Memperkenalkan Kepada Anak Budaya Bangsa Lain Dengan Mengajak Makan Kuliner Asing


Makan kuliner asing seperti burger, sushi, udon, steak, dan banyak lainnya, semakin hari semakin marak di Indonesia. Banyak pengusaha kuliner dari negeri seberang memasuki negara kepulauan ini karena melihat pangsa pasar yang besar.

Tidak heran, banyak anak, karena pengaruh iklan di televisi akan mengajak orangtua mereka pergi ke gerai-gerai penyedia kuliner yang mereka lihat.

Situasi ini melahirkan pro dan kontra di dalam masyarakat sendiri, jangan ditanya kekhawatiran para pengamat budaya melihat kuliner asing yang semakin mendesak makanan tradisional sehingga terancam punah.

Banyak orang pula yang memandang mengajak anak makan kuliner asing sebagai mengajarkan cara hidup borjuis karena makanan yang berasal dari negara lain biasanya berharga lebih mahal dibandingkan yang lokal. Tidak jarang yang menolak melakukannya dengan alasan ingin anaknya lebih mecintai produk makanan lokal.

Padahal sebenarnya tidak selalu demikin. Tentunya niatan mengajak anak makan kuliner asing akan tergantung individu. Sudah pasti ada orangtua yang ingin pamer dan sekedar ingin update status di media sosial di kala makan steak, dan bukan sate, atau sushi dan bukan lalapan.

Pastilah ada orang seperti itu.

Hanya, tidak semua. Banyak orangtua yang mengajak anak mereka ke restoran yang menyediakan makanan yang bukan berasal dari negeri sendiri dengan alasan tersendiri dan bukan hanya sekedar makanannya.

Alasan itu adalah memperkenalkan budaya bangsa lain kepada si anak.

Kok bisa?

Ya bisa. Jangan salah.

Makanan adalah sebuah bentuk kebudayaan dari sebuah bangsa. Selama ini kebanyakan orang hanya berpikir bahwa kebudayaan adalah seni tari, musik, lagu, padahal sebenarnya itu hanya sebagian kecil saja. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang merupakan hasil budi daya dan olah akal manusia dalam kehidupannya.

Kuliner atau makanan adalah salah satu bentuk kebudayaan. Di dalamnya terdapa pemikiran dan usaha manusia. Makanan mencerminkan sebuah budaya dan pola tersendiri tentang sebuah bangsa. Rasa seperti apa yang dimilikinya akan berbeda satu bangsa dengan yang lain.

Terlebih lagi, makanan bisa menggambarkan pola makan dan kebiasaan apa yang dimiliki sebuah bangsa.

Kuliner adalah kebudayaan. Sushi akan selalu membuat orang yang mendengar kata ini mengaitkan kepada bangsa Jepang, karena dari sanalah kuliner ini berasal meski sudah tersedia di banyak negara. Steak akan mengingatkan orang pada gaya makan para cowboys di negara Barat, seperti Amerika Serikat, dan masih banyak lagi.

Makanan bisa menjadi ciri khas suatu bangsa.

Mengapa Perlu Mengajarkan Anak Budaya Bangsa Lain Lewat Kulinernya?

Bukan harus, tetapi perlu.

Kata globalisasi di masa sekarang, bukan hanya diucapkan oleh para akademisi. Tidak jarang ibu-ibu rumah tangga di kampung pun sudah fasih melafalkannya, entah mereka paham atau tidak.

Yang pasti mereka yang pernah bersekolah setidaknya di SMP atau SMA paham bahwa suatu waktu batas antar negara akan "menghilang" dan interaksi antar manusia tidak lagi mengenal batas bahasa, ras, dan budaya.

Di masa depan anak-anak yang sudah dewasa tidak lagi hanya akan berinteraksi dengan orang Jawa, Sunda saja. Pergaulan mereka akan lebih luas lagi dari para orangtuanya. Tidak akan heran kalau mereka memiliki teman atau sahabat dari negeri asing nun jauh disana. Bukan tidak mungkin mereka juga berpasangan dengan pria dan wanita bermata biru dan berambut pirang.

Itulah sebuah gambaran efek globalisasi dimana gejalanya mulai terlihat mempengaruhi banyak orang dewasa ini.

Mau tidak mau, setiap orang harus menyesuaikan diri dengan irama perkembangan zaman yang seperti ini. Kalau tidak mereka akan tertinggal karena tidak bisa mengikuti dan kalah bersaing.

Apa kaitan dengan makan kuliner asing?

Cobalah lihat skenario kecil dan sebenarnya sudah banyak terjadi seperti ini.

Seseorang yang bekerja di bagian pemasaran untuk ekspor kemudian ditugaskan untuk pergi ke Jepang menemui klien penting untuk membahas pembelian produk.
Kemudian seperti layaknya negosiasi bisnis dan untuk menghormati tamu jauh, diskusi dilakukan di luar kantor. Dan di Jepang, restoran sushi adalah salah satu tempat favorit bernegosiasi sambil menikmati hidangan khas Jepang, sushi dan sashimi.

Kira-kira apa yang terjadi, jika ia tidak pernah mencoba makan sushi dan sashimi yang banyak mengandung ikan mentah?

Kemungkinannya adalah muntah dan mempermalukan diri sendiri saat makan bersama sang klien.

Sushi dan sashimi bukan hanya sekedar pengisi perut bagi bangsa Jepang, bisa dikata merupakan ikon negeri itu selain Bunga Sakura dan Samurai. Orang Jepang bangga akan hal itu.

Ketika itu terjadi, kira-kira bagaimana tanggapan sang klien.

Hal itu mungkin tidak terjadi, kalau setidaknya orang tersebut pernah mencicipinya. Tidak berarti harus menyukainya, tetapi ia tahu rasanya dan bahwa ia tidak menyukainya. Dengan begitu, ia bisa menemukan jalan untuk menghindari makanan tersebut dan bilang pada sang klien tentang masalah tersebut.

Hal ini bisa menghindarkan dari mempermalukan diri sendiri dan yang mengundang makan. Tentunya, sang klien akan merasa bersalah juga dalam hal ini.

Interaksi antar dua manusia akan berlandaskan pada budaya yang membentuk mereka. Seringkali kita dihadapkan pada situasi tak terduga dimana terjadi benturan budaya.

Globalisasi akan mendorong orang berlainan budaya untuk berinteraksi dan peluang benturan budaya yang sering menimbulkan rasa tidak nyaman di hati terjadi.

Resiko itu bisa dihindari, jika setidaknya seseorang memahami dan pernah bersentuhan dengannya, seperti mencoba kulinernya.

Bagaimana Cara Mengajarkan Budaya Asing Lewat Kulinernya?

Tidak susah. Dengan penetrasi kuliner-kuliner asing ke Indonesia, banyak restoran atau gerai yang menyajikan menu makanan yang berasal dari budaya lain.

Silakan pilih saja.

Meskipun demikian, perkenalkan anak pada beberapa hal ini, yang seringkali luput dari perhatian karena sibuk dengan makanannya.

1. Suasana di Restoran


Biasanya dekorasi di sebuah restoran yang menyandang nama asing akan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di negara asalnya. Sebagai contoh restoran Jepang akan memasang dekorasi pemandangan Gunung Fuji dan Bunga Sakura.

Berikan penjelasan kepada sang anak tentang apa ini dan apa itu.

2. Cara Penyajian Makanan

Lagi lagi, penyajian makanan asing akan meniru kebiasaan yang dilakukan di negeri asalnya. Seperti Steak yang biasanya disajikan di atas sebuah "piring panas". Jelaskan mengapa harus memakai peralatan itu.

Belum lagi, biasanya pelayan akan menanyakan bagaimana steak harus disajikan, Rare, Medium, atau Well Done. Berikan penjelasan bahwa rare adalah "agak mentah" alias setengah matang, medium lebih matang tetapi tidak terlalu matang dna tetap ada daging yang berwarna merah, dan seterusnya.

3. Cara Makan

Makan sushi dan sashimi dengan sendok? Yang benar saja. Tidak ada yang makan sushi menggunakan sendok. Sumpit adalah wajib saat memakannya.

Lalu jelaskan fungsi dari kecap Jepang dan wasabi.

4. Penyambutan

Tingkah laku staff restoran saat menyambut pelanggan pun adalah bentuk kebiasaan yang dilakukan di negara asalnya. Sudah umum seorang pelayan di restoran Jepang akan mengatakan "Irasshaimase" atau "Selamat Datang".

Ini adalah sebuah bentuk interaksi antar manusia, pelanggan dan pelayan di negara tersebut.

Apa yang disebutkan di atas hanyalah sebagian dari banyak tata cara hidup di negara asing yang bisa diperkenalkan kepada seorang anak. Sesuatu yang mungkin bermanfaat bagi dirinya di masa datang

Bagaimana kalau orangtuanya tidak mengetahui hal itu? Bukankah ia tidak bisa menjelaskan?

Pastilah. Ia tidak akan bisa. Itulah mengapa orangtua harus mau belajar juga. Orangtua tidak akan bisa mentransfer pengetahuan kalau ia tidak memilikinya. Jadi, sebelum makan kuliner asing, luangkan waktu sejenak untuk mendapatkan informasi yang bisa disampaikan kepada anak. Kalau orangtua tidak mau belajar, ya nasib si anak, kasihan ia tidak mendapatkan apa-apa dari orangtuanya.

Itulah mengapa  mengajak anak makan kuliner asing, dari negeri orang, tidak selamanya tindakan borjuis dan hura-hura. Banyak hal positif yang bisa diambil bagi perkembangan si anak. Tinggal tergantung orangtuanya.

Hal yang sama hingga saat ini masih saya lakukan, kalau ada keuangan agak longgar. Si kribo tidak lagi norak kalau harus bertemu sushi, sashimi. Ia juga mulai terbiasa menggunakan pisau dan garpu untuk memotong steak. Juga tidak canggung menggunakan sumpit saat makan udon.

Pada saat bersamaan ia juga mendengar banyak cerita dan pengalaman dari saya dan ibunya tentang negara-negara darimana makanan yang ia sedang makan. Yang kemudian dilanjutkannya dengan menelusuri internet untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Bukan. Bukan sekedar kelakuan orang borjuis. Makan kuliner asing bisa menjadi bagian dari pembelajaran kepada anak, jika memang orangtuanya mau.

Serunya Sistem Zonasi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) Yang Tidak Sempurna dan Tidak Akan Pernah Sempurna


Bulan Juni dan Juli di Indonesia selalu menjadi bulan tersibuk bagi para orangtua. Pada kedua bulan ini memang ada sesuatu yang khusus yang membuat para orangtua menjadi resah, gelisah, pusing, mumet tidak karuan. Hal itu adalah pendaftaran sekolah.

Tahun ini, 2017 menjadi lebih ramai dan ruwet dari biasanya. Pertama karena bersamaan dengan hadirnya Lebaran atau Idul Fitri, yang tentunya menambah kemumetan orangtua dalam hal biaya. Yang kedua adalah penerapan sistem zonasi PPDB atau Penerimaan Peserta Didik Baru Online.

Sistem zonasi PPDB Online ini peraturannya baru dikeluarkan pada bulan Mei, alias hanya satu bulan sebelum pelaksanaan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Hasilnya? Heboh disana sini. Kritik, kecaman dan hujatan langsung diarahkan kepada pak Menteri Muhadjir Effendy, pengganti dari Pak Anies Baswedan. Banyak orangtua menganggap bahwa sistem tersebut cacat, tidak sempurna, dan merugikan banyak orang.

Bahkan, di media massa, terlihat terjadi beberapa demo kecil di beberapa daerah. Ada demo yang menuntut anaknya diterima masuk di sekolah tertentu karena merasa lokasinya berdekatan. Ada yang demo karena merasa terjadi kecurangan. Ada juga yang menebar kata-kata pedas via media sosial karena anak mereka gagal masuk diterima di sekolah favorit dan merasa sistem zonasi terlalu memprioritaskan anak-anak di lingkungan dekat sekolah.

HEBOH. RAMAI. RUWET. Belasan talk show membawakan topik tentang hal ini. Banyak pengamat mengatakan bahwa sistem zonasi PPDB online adalah sebuah sistem yang tidak sempurna dan tidak seharusnya diterapkan karena merugikan "banyak" pihak. Biasanya dihadirkan juga wawancara dengan para orangtua yang merasa keberatan dengan penerapan sistem itu.

Biasalah Indonesia. Kalau tidak rame, bukan Indonesia.

Tetapi pertanyaannya benarkah Sistem Zonasi PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru) Online adalah sistem yang tidak sempurna, cacat? Benarkah bahwa sistem ini terlalu terburu-buru untuk diterapkan? Benarkah hal ini memberikan keistimewaan berlebih pada anak-anak yang tinggal di dekat sebuah sekolah?

Benarkah?

Seperti Apa Sistem Zonasi PPDB Online?

Disini banyak salah kaprah dan salah pengertian dalam masyarakat bahwa seorang anak (CCC) yang tinggal di dekat sebuah sekolah, misal SMP atau SMA YYY, ia secara otomatis bisa diterima di sekolah tersebut.

Padahal sebenarnya tidak. Sistem zonasi PPDB hanya memberikan sedikit keunggulan baginya dalam bentuk tambahan nilai. Berdasarkan yang saya alami, karena kebetulan tahun ini, si kribo cilik harus masuk SMA, maka tambahan nilainya adalah (jarak rumah ke sekolah) :

  • 0-1 Km - 0.9
  • 1-3 Km - 0.8
  • 3-5 Km - 0.7
  • 5-7 Km - 0.6
  • 7-9 Km - 0.5
  • 9-11 Km - 0.4
  • 11-13 Km - 0.3
  • 13-15 Km - 0.2
  • 15-17 Km - 0.1
Ini nilai tambahan yang ditambahkan pada NEM atau Hasil Ujian Nasional. Jika hasil ujiannya 23 dan dia tinggal di rumah berjarak 0-1 Km dari sekolah, maka nilai total yang dimiliki CCC  23.9

Skor total inilah yang dipakai untuk bersaing dengan skor anak-anak lainnya. Jadi, tidak otomatis diterima, tetap ada proses seleksi dan kompetisi.

Bagaimana jika ada anak (DDD) yang tinggal di rumah berjarak 20 Km dari sekolah yang sama SMP atau SMA YYY, dan Nilai Ujian Nasionalnya 24?  Apakah CCC yang akan diterima dan posisinya berada di atas DDD yang rumahnya lebih jauh?

Tidak. Karena meskipun diberi keunggulan 23 + 0.9 = 23.9, nilai akhir  CCC tetap berada di bawah DDD yang tidak diberi nilai tambahan.

Jadi, tidak benar sistem zonasi yang menyebabkan seorang anak tidak diterima. Yang menyebabkan seorang anak tidak diterima oleh sebuah sekolah adalah karena hasil NEM, atau Ujian Nasionalnya tidak bisa bersaing dengan yang lain, alias kalah.

Cetusan orangtua yang menyalahkan sistem zonasi karena anaknya gagal diterima di sekolah tujuan seharusnya dipandang sebagai BURUK MUKA CERMIN DIBELAH. Ketidakmampuan sang anak ditimpakan kepada sebuah sistem. Kegagalan orangtua untuk mempersiapkan anaknya bersaing dalam sebuah kompetisi dibebankan kepada sistem.

Sistem Zonasi PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru) Online adalah sistem yang tidak sempurna dan tidak akan pernah sempurna?

Pertanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini :

1. Apakah mungkin sebuah kebijakan menyenangkan semua orang?
2. Apakah mungkin ada sistem buatan manusia yang sempurna?
3. Apakah mungkin semua anak ditampung di sekolah negeri?

Ketiga pertanyaan itu cukup dijawab dengan satu kata TIDAK. Tidak pernah mungkin terjadi.

Manusia adalah makhluk penuh kekurangan, jadi sistem apapun yang dibuatnya juga akan penuh kekurangan dan masalah. Sebagai hasilnya, maka sistem itu tidak akan bisa memuaskan dan membahagiakan semua orang.

Jadi, tidak akan pernah ada sistem yang sempurna, termasuk sistem zonasi PPDN 2017-2018. Diperbaiki dan diutak-atik seperti apapun, sistem itu akan tetap ada kekurangannya. Tahun ini tidak sempurna, tahun depan juga akan tetap tidak sempurna.

Apalagi jika kata sempurna dikaitkan dengan memuaskan semua orang. Hal itu tidak mungkin terjadi sama sekali. Dengan penduduk ratusan juta jiwa, tidak mungkin membuat mereka merasa senang dan bahagia semuanya. Sebuah hal yang absurd dan tidak masuk akal untuk mencoba menghasilkan sistem yang bisa melakukan hal itu.

Terlebih lagi, jika pertanyaan ke-3 diulik lebih dalam. Berapa sekolah negeri yang tersedia di Indonesia? Di Kota Bogor saja hanya ada 10 SMA Negeri dengan daya tampung 2200 saja, sedangkan yang berlomba masuk ke SMA Negeri mencapai lebih hampir 6 ribu orang.



Sejak awal memang sudah pasti bahwa tidak semua anak akan diterima. Hanya sebagian kecil saja dan bagian terbesarnya harus mencari sekolah lain.

Dengan melihat angka ini, sudah bisa dipastikan sebagian besar anak dan orangtua akan gagal dan merasa kecewa. Dan, biasanya banyak dari yang gagal akan menyalahkan sistem yang tidak mendukung keinginan mereka. Sistem zonasi PPDB Online dibuat berdasarkan kenyataan lebih banyak orang yang kecewa dibandingkan yang gembira. Tahun depan pun bisa dipastikan akan terjadi hal yang sama lagi.

Sistem apapun yang dibangun akan menjadi tidak sempurna (menyenangkan semua orang) dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Sebuah sistem dibangun tidak pernah ditujukan untuk memuaskan semua orang, itu fakta tak terbantahkan.

Bagaimana Menyikapi Sistem Zonasi PPDB Online?

Sederhana saja.

Pandang sebagai sebuah kompetisi, perlombaan.

Dalam sebuah kompetisi, panitia akan menetapkan sistem dan aturan perlombaan dan menyediakan "hadiah" untuk yang menang.

Pemenangnya hanya sedikit karena itu ada juara 1, 2, 3 atau pemenang harapan 1,2,3,4,5 dan seterusnya. Tidak semua orang akan menang.

Dengan memandang sistem zonasi PPDB Online atau sistem apapun, kita akan terhindar dari banyak hal, seperti dicurangi dan tidak merasa didukung. Kita akan lebih sportif dan bijak dibandingkan berkata bahwa ada kecurangan ini itulah.

Sudut pandang seperti ini juga membangun mentalitas siap bersaing dalam kondisi apapun. Sistem PPDB membutuhkan perjuangan cukup lama, 6 tahun untuk anak SD, 3 tahun untuk anak SMP. Bukan sebentar. Orangtua harus membangun anaknya dengan berbagai cara agar mereka siap berkompetisi dan bersaing saat hendak masuk ke jenjang berikutnya.

Kegagalan sang anak dalam memanfaatkan sistem zonasi PPDB Online, sebenarnya adalah kegagalan orangtua juga. Mereka tidak berhasil mendidik sang anak untuk memiliki kemampuan yang cukup di Ujian Nasional dan juga salah menerapkan strategi pemilihan sekolah tujuan.

Bukan salah sistem.

Kegeramana orangtua yang mengatakan hal-hal yang buruk menyikapi kegagalan anaknya masuk sekolah tujuan, seharusnya dialamatkan kepada diri mereka sendiri.

Mereka gagal melihat bahwa anak-anak yang lain begitu maju , berkembang dan memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan anak mereka. Mereka terlalu tinggi memandang kemampuan diri anaknya seakan anak mereka yang paling pintar dan kegagalan karena mereka dicurangi.

Demo-demo pemaksaan agar anaknya diterima di sekolah tertentu adalah cara orang-orang yang tidak siap untuk bersaing.

Jika anak siap bersaing, maka sistem apapun yang dipergunakan, dirubah sedemikian rupa tidak akan mengurangi kemampuannya untuk menjadi pemenang. Tetapi, jika mereka tidak memiliki kesiapan bersaing, sistem semudah apapun, maka ia tidak akan pernah siap untuk berkompetisi.

Sistem zonasi PPDB Online tidak sempurna, jelas itu. Sistem ini juga tidak akan pernah sempurna di masa yang akan datang. Jangan pernah berharap kesempurnaan karena tidak mungkin terjadi.

Yang bisa dilakukan adalah tetap berjuang bersama anak dan mempersiapkan mereka untuk mampu bertarung dan berkompetisi dalam kondisi apapun. Bukan merengek dan menjatuhkan kesalahan kepada orang lain.

Apakah saya pernah mengalaminya? Yah, begitulah. Tidak tahun ini, karena kebetulan si kribo kecil berhasil diterima di SMA Negeri, meskipun bukan SMA Negeri Favorit, tetapi ia berhasil di PPDB Online dengan sistem penzonaan kali ini.

Tiga tahun yang lalu, saat ia hendak masuk SMP, ia termasuk barisan yang gagal. Nilai NEM atau Hasil Ujian Nasionalnya kalah bersaing dan ia harus melupakan impiannya sejenak diterima di sekolah negeri.

Ia pernah gagal, tetapi kali ini berhasil.

Sesuatu yang membuat saya bangga dan bahagia. Bukan karena berhasil mengatasi sistem zonasi PPDB Online, tetapi karena ia bangkit dari kegagalan dan berjuang mencapai apa yang ia mau. Kemauan untuk terus belajar dan berjuang meski pernah tertimpa kegagalan.

Sebuah hal yang sangat mahal dan jelas akan berguna bagi dirinya di masa depan.

Buat kami, sistem zonasi atau sistem apapun bukanlah sebuah masalah. Si kribo mungkin akan gagal lagi, tetapi dengan pengalaman sebelumnya, saya yakin ia akan bangkit lagi dan berjuang lagi. Itu yang lebih penting.

Yang pasti, saya tidak akan menyalahkan sistem yang dipakai. Pepatah BURUK MUKA CERMIN DIBELAH selalu mengandung arti buruk dan tidak selayaknya dilakukan dalam kehidupan.


Mengapa Orangtua Harus Mengajarkan Anak Melepas Sepatu atau Sandal Kalau Mau Naik Ke Bangku Kendaran Umum


Hal sederhana sebenarnya, tetapi hal kecil ini bisa menunjukkan bahwa orangtua sudah mengambil peran sebagai orang pertama yang mengajarkan tentang sopan santun. Hal yang dimaksud adalah tentang anak melepas sepatu atau sandal kalau mau naik ke bangkun kendaraan umum.

Bukan sebuah hal yang tidak dimengerti para penumpang dewasa kalau melihat anak-anak merengek untuk melongok keluar jendela kendaraan umum. Bagi kita, orang dewasa, hal itu sudah biasa dan membosankan, tetapi bagi para bocah, hal itu adalah sebuah pengalaman baru. Mereka bisa melihat dunia "baru" yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Jadi, bukanlah sebuah masalah dan banyak orang akan maklum.

Tetapi, tetap saja para orngtua harus tetap mengajarkan anak untuk melepaskan alas kaki saat hendak naik ke atas kursi kendaraan umum.

Mengapa demikian?

Sepatu dan Sandal itu Kotor

Sudah kodrat para alas kaki. Benda-benda ini dibuat untuk melindungi kaki manusia dari terkena kotoran dengan mengorbankan dirinya. Alas kaki lah yang menjadi tameng agar kaki tetap bersih sedangkan mereka yang terkena kotoran.

Nah, kotoran itu tentunya akan terbawa dan mengenai kursi atau bangku jika dibawa naik dan menginjak tempat duduk. Padahal bangku atau kursi kendaraan umum dipergunakan banyak orang secara bergantian.

Tidak akan ada yang mau pakaiannya terkena kotoran.

Ada Etika di Kendaraan Umum

Bagaimanapun ada etika dan sopan santun di dalam kendaraan umum sekalipun. Mereka tetap masyarakat yang mengikuti tata cara dan norma yang ada.

Sejak kecil, kita selalu diajarkan bahwa sepatu dan sandal tempatnya di bawah dan tidak seharusnya dibawa naik ke kursi atau tempat duduk. Itu tidak sopan. Begitulah kita selalu diingatkan. Kalau tidak percaya coba saja naikkan kaki Anda yang bersepatu ke atas kursi saat bertamum pastilah Anda akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.

Dengan mengajarkan anak melepaskan sepatu atau sandal saat hendak naik ke bangku kendaraan umum, berarti kita mengajarkan mengenai etika dan sopan santun sejak dini.

Menghindari konflik dengan penumpang lain

Semua orang mungkin maklum tingkah anak kecil, tetapi banyak yang tidak bisa memaklumi aksi itu dilakukan saat kalau alas kakinya ikut dibawa. Kebanyakan dari mereka akan menahan diri dan hanya melirik kesal kepada si anak (atau Anda).

Tetapi, ada juga yang tidak bisa menahan diri. Mereka akan nyeletuk yang mungkin akan menyebabkan Anda tersinggung, seperti "Dasar Ndeso (kampungan)". Pastilah tidak enak untuk didengar dan pada akhirnya bisa memancing emosi.

Konflik seperti ini tidak perlu terjadi jika kita, sebagai orangtua "tahu diri".

Memang hal kecil dan dianggap remeh, tetapi mengajarkan anak melepas sepatu atau sandal saat naik ke kursi angkutan umum bisa menunjukkan kualitas Anda sebagai orangtua.

Apakah Anda orangtua yang paham sopan santun atau tidak? Apakah Anda orang bisa mengajarkan tentang etika atau tidak? Apakah Anda, peduli terhadap orang lain atau tidak?

Semua bisa terjawab dari hal seremeh ini.

Kasus Balita Diserang Siamang : Dimana Orangtuanya? Mengapa Menyalahkan Orang Lain?

kasus balita diserang siamang - kemana orangtua
Siamang - Kredit Foto Wikimedia Commons
Mengenaskan. Itulah rasa yang timbul saat membaca berita tentang "Kasus Balita Diserang Siamang" di Taman Rakyat Kebon Rojo Kota Blitar. Seorang balita berusia 1,5 tahun harus kehilangan jarinya karena dicakar oleh siamang, Symphalangus syndactylus, dari dalam kandang. (Sumber : Detik.com)

Menarik untuk dibahas juga karena ternyata orangtuanya kemudian menyesalkan alias menyalahkan pihak pengelola karena dianggap tidak memberikan pengamanan yang memadai sehingga hewan tersebut bisa "menyerang" pengunjung.

Lucu, sebenarnya. Tetapi, tidak mengherankan karena sudah biasa melihat seseorang mencari kambing hitam atas sebuah kesalahan yang terjadi. Jarang sekali ada yang mau melakukan introspeksi diri dan menunjuk dirinya sebagai biang penyebab hal itu.

Kasus balita ini, jika ditelaah, akan menyediakan beberapa fakta sebagai berikut :

  • Siamang berada di dalam kandang
  • Pengelola sudah memberi peringatan agar pengunjung tidak terlalu dekat dengan kandangnya karena sudah diketahui kerap menganggu pengunjung karena tangan sang satwa bisa keluar
  • Bocah yang terkena musibah itu berusia 1,5 tahun
Tetapi, berita "Kasus balita diserang siamang" tersebut tidak menyebutkan satu hal : DIMANA ORANGTUA SANG BOCAH?

Penting, karena hal ini menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan terletak pada "pengamanan" hewan tersebut, tetapi kecerobohan dan kelalaian pihak orangtua lah yang menyebabkan hal itu terjadi. Pernyataan yang menyalahkan pengelola adalah usaha dari sang orangtua untuk menutupi kelalaian yang dilakukan oleh pihaknya.

Ada logika yang sangat tidak masuk akal dan bisa diterima dalam hal ini.

1) Usia sang anak baru 1,5 tahun saja, lalu bagaimana ia bisa mendekati kandang siamang seorang diri?

2) Tentunya tidak bisa. Berarti sang bocah membutuhkan bantuan seseorang untuk mendekatinya, bukan begitu? Berarti si orangtua yang membawanya kesana. Lalu, apakah orangtua tidak bisa membaca papan peringatan "Awas binatang buas, dilarang mendekat"

3) Mengapa orangtua sang bocah membawa anaknya sampai jarak yang begitu dekat hingga bisa dijangkau? Padahal, tangan siamang tidak terlalu panjang.

Usaha menekankan kesalahan pada pihak pengelola karena tidak memberikan pembatas adalah sebuah usaha absurd dari orangtua sang bocah untuk mencari kambing hitam. Sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.

Kesalahan itu mutlak ada pada orangtua. Orangtua tidak melakukan perannya dalam menjaga anaknya disana.

Berkunjung ke tempat wisata tetap mengharuskan para orangtua untuk fokus terhadap putra-putri kesayangan mereka. Tidak ada alasan untuk meninggalkan peran sebagai penjaga hanya demi kesenangan diri sendiri.

Dan dalam kasus balita diserang siamang ini, jelas sekali orangtua sang bocah tidak melaksanakan tugasnya untuk melindungi sang anak. 

Sesuatu yang mengenaskan melihat betapa lalainya sang orangtua. Mengenaskan lagi ketika ia mencoba menyalahkan orang lain atas kebodohannya sendiri, sebuah cermin ketidakmauannya mengoreksi diri.
 


Sudahkah Kita Mengajarkan Kepada Anak Memaksimalkan Penggunaan Smartphone?


Anak memiliki smartphone itu biasa, tetapi anak bisa menggunakan dan memanfaatkan gadgetnya secara maksimal itu tidak biasa. Jangankan anak-anak, banyak orangtua pun bahkan tidak pernah sadar bahwa perangkat yang ada di tangan mereka adalah sebuah benda yang sangat "powerful" dan bisa membantu pengembangan diri.

Mungkin apa yang akan saya katakan seperti bertentangan dengan apa yang banyak disarankan oleh para ahli atau orangtua-orangtua "bijak" (atau merasa bijak) untuk membatasi penggunaan smartphone. Banyak argumen yang dikemukakan, dimana salah satunya adalah masalah sosialiasi yang berkurang dan sejenisnya. Sebenarnya tidak demikian halnya, mengajarkan anak memanfaatkan smartphone atau gadget mereka secara maksimal tidaklah berlawanan dengan hal itu.

Cobalah kita pertanyakan kepada diri sendiri, bagaimana Anda menggunakan smartphone yang ada. Kebanyakan dari kita hanya menggunakan perangkat tersebut untuk melakukan hal ini

  • chatting via WA/Line/KakaoTalk dan lainnya
  • mengupdate status di media sosial
  • memotret, terutama melakukan selfie
  • melakukan editting foto untuk dipajang di media sosial
  • menonton video di Youtube
Bukan begitu?

Pernahkah Anda mengajarkan anak untuk menggunakan smartphone untuk

  • Membuat blog
  • Membuat foto yang sesuai dengan kaidah fotografi
  • Mengirimkan email
  • Menemukan informasi memanfaatkan Google OK
  • Mempromosikan sesuatu
  • Mengerjakan tugas
  • Membaca buku via Kindle
  • Dan masih banyak lainnya sesuai dengan aplikasi yang terpasang di sebuah smartphone
Pernah?

Kebanyakan tidak. Terkadang kita membiarkan mereka hanya sibuk menggunakan yang umum saja.

Padahal sebuah smartphone, seberapapun murahnya, sebenarnya adalah sebuah komputer mini yang bisa melaksanakan berbagai fungsi dan tugas. Smartphone bertujuan untuk membuat manusia menjadi mobile dan tetap terhubung dengan manusia lainnya dalam keadaan tetap bergerak. Banyak aplikasi yang dibuat untuk membuat manusia menjadi produktif dan kreatif.

Memang, smartphone juga memiliki fungsi sebagai sarana hiburan dan bersosialisasi. Tidak masalah jika seorang anak juga mencari hiburan dengan mendengarkan musik atau Youtube.

Hanya, saja mereka juga harus belajar bahwa benda tersebut bertujuan untuk mempermudah kehidupannya di masa yang akan datang. Di masa sekarang saja, kehidupan manusia sudah cenderung menjadi mobile, bagaimana di masa datang? Sudah pasti akan lebih mobile dan tergantung pada perangkat seperti ini (atau lebih canggih).

Bukan sebuah hal baru bahwa masyarakat di negara maju melakukan transaksi bisnis via gadget mereka. bukan hal aneh melihat orang berdiskusi melalui video call. Bukan juga sesuatu yang tidak umum mereka membaca buku melalui gadget.

Banyak hal yang bisa dilakukan dengan smartphone. Termasuk diantaranya mencari uang melalui smartphone mereka (pernah mendengar seorang fotografer fashion yang memanfaatkan iPhone-nya untuk menghasilkan foto-foto untuk dipasang di majalah yang mempekerjakannya?)

Orangtua harus mau mengajarkan berbagai fungsi yang bisa dilakukan oleh sebuah smartphone. Hal itu akan menghindarkan anak dari

  • kegagapan dalam menggunakan teknologi baru
  • membuatnya terbiasa tidak memanfaatkan sesuatu yang tidak dimengertinya
  • menganggap bahwa teknologi hanya penting bagi hiburan dan komunikasi saja
  • ketidakmampuan untuk berpikir kreatif karena terfokus pada unsur hiburan 
Smartphone adalah sebuah alat yang sangat powerful. Dulu orang membayar mahal untul sebuah Digital Assistant (asisten digital) yang kemampuannya hanya 1/10 smartphone di masa kini.

Bayangkan berapa banyak daya terbuang hanya karena benda itu dianggap sebagai alat untuk eksis di dunia maya.

Sayangnya, banyak sekali orangtua yang tidak mampu mengajarkan pemanfaatan secara maksimal karena mereka sendiri gagap terhadap teknologi dan tidak mau belajar tentang hal itu. Mereka menghilangkan kesempatan anak untuk mendapatkan banyak hal dari smartphone mereka.

Resiko Menyogok Untuk Masuk Sekolah Negeri atau Favorit


Beberapa hari yang lalu, di saat saya memperhatikan statistik pengunjung di sebuah blog yang saya kelola, saya terkesima. Dalam statistik tersebut ada pengunjung yang datang karena ia mencari cara untuk melakukan sesuatu. Yang dicarinya adalah :

"Gimana cara menyogok sekolah negeri"
Perhatikan di bawah ini screenshot dari kata kunci yang dimasukkan ke mesin pencari Google, supaya saya tidak disangka mengada-ada. Silakan lihat kalimat yang di dalam kotak berwarna merah.

Terkejut. Jelas sekali rupanya pemikiran curang sudah begitu merasuk pada banyak orang sehingga ia berpikir bahwa akan ada informasi tentang melakukan sebuah kecurangan seperti itu.

Memang sih, Google atau internet menyediakan apa saja bahkan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Meskipun demikian tetap, saja hal itu mengejutkan dan mengagaetkan bahwa ada orang yang terang-terangan ingin melakukan hal-hal yang tidak jujur seperti itu.

Pada saat tulisan ini dibuat memang sedang dalam periode pergantian tahun ajaran. Tentunya di masa itu para orangtua, dan tentu saja anak mereka akan berada pada situasi yang tegang.

Para orangtua sudah pasti berharap bahwa anaknya bisa masuk ke sekolah negeri atau favorti. Kebanyakan orangtua berpikir bahwa dengan mendapat pendidikan di sebuah sekolah yang terkenal bisa memastikan bahwa anaknya akan menjadi pintar dan masa depannya cerah. Oleh karena itu tidak heran banyak orangtua akan berbuat apa saja, untuk memastikan anaknya masuk ke sekolah negeri, atau favorit di kotanya..


Sesuatu yang sebenarnya tidak selalu demikian. Masa depan cerah adalah gabungan banyak hal, pendidikan, karakter, kerja keras, semangat, dan masih banyak hal lainnya. Bukan sekedar mendapat pendidikan di sekolah favorit.

Hanya sedikit yang menyadari bahwa hal itu juga memberikan dampak yang kurang baik bagi anak mereka dan juga keluarganya.

1. Mengajarkan Berbuat Curang

Menyogok adalah perbuatan curang untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya. Perbuatan ini baik secara hukum positif dan hukum agama adalah sesuatu yang dilarang karena berarti merampas hak yang seharusnya milik orang lain.

Bagaimana bisa menjadikan anak kita seorang yang berintegritas jika ia diajarkan dan diberi contoh tentang melakukan kecurangan. Hal ini bisa beresiko menyebabkan si anak akan mencontoh di masa depan.

Ia bisa menganggap bahwa hal itu sesuatu yang wajar, memberi dan menerima sogokan.

2. Tidak Mengajarkan Anak Konsekuensi

Kegagalan seseorang biasanya merupakan perwujudan dari usahanya. Nilai NEM atau hasil ujian yang kurang memuaskan adalah perwujudan dari kurangnya usaha untuk belajar dan berkompetisi dengan baik.

Jika, kemudian hal itu diselesaikan dengan memberikan "uang di bawah meja" , maka si anak akan terbiasa untuk berpikir bahwa ia tidak perlu berjuang dan berusaha secara sungguh-sungguh. Toh, orangtuanya akan menyelesaikannya dengan cara apapun.

Bagaimana bisa ia berkompetisi dengan yang lain, ketika ia tidak pernah sadar apa konsekuensi dari tindakannya. Sang anak bisa jadi bertambah malas dan asal-asalan dalam belajar.

3. Anak Tidak Bisa Mengikuti Pelajaran di Sekolah

Suka atau tidak suka, passing grade atau batasan nilai ujian minimum sebagai syarat penerimaan berkaitan dengan tingkat kemampuan seorang anak.

Semakin tinggi passing grade yang ditetapkan, maka semakin ketat pula pelajaran dan persaingan di sekolah tersebut.

Jika seorang anak dengan kemampuan rendah dipaksakan masuk ke sekolah negeri atau favorit, hal itu sering menyebabkan sang anak tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah yang dimasukinya. Pada akhirnya bisa menimbulkan tekanan tersendiri bagi si anak.

Bagaimana bisa orangtua membentuk anak menjadi tangguh, kreatif, dan siap menghadapi persaingan global jika ia dimanjakan dengan cara curang seperti itu. Ada resiko dan bahaya tak terlihat dalam sebuah usaha menyogok untuk masuk sekolah negeri atau favorit. Sesuatu yang dampaknya baru terasa setelah beberapa tahun dan terwujud dalam sikap dan karakter si anak.

Hal tersebut pernah saya hadapi ketika si kecil tidak berhasil masuk SMP Negeri tiga tahun yang lalu. Beberapa tawaran untuk memasukkannya ke sekolah negeri favorit via "jalur khusus nan tidak resmi" diterima. Tetapi, saya memutuskan untuk tidak melakukannya.

Terlalu mahal yang harus dibayar. Bukan uangnya, tetapi "harga" di masa depan yang harus dibayar si kecil. Saua tidak ingin ia menjadi orang yang curang dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sudah terlalu banyak orang curang di negeri ini, dan saya tidak mau bertanggungjawab menjadi untuk menghasilkan satu lagi.

Tidak mudah melakukannya, tetapi setelah beberapa tahun berlalu, saya mensyukuri jalan yang telah dipilih. Si kecil berkembang menjadi anak yang mengerti tentang mana yang benar dan salah dengan baik. Ia pun menjadi lebih tangguh dari sebelumnya.

Semoga hal itu terus berlanjut sampai nanti.

Jadi, kawan pembaca. Janganlah pernah berpikir untuk menyogok sekedar untuk memasukkan anak ke sekolah negeri atau favorit. Tidak sepadan dengan resiko dan "harga" yang harus dibayar. Apalagi, hal itu tidak menjamin apapun.

Orangtua Juga Harus Mengajarkan Etika dan Sopan Santun di Kendaraan Umum

Tidak semua ketenaran diimpikan oleh orang. Cobalah tanyakan hal itu kepada Shafira Nabila Cahyaningtyas, seorang mahasiswi pengguna jasa Commuter Line alias KRL, pasti ia akan membenarkan bahwa kalau bisa ia tidak mau menjadi tenar dengan cara seperti ini.

Sebenarnya hal yang dilakukannya sederhana saja, dan juga bukan sebuah kriminalitas. Ia mungkin hanya sedang khilaf atau lupa tentang ajaran orangtua tentang etika dan sopan santun di kendaraan atau angkutan umum (atau mungkin orangtuanya tidak pernah mengajarkan hal ini).

Ia melakukan tindakan yang banyak dilakukan oleh para anak muda atau ABG "milenial" tentang sesuatu hal. Sesuatu yang biasa saja. Masalahnya hanyalah topik yang dikemukakannya, itulah yang membuatnya menjadi terkenal dalam artian "buruk".

Shafira mencerca dan menghujat ibu hamil dan Petugas Keamanan Dalam Commuter Line hanya karena diminta "menyerahkan" tempat duduknya kepada seorang ibu hamil. Ia kemudian melontarkan kecaman terhadap sang ibu hamil karena ternyata setelah diberikan duduk, sang wanita yang sedang mengandung tidak tidur dan justru bermain dengan handphone-nya.

Jika hal itu dilakukan secara diam-diam dalam keluarga atau dengan teman, mungkin hal itu tidak akan berubah menjadi mimpi buruk baginya. Sayangnya, ia melontarkannya di akun Facebook miliknya.

Pepatah "Siapa menabur angin akan menuai badai" segera memperlihatkan wujudnya. Ribuan kecaman, sumpah serapah, makian, doa buruk dilontarkan para netizen kepada dirinya. Bukan hanya memaksanya harus mengeluarkan permintaan maaf secara terbuka, tetapi pada akhirnya akun Facebook miliknya pun harus dihilangkan dari peredaran. Langkah yang tepat mengingat dengan viralnya status yang dibuatnya, bisa dibayangkan banjir kecaman yang akan terus membanjiri akun FB-nya.

Hampir pasti, Shafira tidak akan pernah bisa tidur dengan nyaman. Bahkan, dengan dihapuskannya akun FB-nya, tidak berarti ia sudah terlepas dari pandangan sinis atau omongan nyinyir dari mereka-mereka yang kenal dirinya. Hukuman bagi dirinya belum selesai dengan permintaan maaf dan penghapusan akun medsos-nya.

Masih lumayan lama sebelum kemarahan orang reda.

Mengapa masyarakat marah terhadap Shafira?

Apakah mahasiswi yang menghujat ibu hamil ini melakukan kesalahan secara hukum? Adakah aturan hukum yang melarang orang mengemukakan pendapat di media sosial?

Jawabannya, tidak. Tidak ada aturan hukum yang dilanggar dalam hal ini. Paling tidak, ia hanya mengemukakan kekesalannya sendiri terhadap sesuatu dan sebenarnya juga dilakukan banyak orang. Penggunaan media sosial sebagai sarana mengeluarkan uneg-uneg bukanlah barang baru. Juga, kebebasan mengemukakan pendapat adalah sesuatu yang dijamin Konstitusi Indonesia, UUD 1945.

Tidak ada masalah tentang hal itu.

Tetapi, mengapa masyarakat dunia maya seperti geram dan marah terhadap dirinya ?

Jawabnya adalah karena pandangan yang diungkapkannya tidak sesuai dengan etika, norma, dan sopan santun dalam masyarakat. Padahal, meski tidak tertulis, kata etika, norma, sopan santun adalah sebuah bentuk "hukum" atau "aturan" yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat.

Pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap salah satu norma, atau etika memang tidak akan menyebabkan seseorang mendapatkan hukuman penjara. Masyarakat tidak memiliki wewenang untuk melakukan hal itu dan polisi atau pihak berwenang tidak akan menghukum orang hanya karena mengemukakan pendapatnya, apalagi untuk hal sepele, seperti ketidakmauan memberikan tempat duduk kepada ibu hamil.

Tetapi, jangan dilupakan, masyarakat memiliki cara untuk memberikan sanksi terhadap para pelanggar etika atau norma. Hukuman itu dikenal dengan hukuman sosial yang dilakukan secara spontan dan kecaman para neizen terhadap Shafira Nabila Cahyaningtyas adalah salah satu bentuk dari hukuman versi masyarakat itu. Para netizen dan anggota masyarakat lain akan mem-bully dan mengecam sang pelanggar dengan berbagai cara yang akan menghadirkan tekanan mental yang sangat berat.

Masyarakat akan menghajar sisi psikologis dan mental sang pelaku sebagai ganjaran terhadap apa yang dilakukannya. Hukuman yang tidak terlihat tetapi sudah pasti akan membuat para pelanggar etika atau norma akan berada dalam tekanan yang sangat besar secara psikologis.

Etika atau norma apa yang dilanggar oleh Shafira?

Memang ada etika yang dilanggar oleh mahasiswi ini?

O ya jelas ada.

Salah satu etika atau norma yang sudah dilanggar oleh Shafira adalah norma, etika, dan sopan santun dalam kendaraan umum. Jangan salah, angkutan umum dan para penggunanya adalah bagian dari masyarakat dan secara spesifik membentuk masyarakat pengguna angkutan umum.

Dan, dalam sebuah masyarakat pasti ada tatanan, etika, norma, dan sopan santun.

Bukan hanya di Indonesia. Di seluruh dunia pun aturan-aturan tidak tertulis di dunia pengguna transportasi publik ada.

Tidak serta merta sebuah etika di sebuah negara juga berlaku di negara lain (masyarakat lain).  Seperti contoh, mengantri untuk masuk ke dalam bis adalah salah satu bentuk etika yang ada di dunia pengguna transportasi publik di Inggris dan banyak negara maju, di Indonesia belum ada kayaknya. Tetapi, ada juga yang berlaku universal alias di semua masyarakat.

Nah, perlakuan khusus terhadap wanita atau ibu hamil adalah salah satu etika, norma, sopan santun yang berlaku universal. Di seluruh masyarakat, kedudukan wanita hamil atau ibu mengandung akan selalu diberikan tempat spesial dan khusus. Kategori ini akan selalu mendapat keistimewaan sama seperti anak balita, penyandang disabilitas, dan manula. Keempatnya, memang akan selalu diperlakukan secara khusus dan spesial.

Jika Anda pernah menggunakan transportasi publik di Singapura, Hongkong, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan banyak negara maju lainnya, Anda akan menemukan hal yang sama. Percayalah, saya pernah melihatnya sendiri.

Di Indonesia, walau masih dalam tahap awal, masyarakatnya pun mulai menerima etika dan norma ini, Walau masih banyak orang yang belum sadar tentang hal itu, tetapi semakin luas bagian masyarakat yang akan selalu mengistimewakan keempat kategori itu.


Dan, PT KCJ, Kereta Commuter Jabodetabek, menunjukkan hal itu. Saya juga pengguna CL alias Commuter Line atau KRL selama lebih dari 25 tahun. Bahkan sebelum seperti sekarang, masyarakt penggunanya sudah memiliki kebiasaan memberikan tempat duduk kepada ibu hamil, diminta atau tidak. Apalagi sekarang, PT KCJ selain sudah menyediakan kursi prioritas bagi keempat kategori tersebut, juga tidak henti menghimbau dan membangun kesadaran pengguna untuk memprioritaskan ibu hamil, lansia, balita, dan penyandang disabilitas.


Sayangnya, sebagai mahasiswi, yang seharusnya paham tentang hal ini, rupanya Shafira tidak peka terhadap adanya aturan tak tertulis seperti ini. Hal yang sangat mengherankan mengingat ia sudah dua tahun menggunakan jasa si Ulat besi ini.


Shafira juga tidak belajar dari kasus sebelumnya yang juga viral dan sempat membuat heboh dunia maya, dimana seorang ABG (atau mahasiswi juga) bernama DINDA melontarkan kecamannya terhadap ibu hamil juga, masalah tempat duduk juga, di Commuter Line juga, dan via media sosial juga. Pada saat itu, kecaman dan hujatan yang sama dirasakan oleh Dinda.

Keduanya melanggar etika dan norma yang sudah ditetapkan oleh masyarakat, yaitu etika dan norma yang harus dilakukan seorang yang normal terhadap kaum ibu hamil.

Itulah yang menyebabkan masyarakat marah kepada Shafira.

Para Orangtua : Ajarkan Etika dan sopan santun di kendaraan umum kepada anak Anda sedini mungkin!

Agak bingung juga melihat fakta bahwa kali ini pelaku pelanggaran etika ini bukanlah orang baru dalam dunia pengguna transportasi publik. Juga, bukan kasus yang pertama terjadi.

Lalu, mengapa bisa terulang?

Masalahnya adalah karena banyak orangtua yang menganggap remeh tentang tatacara atau sopan santun dalam menggunakan angkutan umum. Kebanyakan dari orangtua hanya mengajarkan rute dan berapa ongkos yang dibayar, tetapi kerap lupa mengingatkan bahwa ada aturan tidak tertulis di dalam kendaraan umum, seperti :

  • Jangan meludah
  • Jangan merokok
  • Memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan seperti ke-empat kategori manusia yang diberi hak prioritas
  • Pergunakan bahasa yang sopan
  • Jangan berbicara terlalu keras sehingga mengganggu penumpang lain
  • Di dalam kereta, jangan duduk di lantai, jangan membuang sampah sembarangan
  • dan seterusnya
Setiap jenis angkutan publik akan memiliki etika yang bisa berbeda, walau ada juga yang sama seperti perlakuan terhadap 4 kategori penumpang prioritas.

Hal-hal seperti ini sering dianggap remeh oleh banyak orang dan hasilnya mereka lupa menyampaikan kepada anak mereka bagaimana bertingkah laku yang sesuai di lingkungan itu.

Hasilnya, ya seperti Shafira dan Dinda inilah. Kedua anak muda ini menjadi tidak bisa menyesuaikan diri dengan standar etika dan norma yang diminta masyarakat. Mereka condong hanya melihat dari satu sisi dan tidak bisa melihat keberadaan aturan tidak tertulis dalam masyarakat pengguna transportasi publik.

Untuk itulah, para orangtua harus mengajarkan etika dan sopan santun, serta norma di kendaraan umum sedini mungkin. Ajarkan sejak masih kecil sehingga mereka paham bahwa ada aturan bahkan dalam "masyarakat" spesifik di atas kereta.

Banyak anak kecil di negara maju yang bahkan tidak akan mau menduduki kursi prioritas yang diperuntukkan untuk lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas atau balita. Mereka juga tidak segan untuk berdiri dan memberikan kepada yang membutuhkan walaupun tempat yang mereka duduki tidak dilabeli kata "PRIORITAS". Karena, mereka sudah sejak dini diperkenalkan pada etika bertransportasi umum.

Berbeda dengan di Indonesia, dimana bahkan kursi prioritas pun sering kalau tidak diminta dan dipaksa petugas, maka yang mendudukinya akan berdalih atau berpura-pura tidur.

Padahal hal yang seperti ini menunjukkan apakah sebuah masyarakat sudah beradab atau belum. Sayangnya, kasus Shafira dan Dinda ini menunjukkan pada kita bahwa masih panjang jalan yang harus ditempuh oleh masyarakat Indonesia untuk menjadi masyarakat yang lebih beradab.

Jadi, kawan pembaca, ajarkan. Tanamkan kepada anak-anak kita tentang tatacara, norma, etika, dan sopan santun di kendaraan umum. Jangan sampai suatu saat ada "badai yang datang" hanya karena kita lalai mengajarkannya.

Bayangkan saja perasaan orangtua Shafira Nabila Cahyaningtyas, dan si Dinda dalam hal ini. Saya cukup yakin Anda tidak akan mau berada di posisi mereka saat ini.

Maukah Anda?

Sekolah 8 Jam Bukanlah Masalah, Hanya Butuh Penyesuaian Saja


Ribut lagi ribut lagi. Kalau nggak ribut sepertinya nggak rame. Sesuatu yang sebenarnyanya sederhana dan tidak ruwet sama sekali terkadang dibuat ruwet dan ribeut (kata orang Sunda) supaya rame. Hal sederhana seperti sekolah 8 jam saja kenapa harus menjadi ajang perdebatan yang panjang sekali.

Kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan pengganti Anies Baswedan, Muhadjir Effendy yang menetapkan bahwa mulai tahun ajaran 2017-2018 siswa akan menjalani proses belajar di sekolah lebih panjang dari biasanya.

Jika sebelumnya rata-rata waktu anak 6-7 jam dihabiskan di sekolah, mulai awal tahun ajaran baru ini diubah menjadi 8 jam. Sebagai konsekuensinya, hari Sabtu menjadi hari libur untuk anak sekolah.

Belum apa-apa, bahkan dicoba saja belum, sudah banyak kritikan dan penolakan. Federasi Guru menolak karena katanya kebijakan ini tidak berorientasi pada hak anak, dimana salah satunya adalah waktu untuk bermain. Hal lainnya adalah bahwa tidak semua keluarga mampu membekali anak dengan bekal untuk makan siang.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) keberatan karena katanya akan mematikan madrasah dinayah yang dikelola masyarakat.Para siswa madrasah dinayah biasanya pergi setelah usai sekolah normal dan dengan diperpanjangnya waktu di sekolah mereka tidak lagi akan punya waktu untuk pergi ke madrasah. Menurut para ulama ini matinya Madrasah Dinayah bisa membahayakan pembentukan karakter dan moral keagamaan dari siswa karena biasanya.

Dan masih banyak lagi komentar dan kritikan dari banyak pihak mengenai sekolah 8 jam ini. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)

Tetapi, pihak-pihak yang mengkritik sepertinya lupa menanyakan kepada orangtua bagaimana pandangan mereka. Masing-masing sibuk dengan mengkritik berdasarkan kepentingannya masing-masing.

Padahal sebenarnya, banyak sekolah sudah melakukan hal itu sejak lama.

Saya memiliki seorang putra tingkat Sekolah Menengah Pertama dan kebetulan masuk di kelas khusus, setara dengan RSBI di masa lalu  (yang sudah dihapus). Bedanya dari kelas reguler adalah jam sekolahnya mulai pukul 7 pagi hingga 3 sore, 8 jam, sama seperti kebijakan baru sang Menteri Pendidikan.

Lalu apakah ada masalah seperti yang dikhawatirkan oleh "orang-orang" pintar dari berbagai organisasi itu?

Tidak juga.

Sang anak sendiri tidak merasa keberatan menjalani sistem tersebut. Ia enjoy dan menikmatinya. Kami orangtuanya pun bisa menerimanya. Tidak pernah ada konflik hanya karena jam bersekolah bertambah 2 jam dari yang biasa.

Bahkan, hal itu menguntungkan karena ia justru bisa menghabiskan waktunya secara produktif untuk belajar atau bergaul dengan teman-temannya di sekolah. Hal ini tentu lebih memberikan rasa tenang kepada kami sebagai orangtua dibandingkan ia terus menerus bermain game online atau dengan teman-teman di luar sekolah.

Memang, sang ibu sendiri, karena ia anak tunggal agak kesepian, tetapi bukan sebuah masalah juga karena pada akhirnya ada kesibukan yang bisa dilakukan.

Justru pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, kami lebih leluasa untuk berkumpul bersama dan melakukan aktifitas kami selama dua hari penuh dan tidak terganggu dengan kegiatan sekolah. Si kecil juga bisa membuat rencana bermain bersama teman-teman lainnya, seperti hunting foto atau nonon bioskop bersama.

Sesuatu hal yang sulit dilakukan kalau ia harus bersekolah di hari Sabtu. Tidak efektif dan tidak efisien.

Yang menjadi masalah hanyalah di awal-awal saja di saat harus melakukan penyesuaian, tetapi setelah itu semua berjalan seperti biasa dan normal-normal saja. Tidak seperti yang dibayangkan oleh para "pecinta anak" di KPAI yang membuat sepertinya ruwet dan berbahaya sekali bagi anak. Juga tidak seperti yang dikhawatirkan MUI bahwa akhlaknya menjadi buruk hanya karena tidak pergi ke Madrasah.

Rasanya, pernyataan-pernyataan yang menyatakan keberatan atau kritik sebenarnya cenderung dibuat-buat dan tidak berdasarkan data sebenarnya. Bahkan, kalau mau berprasangka buruk, lebih pada karena mereka merasa perlu berbeda dan menentang saja dibandingkan benar-benar memikirkan kepentingan anak-anak. Anak-anak adalah komoditi pembahasan saja.

Karena, kalau dilihat kenyataannya, banyak keluarga yang sudah menjalani praktek sekolah 8 jam dimana-mana, dan bukan hanya di kota besar saja. Meski sebelum ini mereka menjalani sekolah 6 jam, biasanya tidak jarang yang menambah dengan les di bimbingan belajar, atau les keahlian.

Jadi prakteknya, mereka sudah bersekolah bahkan lebih dari 8 jam setiap harinya.

Dan lagi-lagi, tidak merupakan sebuah masalah.

Memang di Indonesia, seirngkali yang tidak berkepentingan justru lebih ribut dan ramai membahas dibandingkan yang berkepentingan. Dalam hal ini, banyak dari kami para orangtua yang tidak bermasalah dengan sekolah 8 jam, tetapi kok yang ribut MUI dan Federasi Guru atau KPAI.

Memilih Antara Ibu dan Istri ? Jangan Lakukan!


"Aku adalah milik suamiku, dan suamiku adalah milik ibunya". Begitulah kalimat yang menghiasi banyak meme yang beredar di internet. Biasanya diiringi dengan pertanyaan yang diajukan, untuk kaum pria, para suami, yang "seperti" mendorong mereka memilih antara ibu dan istri.

Kelihatannya BENAR dan masuk akal, tetapi, boleh saya sarankan, jika menemukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu di internet, abaikan saja. Jangan memilih. Jangan lakukan itu.

Buat saya, pemikiran yang menempatkan dua orang wanita, "ibu" dan "istri" pada dua kutub yang bersebarangan adalah pemikiran yang bodoh dan sangat tidak kreatif.

Memang, saya menyadari bahwa ajaran agama, terutama Islam (agama yang saya anut) menempatkan ibu pada sebuah posisi yang sangat tinggi. Bagi seorang anak laki-laki, ibu adalah tanggung jawab utamanya dan ia harus berusaha membahagiakan wanita yang melahirkannya itu seumur hidupnya.

Tidak dibantah tentang hal itu. Sebagai seorang anak, memastikan kesejahteraan dan membuat bahagia ibu adalah sebuah kewajiban mengingat apa yang telah dikorbankan oleh seorang ibu bagi anaknya.

Tidak salah sama sekali.

Meskipun demikian, saya tetap akan sarankan, jangan pernah terjebak perasaan dan memutuskan untuk memilih ibu daripada istri. Jika, Anda putuskan untuk memilih ibu di atas istri, maka sebaiknya Anda jangan pernah menikah.

Lebih baik demikian karena dengan begitu Anda bisa terfokus pada membahagiakan ibu Anda tanpa perlu menyengsarakan seorang "wanita" lain, istri Anda.

O ya. Bagaimanapun seorang istri juga ingin dibahagiakan oleh suaminya. Butuh perhatian, butuh support, ingin disayang, ingin dimanja. Dan hal itu akan sulit dilakukan ketika perhatian dan fokus Anda terlalu terfokus pada mengurus ibu Anda. Besar kemungkinan ia tidak akan merasa bahagia ketika curahan kasih sayang yang diharapkannya tidak didapat karena seluruh waktu, tenaga, energi dilimpahkan kepada ibu Anda sehingga tidak ada apapun yang tersisa bagi dirinya.

Tidak akan ada rumah tangga yang langgeng ketika salah satu pihak tidak merasa bahagia menjalaninya.

Jadi, haruskah mengabaikan ibu demi istri?

Tidak juga, Sama sekali tidak bahkan. Anda menjadi anak durhak jika mengabaikan dan melalaikan kewajiban Anda terhadap orang yang membesarkan Anda. Masyarakat jelas tidak akan menyukainya dan hati nurani Anda pun akan menentang hal itu. Lalai dalam hal ini pun pada akhirnya tidak akan membahagiakan diri Anda.

Lalu harus bagaimana?

Ibu dan Istri Sama Pentingnya Bagi Seorang Pria

Tidak bagaimana bagaimana. Terimalah sebuah kenyataan penting bahwa kedua wanita itu, ibu dan istri adalah dua orang yang sangat penting bagi kehidupan seorang pria (ditambah tentunya anak). Sangat penting.

Dengan menerima kenyataan ini, maka seorang pria akan menemukan bahwa

1. Seorang pria memiliki tanggung jawab membahagiakan, merawat, dan menjaga ibunya
2. Seorang pria memiliki tanggung jawab membahagiakan, merawat, dan menjaga istrinya
Ya. Itulah fakta yang harus dihadapi seorang pria. Ia memiliki tanggungjawab yang sama. Anda mencintai istri, tentu saja, karena itulah Anda ingin hidup bersamanya. Anda menyayangi ibu Anda, wajar saja karena sebelum menikah Anda diasuh dan dibesarkan olehnya.

Tidak ada alasan untuk melepaskan salah satu dari keduanya. Para pembuat meme sering berkacamata kuda dan hanya melihat satu sisi saja. Seringkali mereka tidak melihat sisi lainnya. Agama mengajarkan kita untuk menjaga ibu, tetapi pada bagian yang lain mengajarkan kepada kita tentang bagaimana membahagiakan wanita yang menjadi istri kita.

Tidak pernah ada keharusan untuk memilih.

Anda harus menerima keduanya jika ingin hidup Anda bahagia.

Tidak ada jalan lain.

Bisakah Seorang Pria Tidak Memilih Antara Ibu dan Istri?

Jelas bisa. Dan, HARUS BISA.

Manusia diberikan otak untuk berpikir dan menemukan jalan keluar bagi setiap masalah yang ada. Dalam hal inipun,  seorang pria memang harus menggunakan akal dan pikirannya untuk bisa memenuhi kedua tugas berat tersebut.

Bukan sebuah hal yang mudah memang karena terkadang ego antara kedua wanita tersebut sering menjadi penghalang utama untuk "menyatukan" dan menghasilkan sebuah hubungan yang sehat. Butuh perjuangan dan harus dilakukan sejak awal untuk menghindari situasi yang mengharuskan seorang lelaki untuk memilih.

Hal tersebut harus dibangun sejak awal, bahkan sebelum seorang pria menikahi wanita idamannya. Dilanjutkan dengan usaha terus menerus dan konsisten agar kedua wanita tersebut bisa saling mengerti dan menerima satu dengan yang lainnya.

Sama sekali bukan hal yang mudah.

Tetapi, berdasarkan pengalaman, hal itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Bahkan, sangat mungkin dilakukan.

Cobalah beberapa langkah di bawah ini :

1. Saat Sebelum menikah : jangan hanya pacaran berdua

Kebanyakan pasangan menikah setelah melalui proses "pacaran", mayoritas. Perjodohan sudah semakin jarang dilakukan.

Periode pacaran ini merupakan kesempatan paling awal untuk mulai membangun sebuah hubungan yang sehat antara "calon istri" dan "ibu".

Jangan hanya pacaran berdua saja. Luangkan waktu agar Anda juga membiarkan "calon istri" untuk "pacaran" dengan keluarga Anda, terutama dengan sang ibu.

Tentunya, tidak akan cukup dengan hanya sekali dua saja. Hal tersebut harus dilakukan sesering mungkin agar interaksi antara kedua wanita yang Anda sayangi itu bisa terbangun dan terbentuk. Anda harus berkorban dan menekan keinginan untuk berdua dengan sang pujaan hati demi sebuah tujuan yang akan justru bermanfaat bagi kehidupan di masa datang.

2. Sesudah Menikah : Jadilah penengah

Jangan memihak. Jika salah, katakan salah. Jika benar katakan benar.

Tidak selamanya seorang ibu pasti benar. Ia pun tetap manusia yang tidak akan luput dari kesalahan. Pada saat itu Anda harus berani mengambil posisi mendukung istri dan "menentang" ibu, dengan syarat tentunya.

Syaratnya adalah Anda harus menggunakan "cara" yang baik dan benar dalam mengemukakan pandangan terhadap sesuatu. Pergunakan cara sehalus mungkin untuk menjelaskan keputusan yang Anda ambil atau pandangan Anda.

Tidak berarti juga seorang istri tidak pernah salah. Lagi-lagi, ia pun tetaplah manusia dan bisa lalai atau melakukan kesalahan. Pada saat itu, maka Anda pun harus berani berpihak pada sang ibu (jika ia mengatakan sesuatu yang benar).

3. Carilah Rezeki Sebanyak Mungkin

Banyak yang mengatakan bahwa sebaiknya gaji seorang suami diserahkan dulu kepada ibunya. Kemudian menyerahkan pembagiannya di tangan sang ibu.

Yah. Entah. Tetapi, saya melihatnya aneh sekali jika hal itu terjadi.

Bagaimana seorang pria bisa menjadi kepala keluarga ketika keputusan tentang bagaimana membagi uang hasil jerih payahnya diserahkan kepada ibu. Ia tidak akan pernah menjadi pemimpin yang bisa tegak dan harus terus bergantung pada ibunya.

Keputusan itu harus tetap ditangan seorang pria untuk memutuskan pembagian yang layak.

Bagaimana jika hanya sedikit dan kurang? Bagaimana cara membaginya? Berapa besar bagian ibu dan berapa besar bagian istri?

Inilah alasan kenapa saya sebut mereka yang membuat meme adalah orang yang tidak kreatif. Ada jalan lain yang bisa dilakukan ketika penghasilan tidak bisa mencukup kebutuhan kedua wanita yang kita sayangi tersebut dan bukan hanya harus memilih.

Hal itu adalah sang pria harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan tambahan agar kebutuhan keduanya terpenuhi. Jangan berpikir sempit dengan langsung memutuskan untuk mengutamaklan salah satunya.

Bekerjalah lebih keras hingga rezeki yang tersedia bahkan bisa berlebih bagi keduanya dengan begitu tanggung jawab terhadap keduanya pun akan terpenuhi. Tanggung jawab untuk dipenuhi dan bukan untuk dipertentangkan.

Dan, masih banyak cara dan jalan lain yang bisa dikerjakan seorang pria sehingga bisa menghindari situasi dimana harus memilih antara ibu dan istri. Selama Anda, sebagai seorang pria mau memeras otak dan tenaga untuk mencari jalan, akan selalu ada jalan pemecahan. Kecuali, Anda langsung "termakan" oleh ucapan-ucapan orang berpikiran sempit seperti si pembuat meme itu.

Lagi pula, siapa yang mengharuskan Anda memilih? Tidak ada. Keputusan itu ada di tangan Anda dan bukan si pembuat meme.

Saya beruntung. Tidak pernah berada di dalam situasi dimana harus memilih istri dan ibu. Ibu yang sudah menua tetap konsisten bahwa ia ingin anaknya bahagia dan tidak direpotkan oleh dirinya. Istri ternyata juga bisa mewakili saya dalam membantu mengurus ibu yang sudah menua dengan iklas dan senang hati.

Pertentangan memang terjadi dan perbedaan pendapat juga sering muncul, tetapi justru karena keiklasan keduanya, mereka justru bisa saling menyayang. Ibu tidak mau menyebut istri saya sebagai "menantu", ia memilih "anak" sebagai sebutan bagi wanita yang sudah menemani kehidupan saya selama 16 tahun. Istri saya pun menyebut "ibu" dengan "ibu" dan bukan ibu mertua.

Batas sosial antara keduanya sudha lebur dan mereka menjadi sebuah tim yang saling dukung dan sayang.

Entahlah bagaimana bisa begitu, tetapi bisa jadi karena apa yang ditulis di atas membuat mereka membentuk hubungan anak-ibu. Yang pasti, hasilnya membahagiakan saya sebagai seorang anak laki-laki dan seorang suami.

Saya tidak harus berada dalam kondisi dimana harus memilih antara ibu dan istri.

Anak Mencontoh Orangtua Adalah Sebuah Kewajaran - Ketika Anak Perempuan Mulai Berdandan


"Mas, si Bu BBB bercerita dia sedang bingung dan pusing tentang anak perempuannya si CCC. Ia sering membeli berbagai perangkat kosmetik dan bahkan mulai berani melakukan rias wajah dan pergi ke salon", begitu cerita istri beberapa waktu lalu.

Tersenyum mendengarnya karena saya tahu pasti bahwa si ibu BBB adalah seorang pesolek juga. Kebetulan karena ia bekerja dan sering menemui klien, maka tentunya ia harus menjaga penampilan agar tetap meyakinkan di kala melakukan negosiasi.

Sebenarnya tidak heran kalau si CCC sudah mulai gemar bersolek meskipun usianya baru kelas 1 SMA. Bagaimanapun, kodrat seorang wanita adalah ingin tampil cantik. Kebiasaan itu sudah ada sejak zaman purba.

Berbagai artefak peninggalan bersejarah menunjukkan kebiasaan wanita bersoleh sudah ada bahkan beberapa abad sebelum masehi.

Tujuan akhirnya sederhana untuk mengundang ketertarikan lawan jenisnya.

Sebuah hal yang normal sebenarnya.

Walaupun begitu, cukup dimengerti pula kekhawatiran ibu BBB melihat sikap putrinya. Di sebuah zaman dimana predator anak dan kejahatan yang mengincar wanita begitu marak, sesuatu yang sebenarnya normal bisa disalahtafsirkan sebagai mengundang kejahatan.

Itu juga sesuatu yang wajar. Tidak ada orangtua yang akan rela anaknya menjadi sasaran para hidung belang. Mereka sebisa mungkin akan melindunginya sampai saatnya untuk mengantarkannya ke pelaminan tiba. Oleh karena itu, ketika sang anak mulai berdandan pada usia yang masih belia, wajar saja kalau hal itu akan membuat orangtuanya khawatir.

Anak Mencontoh orangtua

Tidak ada asap kalau tidak ada api. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab.


Mengapa si CCC yang usianya masih agak jauh dari usia dimana kebanyakan wanita mulai memoleskan bedak, lipstick dan kosmetik lainnya kok mulai berdandan? Pasti ada sebabnya.

Kalau sedikit dipikir ulang, siswi kelas 1 SMA sebenarnya belum dituntut untuk berdandan. Banyak sekolah yang pada saat itu masih menganggap siswa yang berdandan sebagai tidak seharusnya dan tidak jarang melarang siswa wanita untuk sekedar menggunakan lipstick. Sekolah biasanya mentolerir siswi menggunakan bedak atau lipgloss yangtidak menor atau mencolok.

Lalu, mengapa s CCC seperti sudah melampaui kewajaran pada usianya?

Akan ada banyak teori yang dikemukakan. Tetapi, saya akan mengatakan "Lihat orangtuanya!".

Mengapa?

Anak pada usia si CCC masih dalam tahap "belajar" dan keingintahuannya sangat tinggi. Oleh karena itu ia akan mencoba segaal sesuatu yang menurutnya menarik. Nah, biasanya figur yang dijadikannya role model adalah orangtuanya sendiri.

Sudah pasti. Orangtua bagi seorang anak akan selalu menjadi panutan utama. Bahkan, meski banyak juga pelajaran yang diserap mereka dari masyarakat, tetapi pembentukan karakter dan jiwa seorang anak akan didominasi oleh pengaruh dari orangtuanya sendiri.

Jika, sang orangtua terbiasa terus bermain dengan smartphone, tidak akan heran kalau anaknya juga menjadi tergila-gila pada smartphone. Mereka menganggap kalau orangtua mereka boleh melakukan, mereka pun juga boleh melakukan hal tersebut.

Tidak beda dalam kasus berdandan. Seorang anak wanita akan menjadikan ibunya sendiri sebagai rujukan atau panutan bagi tingkah lakunya. Ibu BBB yang selalu tampil modis dan berdandan secara tidak sadar juga memberikan pengaruh kepada anaknya. Dengan melakukan ini tanpa memberikan pengertian, hal itu seperti memberikan contoh "Begini lo seharusnya jadi wanita".

Jadi, jika si CCC yang masih belia berdandan, kemungkinan besar karena panutannya, ibunya sendiri melakukan hal itu. Ia menganggap hal itu jalan terbaik untuk menjadi seorang wanita.

Anak akan mencontoh orangtuanya. Pepatah "buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya" bukanlah tanpa dasar. Hal itu mencerminkan bahwa anak akan cenderung mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya.

Si ibu BBB, tidak seharusnya bingung, jika ia mau melihat kepada dirinya sendiri. Kebiasaannya berdandan dan berpakaian modis, tentunya dilakukan di lingkungan rumah dimana sang anak bisa melihat dan menilai sendiri.

Bukan sebuah masalah besar, tetapi kekhawatiran seperti yang sudah disebutkan di atas juga bukan tanpa dasar. Berdandan di luar kewajaran di usianya bisa mengundang kejahatan dan juga cibiran dari masyarakat, yang tentunya tidak dikehendaki oleh orangtuanya.

Pemecahannya sebenarnya sulit atau sekaligus tidak sulit.

Tidak sulit karena caranya adalah dengan berbicara dan berkomunikasi dengan si anak.

Sang ibu dan ayah harus bisa meyakinkan kepada anaknya bahwa pada usianya hal tersebut belumlah pantas untuk dilakukan. Sang anak pasti akan menentang karena sang ibu selalu melakukannya. Tetapi, sang ibu tentunya bisa menerangkan bahwa tujuan ia berdandan tidaklah sekedar menarik lawan jenis atau tampil cantik, tetapi dikarenakan kebutuhan pekerjaan.

Sulit karena meyakinkan sang anak untuk tidak melakukan sesuatu yang dianggapnya baik untuk dirinya dan ia akan merasa tidak diperlakukan dengan adil. Mengapa sang ibu boleh dan mengapa ia tidak boleh.

Sebuah masalah yang akan selalu dihadapi orangtua.


Anak mulai berdandan bukan sebuah masalah besar, bahkan sebuah kewajaran, tetapi terkadang bisa menjadi besar jika tidak diantisipasi oleh para orangtua. Bisa menjadi lebih besar lagi, kalau orangtua tidak menyadari bahwa kesemua itu adalah akibat dirinya sendiri yang tidak memperhatikan efek dari apa yang diperbuat terhadap anak-anaknya.