makanan untuk ayah atau bapak, dilakukan oleh banyak ibu di saat saya masih anak-anak.

Penjelasan yang sering diberikan sang ibu kepada anak-anaknya adalah karena ayah mereka butuh makanan itu agar ia kuat dan punya tenaga untuk mencari nafkah. Penjelasan tambahannya adalah ayah adalah orang penting dalam sebuah keluarga karena ialah yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan dan nafkah keluarganya. Oleh karena itu, sang ibu harus memisahkan makanan untuk pria yang menjadi tulang punggung keluarganya tersebut.

Lagipula, hal itu juga dilakukan untuk membiarkan anak-anak bisa makan terlebih dahulu tanpa harus mengganggu bagian sang ayah.

Hingga saat ini, masih cukup banyak pula keluarga yang masih menerapkan pola yang sama. Tetangga saya masih melakukannya. Sang istri akan memisahkan makanan, dalam porsi yang lebih banyak dan juga bagian "spesial" untuk suaminya.

Tetapi, keluarga kecil kami TIDAK.

Saya menolak untuk diperlakukan seperti itu dan tidak pernah meminta agar istri saya memisahkan makanan dari yang ia dan si kribo kecil makan.

Semuanya diletakkan bersama. Bahkan, ketika mereka berdua makan terlebih dahulu, saya akan makan apa yang tersisa di meja makan.

Saya bukanlah bagian terpenting dalam sebuah keluarga. Tidak ada bagian yang lebih penting dari yang lainnya. Semuanya spesial.

Istri dan anak saya adalah dua orang paling berharga dalam kehidupan saya, dan saya juga percaya mereka berpandangan demikian terhadap saya. Lalu, mengapa saya yang harus mendapat perlakuan demikian spesial dari mereka. Justru, sebaliknya, saya ingin mereka merasa bahwa mereka adalah dua orang paling spesial bagi saya.

Apa yang ada di meja makan, bagi keluarga kecil kami adalah milik bersama dan bisa dinikmati bersama.

Malahan, saya berharap si kribo dan si yayang bisa mendapatkan bagian terbaik dari apa yang bisa dimakan. Untuk itulah saya mencari nafkah agar kehidupan mereka menjadi sejahtera dan mereka bisa mendapatkan bagian yang terbaik dari kesemua itu.

Memisahkan makanan untuk saya hanya menghambat mereka memilih bagian dari makanan yang paling mereka sukai hanya sekedar untuk ayah mereka. Banyak ibu menyisakan bagian yang paling banyak dagingnya dari seekor ikan goreng kepada sang ayah, tetapi hal ini isa menghambat sang anak mendapatkan bagian yang disukainya. Bisa jadi pada akhirnya ia hanya mendapatkan buntut yang banyak durinya dan bisa menyusahkannya.

Nope. Saya tidak mau demikian.

Istri dan si kribo kecil harus mendapatkan yang terbaik dari apa yang bisa saya berikan. Tidak masalah ketika saya hanya mendapatkan buntut atau kepalanya saja, toh saya bisa makan apa saja.

Jadi, saya tidak akan pernah meminta, menyuruh, atau mengindikasikan bahwa sebagai seorang ayah saya minta diperlakukan istimewa dengan cara memisahkan makanan untuk saya.

Kebiasaan seperti itu adalah sesuatu yang obsolete atau kuno bagi keluarga kami. Tidak sesuai dengan pola pikir dan tim yang sedang kami jalani.

Memiliki Istri Lebih Dari Satu Itu Adalah Pilihan


Poligini istilah tepatnya dan bukan poligami untuk pria yang memiliki istri lebih dari satu pada satu waktu atau bersamaan. Cuma karena masyarakat sudah terlalu akrab dengan istilah poligami, banyak yang akan mengerutkan kening kalau mendengar istilah poligini. Padahal dalam poligami ada dua jenis istilah yaitu poligini (pria beristri lebih dari satu) dan poliandri (wanita yang bersuami lebih dari satu).

Bukan itu yang akan dibahas. Bukan juga tentang halal haramnya, sunnah atau wajib, atau berbagai tips atau syarat agar diperkenankan untuk memiliki istri lebih dari satu. Sudah terlalu banyak dibahas oleh banyak orang dalam banyak artikel yang akhirnya menimbulkan banyak kepusingan.

Yang hendak disampaikan dalam tulisan ini adalah sebuah kenyataan bahwa poligini atau memiliki istri lebih dari satu adalah sebuah pilihan jalan hidup.

Faktanya memang hukum di Indonesia memperbolehkan hal itu dilakukan. Coba saja lihat Undang-Undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan walau dengan syarat yang cukup ketat. Begitu juga dari sisi agama, terutama Islam yang jelas memperbolehkan seorang pria menikahi sebanyak-banyaknya 4 orang dalam satu waktu.

Jadi, itulah fakta bahwa poligini diperkenankan hadir dalam kehidupan berkeluarga. Meskipun para wanita akan menentang dan mencibir tentang hal ini, tetapi aturan hukumnya jelas memperbolehkan. Mengenai mereka mengizinkan suaminya menambah jumlah istri atau tidak adalah lain hal.

Tetapi, ada satu hal yang dilupakan para pendukung poligini. Ini juga sebuah kenyataan dan fakta yang tidak terbantahkan.

MEMILIKI ISTRI LEBIH DARI SATU ATAU POLIGINI BUKANLAH KEWAJIBAN.

Cobalah lihat sendiri pasal-pasal dalam Undang-Undang Perkawinan yang sama dan begitu juga dalam berbagai ayat kitab suci. Adakah yang "mengharuskan" bahwa seorang pria harus menikahi beberapa wanita?

Jawabannya tidak ada.

Memang kalangan pendukung, dan yang mungkin sudah menikahi lebih dari satu wanita akan menyorongkan sisi positif, seperti kata-kata sakti "daripada berzinah" lebih baik dihalalkan dan dinikahi saja.

Logical fallacy yang sangat luar biasa. Karena seakan-akan tanpa menikahi  lebih dari satu wanita, maka seorang pria sudah pasti terjerumus dalam zinah, perbuatan dosa. Kenyataannya tidak selalu dan tidak demikian. Banyak sekali pria yang tetap bisa menjaga dirinya meski hanya menikah dengan satu wanita saja.

Sama halnya dengan cara berpikir yang selalu diagung-agungkan bahwa poligini adalah ibadah dan sunnah dari Nabi Besar Muhammad SAW. Tidak salah karena Beliau memang memberikan contoh seperti itu. Para pendukung poligini membuat seakan-akan memiliki istri lebih dari satu adalah satu-satunya sunnah yang bisa mendatangkan pahala

Padahal kenyataannya tidak demikian. Masih banyak cara yang diajarkan untuk merengkuh ridho dari Yang Maha Kuasa, mulai dari menyingkirkan batu di jalan, tersenyum, hingga menyumbangkan hartanya. Masih ada ribuan cara lain mendapatkan pahala. Bukan hanya dari menikahi lebih dari satu wanita.

Itulah kenyataannya. Fakta. Bahwa memiliki istri lebih dari satu bukanlah sebuah kewajiban dan keharusan. Tidak ada aturan hukum yang menyuruh orang memiliki 4 istri. Tidak ada aturan agama yang mewajibkan umatnya menikahi 4 istri.

Tidak ada.

Poligini hanyalah sebuah pilihan bagi seorang pria. Ia bisa memilih jalan yang dikehendakinya dan keluarga seperti apa yang dimauinya. Bukan sebuah jalan yang "harus" ditempuh.

Sebuah omong kosong kalau dikatakan HARUS.

Itulah mengapa para pendukung poligini begitu gencar meneriakkan berbagai keuntungan ber-poligini seperti yang paling menyakitkan adalah mengurangi jumlah janda dan menjauhkan mereka dari zinah. Padahal belum tentu seorang janda langsung tercebur pada hal-hal negatif.

Mereka ingin menyampaikan pembenaran atas tindakan dan jalan yang dipilihnya karena mereka menyadari bahwa hal itu bukanlah sebuah keharusan dan sekedar pilihan saja. Mereka membuat diri mereka terlihat menjadi mulia dengan tindakannya di mata masyarakat agar mereka tidak dihujat dan dicerca.

Padahal, menerima hujatan dan cercaan, baik dari istri pertama, atau masyarakat adalah salah satu konsekuensi dari sebuah poligini. Masyarakat Indonesia semakin modern dimana kesadaran atas kesamaan hak antar wanita dan pria sudah semakin tinggi. Oleh karena itu kebiasaan memiliki lebih dari satu istri yang banyak dilakukan di masa lalu sudah cenderung kurang populer di mata masyarakat sekarang.

Sesuatu yang coba ditangkis dengan melontarkan berbagai ayat kitab suci dan berbagai pembenaran lainnya. Banyak yang mencoba menafikan kenyataan bahwa memiliki istri lebih dari satu adalah sekedar pilihan dan bukan kewajiban.

Pembenaran apapun tidak bisa merubah kenyataan ini.

Jangan Lupa Ajarkan Anak Tiga Kata Penting Ini


Ada tiga kata penting dalam kehidupan yang sudah seharusnya diajarkan kepada anak sejak ia masih usia dini. Bukan, bukan panggilan keren kepada orangtuanya, seperti "mommy", "daddy", "papih", "mamih" atau sejenis.

Tiga kata penting ini bahkan bisa dikatakan lebih penting dibandingkan kejeniusan dalam bidang akademis. Tanpa pembiasaan mengatakan 3 kata ini, seorang anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi orang yang diremehkan oleh masyarakat.

Ketiga kata penting itu, yaitu :

  • Tolong
  • Terima kasih
  • Maaf
Tidak disusun secara alpabetik atau prioritas. Ke-3 kata ini memiliki porsi yang sama dan tidak ada yang lebih penting dari yang lain.

Mengapa? Pastinya banyak yang berpikir mengapa 3 kata ini menjadi bahkan lebih penting dibandingkan kepandaian dalam hal matematika atau hal lainnya.

Sederhana saja.

1) Tolong 


Sudah takdirnya manusia adalah makhluk sosial dan perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Juga, sudah kodratnya manusia penuh dengan kelemahan dan akan selalu membutuhkan bantuan dari orang lain.

Hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa kemampuan mengatakannya dengan cara yang sopan dan halus. Dalam bahasa Indonesia, kata tolong adalah penyambung sebuah interaksi antara manusia saat membutuhkan bantuan dari yang lainnya. Help dalam bahasa Inggris, dan entah dalam bahasa Rusia karena saya tidak paham.

Kegagalan mengutarakan permohonan bantuan dengan cara yang benar dan layak akan menempatkannya pada posisi sulit, entah dianggap orang yang tidak tahu sopan santun atau tidak tahu adab. Jeleknya, hal itu akan membuat orang yang dimintakan bantuan menolak untuk membantu.

2) Terima kasih


Setelah bantuan diterima, seorang manusia biasanya mengharapkan "apresiasi" atas apa yang dikerjakannya. Wajar saja. Meskipun banyak yang tidak terucap, tetapi tetap saja mereka "berharap" pada apresiasi tersebut.

Kata terima kasih merupakan perwujudan paling sederhana untuk mengungkapkan rasa gembira, senang, apresiasi terhadap sesuatu yang diberikan kepada kita.

Kalau seorang anak tidak paham tentang kata ini akan berbahaya di kemudian hari. Label tidak tahu terima kasih bisa saja dilekatkan kepada dirinya oleh masyarakat.

3) Maaf

Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah kepada orang lain. Kalau ada yang berkata demikian, maka berarti orang itu harus diragukan kemanusiaannya.

Semua manusia pasti pernah berbuat salah. Dan, salah itu sering menimbulkan luka di hati orang lain.

Kata sederhana ini bisa menjadi penyembuh luka yang paling sederhana dan paling efektif, tetapi bisa menjadi sesuatu yang besar dan sulit ketika ego berbicara.

Seorang anak yang diajarkan menggunakan kata maaf bisa menjadi orang yang sportif yang berani mengakui kesalahan yang diperbuatnya dan mau mencoba melakukan sesuatu untuk menebusnya.

Ketiga kata ini menjadi penting karena peran mereka tidak bisa digantikan dengan menyodorkan pengetahuan tentang geografi atau rumus matematika. Pengetahuan akademis seperti itu tidak dipergunakan setiap hari saat seorang manusia berinteraksi dengan manusia lainnya, tetapi ketiga kata ini akan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan, seorang anak yang tidak bisa mengucapkan hal ini, secara langsung atau perlahan akan diasingkan oleh masyarakat. Ia akan mendapat berbagai label buruk, seperti tidak tahu terima kasih, tidak sopan, tidak beradab, tidak tahu sopan santun, dan berbagai cap lainnya. Sesuatu yang tentu saja akan menyulitkannya dalam kehidupan.

Bagaimanapun ia akan bertemu dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Tidak mungkin tidak.

Ketiga kata sederhana nan penting ini merupakan tiga buah alat yang sangat penting dan efektif untuk memperlancar kehidupan seorang manusia. Oleh karena itu, para orangtua harus sedini mungkin mengajarkannya kepada anak-anak.

Ibu Hebat Bukan Hanya Sebatas Melahirkan Secara Normal Saja


Yah wajar saja kalau yang mengatakan hal ini dibully para netizen. Maklum banyak wanita merasa sewot akibat postingan "Ismi Wahidah"  seorang ibu muda di Facebook. Ia mengatakan bahwa ibu yang tidak melahirkan secara normal bukanlah ibu yang hebat karena tidak merasakan naluri sebagai ibu. Oleh karena itu wanita seperti ini tidak sempurna sebagai ibu.

Bukan sebuah pandangan baru. Banyak dari generasi pendahulu pun berpandangan seperti itu oleh karena itu mereka akan berusaha semaksimal mungkin menghindarkan diri dari melahirkan secara cesar alias melalui jalan operasi.

Jadi bisa dikata Ismi hanya meneruskan pandangan dari generasi sebelumnya. Mungkin ia banyak diberi petuah oleh ibu atau bibi-bibinya sehingga memiliki pandangan seperti itu.

Apakah saya akan ikut menghujat dan mem-bully-nya? Tidaklah. Untuk apa. Terutama karena saya paham betul bahwa pertarungan antara budaya lama dan budaya baru sedang terjadi. Pola pikir yang pernah dominan di masa lalu sedang tergusur oleh pola pikir yang baru.

Perdebatan soal sempurna atau tidaknya seorang wanita sebagai seorang ibu bukan pula barang baru. Hal itu sudah terjadi sejak operasi cesar ditemukan.

Apakah karena si kribo kecil kesayangan kami lahir dari persalinan normal? Tidak. Si ABG itu lahir ke dunia melalui tangan para dokter yang melakukan operasi cesar.

Bukan karena sang ibu memutuskan untuk melakukannya, karena sayalah yang memutuskan langkah itu harus diambil. Bahkan tanpa persetujuan istri yang sedang menahan sakit.

Tekanan darah yang mencapai lebih dari 180 dan juga "pembukaan " yang tidak kunjung berpindah dari bukaan 3 setelah beberapa jam menunjukkan adanya masalah.

Kondisi yang tentunya berbahaya bagi orang yang saya kasihi.

Tidak. Saya tidak ragu memutuskannya meskipun saya cukup paham keinginan sang istri untuk merasa "normal" dan "sempurna" sebagai wanita dengan melahirkan secara normal. Tetapi, nyawa dua orang yang saya sayangi lebih berharga daripada sekedar omongan nyinyir soal sempurna atau tidak sempurnanya wanita.

Wanita tidak akan pernah menjadi sempurna. Wanita hanyalah manusia dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Dia memiliki ratusan dan ribuan kekurangan. Jadi, mengapa harus berpikir tentang sempurna atau tidak ketika dua nyawa bisa terselamatkan.

EGP (Emang Gue Pikirin) pendapat orang. Kalau harus mengikuti omongan orang dan kemudian terjadi apa-apa pada ibu dan jabang bayinya, paling banter mereka yang ribut memperdebatkan soal sempurna atau tidaknya wanita saat melahirkan hanya akan mengatakan duka cita. Tetapi, saya akan kehilang dua orang yang berharga dalam hidup saya.

Tidak sebanding.

Memang tidak mudah. Si "Yayang: sempat merasa down karena merasa dirinya tidak bisa melahirkan secara normal. Perasaan itu tidak hilang dalam waktu sebentar. Terlebih kemudian ASI-nya tidak mengalir dengan lancar. Perasaan "tidak normal" semakin menjadi.

Butuh waktu untuk pada akhirnya ia bisa berkompromi dengan dirinya ketika melihat pertumbuhan si kribo kecil yang sehat dan normal. Tidak ada bedanya dengan anak yang dilahirkan secara normal.

Si kribo kecil jangkung sebagai ABG dan cukup berprestasi. Ia juga menjadi anak yang sopan dan santun, walau agak sedikit jutek dan seperti anak-anak masa kini agak kecanduan gadget, tetapi ia tumbuh dengan normal.

Pada saat itulah ia bisa menerima bahwa operasi cesar yang dilakukan adalah yang memberikan kebahagiaan ini kepada dirinya dan keluarganya. Kalau hanya sekedar menuruti ego dan pandangan orang lain tentang kesempurnaan wanita yang melahirkan normal, padahal indikasi medis mengatakan lain, mungkin tidak akan ada si kribo kecil dan ibunya.

Tidak akan ada kebahagiaan itu di keluarga kami.


Tidak masalah kalau ada orang seperti si Ismi yang mengatakan bahwa istri saya bukan wanita yang hebat dan sempurna. Kenyataannya dia memang begitu. Si Yayang hanyalah seorang ibu rumah tangga dan sebagai manusia dia tidak akan pernah sempurna.

Meskipun demikian, kehadirannya memberi kebahagiaan di rumah kami. Si kribo kecil yang lahir bukan dengan cara yang "normal" juga menghadirkan banyak tawa, senyum, dan canda.

Sesuatu yang tentunya jauh lebih mahal harganya dibandingkan pemikiran kolot nan usang yang terus-terusan membahas kehebatan wanita hanya dari sisi bisa melahirkan secara normal atau melalui operasi cesar.

Dari hal itu saja terlihat bahwa yang mengatakannya bukanlah orang yang sempurna karena dia tidak memiliki empati kepada sesama wanita. Ia juga bukan orang hebat karena tidak bisa menempatkan diri dalam mengemukakan pandangan.

Belum lagi, ia masih belum bisa menunjukkan bahwa anaknya sudah menjadi ABG dan menjadi manusia yang sopan santun dan berakhlak. Masih panjang jalan yang harus ditempuhnya supaya masyarakat menggelarinya wanita atau ibu yang hebat.

Lalu, untuk apa terlalu peduli sama orang keblinger seperti si Ismi?

Para Remaja Pasti Bisa Jika Diberikan Kesempatan


Dalam penyelenggaraan sebuah acara, sudah pasti siapapun ingin agar perhelatan tersebut berjalan dengan lancar dan sukses. Tidak ada yang ingin gagal dan kemudian mendapatkan kritikan, cemoohan, atau kata-kata pedas yang memerahkan telinga. Kebanyakan orang akan menyerahkannya kepada "ahli"nya atau mereka-mereka yang dianggap "mampu" dan berpengalaman untuk mewujudkan hal tersebut.

Kata berpengalaman dan mampu, sayangnya, sering diidentikkan dengan kata "tua" dan "sudah berumur" alias dewasa. Oleh karena itu, biasanya mereka-mereka yang kemudian ditunjuk menjadi panitia penyelenggara adalah yang sudah tua dan dewasa. Jarang sekali remaja dijadikan bagian karena mereka dianggap mewakili kata "tidak mampu" dan "tidak berpengalaman".

Padahal tidak demikian adanya. Remaja sebenarnya bisa dan mampu jika diberikan kesempatan.

Penyelenggaraan sebuah acara kecil di lingkungan dimana saya tinggal di Bogor menunjukkan hal itu, Pemilihan Ketua RT (Rukun Tetangga). Sebuah acara yang biasanya (dan sepertinya menjadi keharusan) dilaksanakan oleh warga-warga yang sudah dewasa ternyata bisa dengan mulus berjalan di tangan para remaja.

Memang, mereka pada awalnya terlihat gagap bin gugup saat pelaksanaan. Tidak heran karena itulah pertama kali mereka harus "tampil" di hadapan para orang tua dan orangtua. Mereka khawatir berbuat salah dan merusak acara.

Demam panggung.

Tetapi, seiring dengan berjalannya acara, mereka pun berubah. Suasana menjadi terasa nyaman dan tanpa hambatan berarti. Para remaja terlihat juga sudah bisa mengatur ritme dan menjalankan tugas masing-masing seperti para Petugas KPU (Komisi Pemilihan Umum). Tidak lagi terlihat muka tegang.

Dengan gaya remaja mereka yang masih polos, mereka bisa menggiring para warga untuk tertawa, senyum melihat tingkah polah yang masih kekanakan, tanpa menyebabkan inti acara, penghitungan suara bagi para calon terhambat.

Satu hal kecil yang menunjukkan bahwa para remaja pasti bisa melakukan apa yang dilakukan para orang dewasa, jika diberikan kesempatan.

Yang diperlukan hanyalah dorongan dan bimbingan agar mereka berani maju dan tampil mengambil alih peran yang sebelumnya ada pada orang tua.

Lagipula, hal itu akan membantu memberikan mereka "pengalaman" yang diperlukan bagi kehidupan mereka di masa datang. Kalau kesempatan itu tidak diberikan, bagaimana mereka akan bisa menimba pengalaman?

Tanpa kepercayaan dari para orangtua dan orang tua, maka para remaja tidak akan pernah bisa keluar dari cangkangnya dan menjadi dewasa. Tanpa itu mereka akan terus berada di dalam kepompongnya dan tidak akan menjadi kupu-kupu.

Tugas para orangtua dan orang tua lah untuk membukakan kesempatan agar mereka bisa menunjukkan kinerja, kemampuan, dan skill yang dimilikinya.

Tidak Ada Anak Yang Sempurna, Begitupun Anak Kita : Jangan Katakan Sebaliknya


Sudah bukan sesuatu yang tidak biasa kalau kita bertemu seorang ibu atau ayah yang berbicara tentang betapa pintar anaknya sehingga bisa masuk sekolah favorit. Betapa rajinnya ia beribadah dan betapa perhatian si anak kepada orangtua dan masyarakat. Belum lagi betapa tekunnya ia belajar setiap hari.

Terkadang hal itu membuat kita merasa rendah diri karena membandingkan dengan anak sendiri yang terkadang malas belajar, sering sibuk dengan gadgetnya dan lupa membantu ibunya mengurus rumah, atau sering menggerutu ketika disuruh membeli sesuatu ke warung. Anak kita seperti menjadi anak yang tidak sempurna.

Jika Anda memiliki perasaan itu, segera buang jauh-jauh. Kalau memang bisa menghindar lah, tidak membawa manfaat juga terlalu lama berbicara dengan orangtua seperti itu. Bisa-bisa membuat sindrom rendad diri dan kepercayaan diri kita menguap begitu saja.

Lagi juga , mungkin mereka bukan manusia. Bisa jadi mereka malaikat yang turun ke bumi.

Heran?

Jangan. Karena ada satu fakta yang tidak akan bisa terbantahkan. Manusia tidak ada yang sempurna. Setiap manusia akan memiliki kekurangan masing-masing. Jadi kalau mereka menceritakan "kesempurnaan" anaknya, maka mungkin mereka sedang bercerita tentang malaikat, bukan manusia.

Kenyataannya memang demikian.

Wajar saja seorang anak merasa malas belajar, kita pun demikian saat seusia mereka. Oleh karena itu diperlukan peran orangtua untuk mengingatkan para anak bahwa kemalasan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Jika mereka tidak mau membantu ibu bapaknya mengurus rumah, juga bukan sebuah hal yang aneh. Dalam dunia anak, ada bagian dimana mereka lebih terfokus pada kata "bermain" dibandingkan "bekerja". Lalu, kenapa harus heran kalau anak kita sendiri enggan membantu. Disitulah tantangannya menjadi orangtua.

Kita harus mampu membimbing mereka dan mengajarkan bahwa ada saat bermain, ada saat bekerja. Sebagai orangtua, kita juga harus bisa menyadarkan dan menanamkan bahwa apa yang mereka lakukan akan membawa kebaikan di masa datang.

Jadi, wajar saja kalau seorang anak tidak sempurna. Bahkan, para orangtua sendiri tetaplah tidak sempurna sampai akhir hayatnya. Itulah manusia.

Jangan pula berpandangan bahwa mereka yang mengembar-gemborkan kesempurnaan anaknya adalah malaikat. Sudah pasti bukan karena untuk memiliki keluarga, anak, diperlukan nafsu dan itu tidak ada dalam diri malaikat. Bisa dipastikan yang sedang berceloteh di depan Anda bukanlah malaikat karena ia memiliki anak.

Yang ada di depan Anda adalah orangtua yang mungkin karena terlalu bangga kepada anak mereka, lupa tentang masalah tidak sempurnanya manusia. Mereka bisa juga hanya melakukan pencitraan agar mereka disebut dirinya orangtua yang sukses dan berhasil. Atau, kalau mau berpandangan buruk, mungkin mereka menutupi keresahan hatinya sendiri karena kenyataannya anak mereka sangat bandel, malas, dan bodoh.

Ada banyak alasan orangtua melakukan pencitraan agar masyarakat memandang bahwa anaknya adalah anak yang baik dan hebat. Kita tidak pernah tahu apa tujuan dan maksud mereka mengumbar seperti itu, jadi tidaklah perlu mengikuti cara mereka memandang anak. Ikuti saja hati nurani sendiri.

Kalaupun mau mengambil sisi positif, anggaplah bahwa mereka sedang mengingatkan bahwa anak kita penuh kekurangan dan sebagai orangtua harus berusaha lebih baik lagi. Bisa kan memandang dari sisi itu juga?

Hanya yang pasti, janganlah ikut serta dalam cara mereka menggambarkan anak sendiri sebagai anak yang sempurna dan tanpa kekurangan.

Alasannya karena,

1) hal itu tidak mungkin ada.
2) mengatakan hal seperti itu akan membuat orang mencibir dan menjauh dari Anda karena mayoritas orang pun tahu tentang no 1) tadi, yaitu tidak ada anak yang sempurna dimanapun karena lahir dari orangtua yang penuh ketidaksempurnaan. Mengatakan sebaliknya adalah sebuah bentuk kesombongan

Katakanlah kepada masyarakat apa adanya. Anak kita tidak sempurna. Mereka "sempurna" bagi kita para orangtua karena sudah hadir dalam kehidupan kita dan membuatnya menjadi "sempurna" dengan kebahagiaan. Bukan karena mereka makhluk yang sempurna.

Mengapa Harus Menghindar Kalau Ditunjuk Menjadi Pengurus RT? Demi Diri Sendiri dan Keluarga Kok


Jangankan menjadi Ketua RT (Rukun Tetangga), ditunjuk ..eh diminta menjadi pengurus RT saja banyak orang akan menghindar dengan berbagai alasan. Sibuk lah, tidak bakat lah, dan masih banyak alasan lain dikemukakan supaya tidak dipilih.

Padahal, jujur saja, alasan utamanya adalah menjadi Ketua RT atau pengurus di dalamnya adalah sebuah kerja sosial dan dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Lebih jauh lagi, terlibat dalam kepengerususan seperti ini dianggap hanya mendatangkan kerepotan saja tanpa ada imbalan dan hasilnya.

Belum lagi, warga memang terkadang menyebalkan dan terkadang mau menang sendiri. Banyak yang mengeluh tentang kebersihan lingkungan, tetapi kalau diajak kerja bakti akan ada 1000 alasan untuk tidak hadir. Masih ditambah, gunjingan dan omongan nyinyir di belakang.

Siapa yang mau coba? Sudah tidak "mendapat" apa-apa masih dikomplen dan disalahkan kalau ada sesuatu. (RT di Jakarta masih lebih baik nasibnya karena digaji pemerintah dan gajinya lumayan juga)

Tetapi, saya menerima ketika sekali lagi diminta untuk menjadi Sekretaris di RT di lingkungan rumah dimana kami sekeluarga tinggal.

Ada sekitar 60 Kepala Keluarga disana.

Bukan pertama kalinya. Keikutsertaan kali ini adalah yang ke-3 kalinya. Jika dihitung masa jabatan pengurus RT yang 3 tahun setiap periode, maka 9 tahun lamanya (walau tidak berturut-turut), saya akan terlibat dan terjun mengurusi warga.

Jangan tanya soal apakah saya mendapatkan sesuatu? Boro-boro. Tidak jarang bahkan uang harus keluar dari kocek sendiri untuk biaya-biaya fotokopi dan lain sebagainya.

Jangan tanya pula tentang berapa kali keluhan, komplen dan sejenisnya yang mampir dan membuat kuping panas. Tidak terhitung.

Tenaga, waktu, dan pikiran, entah sudah berapa ton (kalau bisa ditimbang). Tidak siang, tidak malam, tidak pagi, sepertinya harus siap sedia menanti ketukan di pintu pertanda ada warga yang butuh bantuan.

Pertanyaannya mengapa saya mau menjadi pengurus RT kalau sudah tahu begitu? Tidak mendapat apa-apa kok mau?

Nah, itu dia.

Kata siapa "tidak mendapat" apa-apa? Justru banyak sekali yang saya dapat selama waktu yang dijalani sebagai sekretaris (tidak berturut-turut), seperti

  • Saya kenal dengan semua tetangga dalam kompleks, silaturahmi dan hubungan kami sekeluarga menjadi lebih mulus.
  • Memang hanya ucapan terima kasih yang diterima, tetapi hal itu membuat saya merasa "berguna" bagi masyarakat. Jelas, saya bukan sampah masyarakat
  • Bisa memperbaiki dan membuat nyaman lingkungan karena dengan terlibat dalam kepengurusan, maka saya bisa memiliki sumber daya manusia lebih banyak untuk melakukan kerja bakti dan banyak kegiatan lain
  • Memiliki teman banyak karena hampir setiap warga mengenal saya dan keluarga karena mau tidak mau mereka harus sering berhubungan
  • Anak saya jadi bisa belajar bagaimana mengelola masyarakat dan berinteraksi dengan banyak orang
Bukan uang.

Memang kalau orientasi pemikirannya adalah menghasilkan materi, jangan pernah menjadi pengurus RT. Tidak ada uangnya. Banyak capeknya.

Salah kalau memilih jalan ini kalau terfokus pada materi

Tetapi, dengan semua pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, serta kuping menjadi semakin tipis karena mendengar terlalu banyak komplen, kami mendapatkan lingkungan yang nyaman, hubungan antara tetangga yang enak dan baik, teman yang banyak.

Semua itu dibutuhkan bagi keluarga kami agar bisa hidup tenang dan nyaman. Bagaimanapun kami tinggal di lingkungan tersebut, entah sampai kapan, mungkin sampai kami menutup mata.

Memang tidak gratis. Sesuai pepatah NO PAIN NO GAIN. Ada harga yang harus dibayar untuk kesemua itu.

Uang tidak akan bisa membelinya karena tidak semua hal bisa dibeli. Hubungan antar manusia yang enak, kebersihan lingkungan, dan lain sebagainya tidak bisa didapat hanya dengan membayar iuran. Perlu lebih dari itu.

Lingkungan butuh KEPEDULIAN agar bisa berkembang dan tumbuh dengan baik.

Dan, karena saya menginginkan lingkungan yang nyaman, aman, dan tenteram, maka saya harus membayarnya dengan "mata uang" kepedulian kami sekeluarga. Bukan demi apa-apa, tetapi demi diri sendiri, kami sebagai keluarga karena kami tinggal disana.

Itu saja alasan mengapa saya mau saja ditunjuk menjadi pengurus RT.

Memperkenalkan Kepada Anak Budaya Bangsa Lain Dengan Mengajak Makan Kuliner Asing


Makan kuliner asing seperti burger, sushi, udon, steak, dan banyak lainnya, semakin hari semakin marak di Indonesia. Banyak pengusaha kuliner dari negeri seberang memasuki negara kepulauan ini karena melihat pangsa pasar yang besar.

Tidak heran, banyak anak, karena pengaruh iklan di televisi akan mengajak orangtua mereka pergi ke gerai-gerai penyedia kuliner yang mereka lihat.

Situasi ini melahirkan pro dan kontra di dalam masyarakat sendiri, jangan ditanya kekhawatiran para pengamat budaya melihat kuliner asing yang semakin mendesak makanan tradisional sehingga terancam punah.

Banyak orang pula yang memandang mengajak anak makan kuliner asing sebagai mengajarkan cara hidup borjuis karena makanan yang berasal dari negara lain biasanya berharga lebih mahal dibandingkan yang lokal. Tidak jarang yang menolak melakukannya dengan alasan ingin anaknya lebih mecintai produk makanan lokal.

Padahal sebenarnya tidak selalu demikin. Tentunya niatan mengajak anak makan kuliner asing akan tergantung individu. Sudah pasti ada orangtua yang ingin pamer dan sekedar ingin update status di media sosial di kala makan steak, dan bukan sate, atau sushi dan bukan lalapan.

Pastilah ada orang seperti itu.

Hanya, tidak semua. Banyak orangtua yang mengajak anak mereka ke restoran yang menyediakan makanan yang bukan berasal dari negeri sendiri dengan alasan tersendiri dan bukan hanya sekedar makanannya.

Alasan itu adalah memperkenalkan budaya bangsa lain kepada si anak.

Kok bisa?

Ya bisa. Jangan salah.

Makanan adalah sebuah bentuk kebudayaan dari sebuah bangsa. Selama ini kebanyakan orang hanya berpikir bahwa kebudayaan adalah seni tari, musik, lagu, padahal sebenarnya itu hanya sebagian kecil saja. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang merupakan hasil budi daya dan olah akal manusia dalam kehidupannya.

Kuliner atau makanan adalah salah satu bentuk kebudayaan. Di dalamnya terdapa pemikiran dan usaha manusia. Makanan mencerminkan sebuah budaya dan pola tersendiri tentang sebuah bangsa. Rasa seperti apa yang dimilikinya akan berbeda satu bangsa dengan yang lain.

Terlebih lagi, makanan bisa menggambarkan pola makan dan kebiasaan apa yang dimiliki sebuah bangsa.

Kuliner adalah kebudayaan. Sushi akan selalu membuat orang yang mendengar kata ini mengaitkan kepada bangsa Jepang, karena dari sanalah kuliner ini berasal meski sudah tersedia di banyak negara. Steak akan mengingatkan orang pada gaya makan para cowboys di negara Barat, seperti Amerika Serikat, dan masih banyak lagi.

Makanan bisa menjadi ciri khas suatu bangsa.

Mengapa Perlu Mengajarkan Anak Budaya Bangsa Lain Lewat Kulinernya?

Bukan harus, tetapi perlu.

Kata globalisasi di masa sekarang, bukan hanya diucapkan oleh para akademisi. Tidak jarang ibu-ibu rumah tangga di kampung pun sudah fasih melafalkannya, entah mereka paham atau tidak.

Yang pasti mereka yang pernah bersekolah setidaknya di SMP atau SMA paham bahwa suatu waktu batas antar negara akan "menghilang" dan interaksi antar manusia tidak lagi mengenal batas bahasa, ras, dan budaya.

Di masa depan anak-anak yang sudah dewasa tidak lagi hanya akan berinteraksi dengan orang Jawa, Sunda saja. Pergaulan mereka akan lebih luas lagi dari para orangtuanya. Tidak akan heran kalau mereka memiliki teman atau sahabat dari negeri asing nun jauh disana. Bukan tidak mungkin mereka juga berpasangan dengan pria dan wanita bermata biru dan berambut pirang.

Itulah sebuah gambaran efek globalisasi dimana gejalanya mulai terlihat mempengaruhi banyak orang dewasa ini.

Mau tidak mau, setiap orang harus menyesuaikan diri dengan irama perkembangan zaman yang seperti ini. Kalau tidak mereka akan tertinggal karena tidak bisa mengikuti dan kalah bersaing.

Apa kaitan dengan makan kuliner asing?

Cobalah lihat skenario kecil dan sebenarnya sudah banyak terjadi seperti ini.

Seseorang yang bekerja di bagian pemasaran untuk ekspor kemudian ditugaskan untuk pergi ke Jepang menemui klien penting untuk membahas pembelian produk.
Kemudian seperti layaknya negosiasi bisnis dan untuk menghormati tamu jauh, diskusi dilakukan di luar kantor. Dan di Jepang, restoran sushi adalah salah satu tempat favorit bernegosiasi sambil menikmati hidangan khas Jepang, sushi dan sashimi.

Kira-kira apa yang terjadi, jika ia tidak pernah mencoba makan sushi dan sashimi yang banyak mengandung ikan mentah?

Kemungkinannya adalah muntah dan mempermalukan diri sendiri saat makan bersama sang klien.

Sushi dan sashimi bukan hanya sekedar pengisi perut bagi bangsa Jepang, bisa dikata merupakan ikon negeri itu selain Bunga Sakura dan Samurai. Orang Jepang bangga akan hal itu.

Ketika itu terjadi, kira-kira bagaimana tanggapan sang klien.

Hal itu mungkin tidak terjadi, kalau setidaknya orang tersebut pernah mencicipinya. Tidak berarti harus menyukainya, tetapi ia tahu rasanya dan bahwa ia tidak menyukainya. Dengan begitu, ia bisa menemukan jalan untuk menghindari makanan tersebut dan bilang pada sang klien tentang masalah tersebut.

Hal ini bisa menghindarkan dari mempermalukan diri sendiri dan yang mengundang makan. Tentunya, sang klien akan merasa bersalah juga dalam hal ini.

Interaksi antar dua manusia akan berlandaskan pada budaya yang membentuk mereka. Seringkali kita dihadapkan pada situasi tak terduga dimana terjadi benturan budaya.

Globalisasi akan mendorong orang berlainan budaya untuk berinteraksi dan peluang benturan budaya yang sering menimbulkan rasa tidak nyaman di hati terjadi.

Resiko itu bisa dihindari, jika setidaknya seseorang memahami dan pernah bersentuhan dengannya, seperti mencoba kulinernya.

Bagaimana Cara Mengajarkan Budaya Asing Lewat Kulinernya?

Tidak susah. Dengan penetrasi kuliner-kuliner asing ke Indonesia, banyak restoran atau gerai yang menyajikan menu makanan yang berasal dari budaya lain.

Silakan pilih saja.

Meskipun demikian, perkenalkan anak pada beberapa hal ini, yang seringkali luput dari perhatian karena sibuk dengan makanannya.

1. Suasana di Restoran


Biasanya dekorasi di sebuah restoran yang menyandang nama asing akan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di negara asalnya. Sebagai contoh restoran Jepang akan memasang dekorasi pemandangan Gunung Fuji dan Bunga Sakura.

Berikan penjelasan kepada sang anak tentang apa ini dan apa itu.

2. Cara Penyajian Makanan

Lagi lagi, penyajian makanan asing akan meniru kebiasaan yang dilakukan di negeri asalnya. Seperti Steak yang biasanya disajikan di atas sebuah "piring panas". Jelaskan mengapa harus memakai peralatan itu.

Belum lagi, biasanya pelayan akan menanyakan bagaimana steak harus disajikan, Rare, Medium, atau Well Done. Berikan penjelasan bahwa rare adalah "agak mentah" alias setengah matang, medium lebih matang tetapi tidak terlalu matang dna tetap ada daging yang berwarna merah, dan seterusnya.

3. Cara Makan

Makan sushi dan sashimi dengan sendok? Yang benar saja. Tidak ada yang makan sushi menggunakan sendok. Sumpit adalah wajib saat memakannya.

Lalu jelaskan fungsi dari kecap Jepang dan wasabi.

4. Penyambutan

Tingkah laku staff restoran saat menyambut pelanggan pun adalah bentuk kebiasaan yang dilakukan di negara asalnya. Sudah umum seorang pelayan di restoran Jepang akan mengatakan "Irasshaimase" atau "Selamat Datang".

Ini adalah sebuah bentuk interaksi antar manusia, pelanggan dan pelayan di negara tersebut.

Apa yang disebutkan di atas hanyalah sebagian dari banyak tata cara hidup di negara asing yang bisa diperkenalkan kepada seorang anak. Sesuatu yang mungkin bermanfaat bagi dirinya di masa datang

Bagaimana kalau orangtuanya tidak mengetahui hal itu? Bukankah ia tidak bisa menjelaskan?

Pastilah. Ia tidak akan bisa. Itulah mengapa orangtua harus mau belajar juga. Orangtua tidak akan bisa mentransfer pengetahuan kalau ia tidak memilikinya. Jadi, sebelum makan kuliner asing, luangkan waktu sejenak untuk mendapatkan informasi yang bisa disampaikan kepada anak. Kalau orangtua tidak mau belajar, ya nasib si anak, kasihan ia tidak mendapatkan apa-apa dari orangtuanya.

Itulah mengapa  mengajak anak makan kuliner asing, dari negeri orang, tidak selamanya tindakan borjuis dan hura-hura. Banyak hal positif yang bisa diambil bagi perkembangan si anak. Tinggal tergantung orangtuanya.

Hal yang sama hingga saat ini masih saya lakukan, kalau ada keuangan agak longgar. Si kribo tidak lagi norak kalau harus bertemu sushi, sashimi. Ia juga mulai terbiasa menggunakan pisau dan garpu untuk memotong steak. Juga tidak canggung menggunakan sumpit saat makan udon.

Pada saat bersamaan ia juga mendengar banyak cerita dan pengalaman dari saya dan ibunya tentang negara-negara darimana makanan yang ia sedang makan. Yang kemudian dilanjutkannya dengan menelusuri internet untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Bukan. Bukan sekedar kelakuan orang borjuis. Makan kuliner asing bisa menjadi bagian dari pembelajaran kepada anak, jika memang orangtuanya mau.