Selingkuh Pasti Melibatkan 2 Orang Bukan Hanya Wanita Saja


Selingkuh adalah sebuah hubungan "tidak resmi" lewat jalur yang tidak direstui yang dilakukan salah seorang dari sepasang manusia yang terikat dalam satu hubungan. Kata ini selalu mengandung makna yang "buruk" , tidak menyenangkan, pengkhianatan, ingkar janji.

Alasannya bisa beragam. Biasanya pelakunya akan berargumen dan mencarikan pembenaran terhadap "pengkhianatan" yang dilakukannya.

Para pelakunya biasanya akan menghadapi kecaman, cacian, dan makian dari berbagai pihak,bukan hanya dari orang yang menjadi pasangan "resmi" dari yang berselingkuh tadi, tetapi juga dari masyarakat. O ya, masyarakat akan memiliki norma yang walau tidak terlihat tetapi ada.

Pengkhianatan atau selingkuh termasuk dalam sebuah hal yang dianggap sebagai melanggar norma dan etika dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Dan, masyarakat tidak bisa menerima hal itu.

Hanya dalam kasus selingkuh antara suami dan istri, terkadang masyarakat pun bisa memberikan hukuman yang berbeda terhadap para pelaku selingkuh.

Kasus Jennifer Dunn dan Faisal Harris misalnya. Kasus "selingkuh" yang menjadi buah bibir karena tersebar ke media massa dan media sosial, menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan saat masyarakat memberikan "hukuman sosial" kepada para pelakunya.

Dukungan ribuan orang diberikan kepada anak pelaku selingkuh,Faisal Harris, yang bernama Shafa Aliya saat melabrak wanita yang dipandangnya sebagai penyebab hancurnya keluarganya. Tidak sedikit yang mengatakan akan melakukan hal yang lebih "gila" lagi kalau berada dalam posisi demikian.

Netizen, warganet, masyarakat, melabelkan kata "PELAKOR" (Pencuir Laki orang) kepada wanita sosialita ini.

Pertanyaannya, kok tidak ada hukuman atau label yang disematkan kepada sang Faisal Harris. Lelaki yang sebenarnya pelaku selingkuh yang sesungguhnya.

Ia yang mengkhianati janji suci dengan istrinya dan memutuskan bahwa keluarganya tidak lagi penting untuk dipertahankan demi wanita lain.

Mengapa hanya si Jennifer Dunn saja yang terkena hukuman sosial? Apa hukuman yang diberikan kepada pihak lelakinya?

Selingkuh bukanlah kata bermakna singular/single. Pelaku selingkuh tidak pernah satu orang, ia akan berpasangan. Satu orang wanita dan satu orang pria, bisa juga dua pria atau dua wanita.

Tidak mungkin satu orang.

Jadi, mengapa hukumannya hanya dikenakan pada pihak wanita saja?

Tidak akan ada selingkuh ketika seorang pria yang sudah beristri/berpasangan bisa menolak godaan dari wanita lain. Begitu juga, tidak akan ada selingkuh kalau seorang wanita tidak menerima cinta dari orang yang bukan pasangannya.

Pria dan wanita bisa digoda. Mau sudah berpasangan/menikah atau belum, bisa terjadi. Tetapi, mereka punya hak untuk MENOLAK godaan tersebut. Bila mereka bisa menolak, maka tidak akan ada selingkuh, yang ada adalah seorang wanita/pria yang setia dan penggoda.

Tetapi, ketika pria dan wanita berpasangan itu menerima, maka jadilah selingkuh.

Jennifer Dunn bisa jadi bersalah. Tetapi, Faisal Harris juga sama bersalahnya.

Seharusnya hukuman netizen dan warganet juga harus sama kerasnya terhadap keduanya, dan bukan hanya kepada pihak wanitanya. Karena, keduanya lah yang menyebabkan hancurnya sebuah rumah tangga dan keluarga.

Jambakan, makian, cercaan, harus dilontarkan kepada keduanya.

Baru itu bisa disebut adil karena selingkuh selalu melibatkan dua orang.

Tidak Perlu Terlalu Berlebihan Memandang Nilai di Raport Anak


Raport. Entah darimana asal katanya. Dalam bahasa Inggris, bahasa darimana diduga asal kata ini, kata "raport" itu tidak ada. Yang ada "report" dan "rapport".

Kata pertama berarti laporan. Kata kedua, lebih sulit untuk dijelaskan, bermakna hubungan harmonis antar manusia dalam sebuah kelompok.

Tidak tahu jelasnya asal muasal kata raport itu sendiri.

Yang pasti, setiap ada pembagian "raport", maka banyak orangtua yang akan mengalami panas dingin, cemas, khawatir, atau galau istilah masa kininya.

Rasa-rasa itu hadir karena banyak orangtua menyadari kalau mereka akan dihadapkan pada situasi dimana mereka harus memutuskan untuk "merasa malu", "merasa bangga", harus memuji atau harus memarahi anak kesayangan mereka. Dan, mereka tidak bisa menduga sampai mereka melihat nilai-nilai di raport buah hati mereka.

Nilai di raport yang bagus akan membuat mereka "bangga" dan biasanya segera mengupdate status dengan ucapan "Hasil kerja keras anakku, selamat ya sayang". Kalau nilainya rendah, biasanya tidak akan ada status Facebooknya, tidak ada status yang mengatakan "Kamu ngapain aja sayang. Ini hasil kamu main game terus".

Kalau ada yang begitu, jempol saya empat-empatnya akan diacungkan untuk si pembuat.


Menanti saat pembagian raport adalah saat yang menegangkan. Tidak sama seperti menunggu saat bayi dilahirkan, tetapi banyak orangtua akan merasa mules dan tegang menanti lembaran-lembaran berisi nilai prestasi anaknya disuguhkan di depan mata.

Tidak jarang ada orangtua yang tiba-tiba merasa lemas saat memandang nilai-nilai rendah tertera di lembaran raport anaknya. Dunia bisa tiba-tiba terasa suram dan masa depan anaknya seperti gelap.

Angka 40,50, adalah angka sial yang tidak pernah diharapkan hadir. Angka 60 hanya cukup membuat para orangtua merasa lega sedikit. Angka 70-80 menghadirkan senyuman. Angka 90-100 bisa membuat orangtua langsung merasa berada di langit lapisan ke 5 (belum sampai ke 7 tapinya).

Begitu kuatnya pengaruh raport anak pada mood para orangtua.

Padahal seharusnya tidak demikian.

Nilai raport adalah angka statistik saja.

Angka ini tidak menentukan apa-apa dan tidak seharusnya para orangtua mengambil kesimpulan terlalu dalam dan jauh dari angka-angka itu.

Nilai di raport tidak menentukan masa depan anak dan buah hati kesayangan kita. Apa yang tertera di dalamnya hanyalah semacam indikator saja.

Indikator sejauh mana seorang anak :

  1. 1. Mampu menyerap pelajaran formal di sebuah lingkungan pendidikan formal tertentu
  2. 2. Kemampuan anak dalam berkompetisi dengan anak-anak seusianya dalam hal tertentu
Tidak kurang, tidak lebih.

Itu saja.

Dengan laporan dari pihak sekolah, dimana para orangtua menyerahkan sebagian wewenang mereka dalam mendidik anak, para orangtua bukan diharapkan untuk merasa malu, bangga, sombong, minder. Yang pasti, orangtua tidak diharapkan untuk menatuhkan vonis masa depan anaknya SURAM atau CERAH.

Kenyataannya tidak demikian. Masa depan anak, berhasil atau tidaknya, terlalu jauh untuk bisa diprediksi hanya berdasarkan nilai raport saja.

Yang diharapkan dari para orangtua adalah

1. Menemukan kelebihan dan kekurangan anak mereka berdasarkan data yang tersedia


Dengan angka-angka yang ada bisa dilihat dimana seorang anak memiliki kelemahan. Selain itu, bisa dilihat apa yang menjadi kekuatan dari sang anak.

Ingat saja. Setiap anak itu berbeda. Masing-masing, persis orangtuanya, punya kelebihan da kekurangan.

Nilai raport bisa membantu para orangtua mengarahkan sang anak. Yang lemah diperbaiki, yang sudha bagus dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut.

2. Mengingatkan sang anak akan kerasnya kompetisi di kehidupan nyata


Kompetisi ada dimana-mana dan di zaman kapanpun. Bukan hanya sekarang.

Nlai raport dapat berguna untuk menjelaskan kepada anak betapa persaingan di dunia nyata sering begitu keras dan membutuhkan semangat dan kemauan untuk survive yang tinggi. Angka yang ada di laporan dari sekolah itu dapat dipakai sebagai indikator kemampuan sang anak dalam berkompetisi dengan yang lainnya.

3. Pencapaian terhadap target/tujuan


Seseorang yang ingin menjadi seorang dosen, profesor, akuntan dan lain sebagainya memerlukan pencapaian tertentu di pendidikan formal, seperti nilai raport harus 80-90 secara rata-rata.

Pencapaian nilai raport yang di bawah target bisa menggagalkan target yang diinginkan. Untuk itulah para orangtua bisa menggunakan apa yang tertulis di raport untuk melihat "peluang" keberhasilan pencapaian target dan tujuannya.

4. Melakukan koreksi

Walau hanya sekedar angka, nilai di raport jika dikombinasikan dengan tingkah laku anak sehari-hari, bisa menghasilkan sebuah langkah "koreksi".

Angka raport yang rendah bisa diartikan "kurang belajar", "kurang mengerti", "masalah dalam menangkap pelajaran" dan lain sebagainya.

Dengan begitu orangtua bisa memutuskan melakukan tindakan koreksi agar sang anak bisa memperbaiki hal-hal yang dianggap salah disana.

Tidak perlu dipandang berlebihan.

Nilai di raport hanyalah angka indikator saja.

Tidak menentukan apa-apa. Masa depan anak masih tetap ada di tangan si anak sendiri dan orangtuanya. Bukan pada nilai raportnya.

Tidak perlu juga merasa terlalu bangga atau sombong karena nilai yang baik. Tidak perlu juga menjadi minder dan malu karena nilai yang rendah.

Apa yang terjadi di masa depan, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin.

Pergunakan raport sebagai alat untuk membantu sang anak mencapai apa yang dikehendakinya, cita-citanya.

Hal itu tidak akan bisa dilakukan ketika para orangtua memandang terlalu berlebihan nilai raport anaknya.

Kalau berlebihan dalam menyikapinya, yang ada adalah situasi dimana orangtua terlalu sibuk memarahi dan memaki sang anak  atau tidak henti menyebar status Facebook tentang keberhasilan anaknya.

Sulit untuk bisa mengarahkan ketika orangtua tenggelam dalam "kesibukannya" sendiri.



Supaya Tidak Kecewa, Beri Waktu Yang Cukup Saat Mengundang Tetangga


Siapa tidak kecewa saat mengundang tetangga untuk datang ke sebuah acara yang kita adakan, ternyata yang hadir bisa dihitung dengan jari saja. Padahal, makanan dan minuman sudah dipersiapkan menyesuaikan dengan orang-orang yang tinggal di lingkungan yang sama dengan kita.

Mubazir.

Bolehlah kecewa seperti itu, tetapi sebelum menunjukkan jari kepada para tetangga sebagai orang-orang yang tidak mau menjalin silaturahmi, coba dulu tanyakan satu pertanyaan kepada diri sendiri.

Sudahkah kita memperhitungkan soal waktu. Ya, waktu atau timing istilah orang bulenya. Banyak hal baik yang berujung buruk karena kesalahan mengelola timing-nya.

Hal itu berlaku dalam hal mengundang orang untuk datang ke sebuah acara. Sudah terlalu banyak contoh kejadian dimana persiapan yang sudah matang dan menghabiskan banyak biaya terbuang percuma, hanya karena sebuah masalah yang sepertinya sepele, yaitu tentang waktu mengirimkan undangannya.

Bagaimanapun, di masa sekarang ini, yang sibuk, manusia sepertinya hanya memiliki sisa waktu sedikit setelah dikurangi kegiatan pokok, mencari nafkah. Oleh karena itu, mereka akan terus berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Salah satunya adalah dengan membuat jadwal dan rencana. Dan, biasanya rencana itu sudah dibuat jauh hari sebelum waktu pelaksanaannya.

Inilah poin penting yang harus diperhatikan saat kita hendak mengundang orang datang, termasuk para tetangga.

Kalau sebuah undangan disebarkan/diberikan terlalu dekat dengan acara, hal tersebut akan menyusahkan orang yang diundang. Mereka harus melakukan perencanaan ulang terhadap apa yang hendak mereka lakukan.

Semakin pendek waktu yang disediakan, maka kesulitan akan semakin besar.

Seorang tetangga yang sudah memiliki rencana untuk berlibur bersama keluarga, tentunya menghadapi kekesalan anak-anak, suami atau istri, kalau rencana tersebut dibatalkan secara tiba-tiba. Sulit sekali menghadapi rengekan dari anak-anak yang ngambek karena bapaknya harus datang ke kondangan tetangga.

Mau tidak mau dalam kondisi demikian, banyak orang dihadapkan pada pilihan ala skala prioritas. Mana yang lebih penting harus didahulukan! Mana yang resikonya lebih rendah terpaksa diabaikan!

Bukan sebuah pilihan yang menyenangkan, tetapi tentunya lebih sulit menghadapi istri yang cemberut dan mogok memasak selama seminggu daripada tetangga yang manyun. Apalagi, tentunya semua orang paham bahwa keluarga adalah segalanya dan orang akan mafhum akan hal itu.

Jadi, dalam kondisi demikian, hampir pasti undangan yang diberikan tidak akan dipenuhi.

Hal tersebut akan bisa dihindari kalau sang pengundang mau memberikan waktu yang cukup saat memberikan undangan. Yang diundang akan bisa memiliki sebuah kesempatan untuk melakukan perencanaan ulang dan menegosiasikan lagi rencana yang sudah dibuat.

Dengan begitu, mereka bisa menyediakan slot waktu dalam rencananya.

Sesederhana itu.

Sayangnya, hal seperti ini kerap diabaikan oleh pihak pengundang. Entah karena merasa sudah dekat dengan tetangga, mereka menggampangkan dan berasumsi bahwa tetangga sudah pasti mau datang. Apalagi ada pepatah "Kalau diundang, harus datang, kecuali saat terpaksa".

Sebuah prinsip yang mempermudah posisi si pengundang tapi membuat repot orang yang diundang.

Berpikir dengan cara seperti itu tidaklah baik bagi pengundang. Bagaimanapun seorang pengundang harus mau memperhitungkan dan bertoleransi terhadap berbagai situasi yang mungkin dihadapi oleh yang diundang.

Jangan menjadi egois dan memaksakan kehendak.

Bayangkan saja ketika sebuah undangan datang hanya beberapa jam sebelum acara dimulai. Padahal bisa jadi orang yang diundang sedang ingin beristirahat dan bermain bersama anak.

Repot.

Jadi, sebelum menyalahkan orang lain sebagai tidak memiliki toleransi dan pengertian, coba koreksi diri sendiri. Apakah kita sudah memberikan waktu yang cukup bagi mereka untuk mempertimbangkan undangan kita?

Kalau belum, jangan salahkan mereka. Salahkan diri sendiri. Disitu tercermin bahwa kita masih terlalu egois dan suka memaksakan kehendak.

Biasakanlah memberikan waktu yang cukup saat mengundang orang karena disana tercermin juga seberapa besar toleransi kita terhadap orang lain.

Berbisnis Dengan Tetangga Memiliki Resiko Yang Lebih Dari Sekedar Masalah Uang


Bisnis selalu mempunyai resiko. Tidak pernah ada bisnis yang tidak memiiki resiko karena memang kodratnya begitu. Untuk meraih profit yang diinginkan, para pebisnis harus jeli me-manage yang namanya resiko agar tidak berubah menjadi bencana atau masalah, yang tentunya akan mengundang kerugian.

Itulah sifat dari dunia bisnis.

Salah satu langkah yang diambil untuk mengurangi resiko tadi adalah melakukannya dalam bentuk kelompok yang terdiri dari beberapa orang. Dengan begitu, resiko per-orangnya menjadi semakin kecil dan kesempatan untuk sukses dan meraup keuntungan  akan semakin besar.

Kesempatan itu akan menjadi lebih besar, ketika orang-orang yang bergabung dalam sebuah usaha bisnis adalah mereka-mereka yang sudah lama dikenal, seperti keluarga, teman, atau tetangga. Alasannya adalah karena dengan mengenal masing-masing karakter dan sifat maka pengelolaan sebuah usaha akan semakin mudah dan lancar. Konflik akan dapat dikurangi mengingat sudah saling mengenal dan laju usaha bisnis tersebut diharapkan bisa lebih mulus ke arah target utama, profit.

Teorinya demikian.

Setidaknya, cukup banyak orang berpandangan begitu, seperti para tetangga saya yang sedang semangat-semangatnya untuk berbisnis dan mendirikan perusahaan berkongsi dengan tetangga yang lain.

Saya pun diajak untuk ikut serta di dalamnya.

Tetapi, saya menolak.

Bukan karena tidak paham tentang alur pemikiran seperti di atas. Juga bukan menentang. Kegemaran membaca berbagai buku tentang ekonomi dan bisnis di masa lalu memberikan cukup pemahaman tentang keuntungan berbisnis dengan tetangga dan orang-orang yang kita kenal. Pekerjaan di bidang trading pun memberikan banyak pengalaman tentang dunia bisnia.

Teori di atas tidak salah. Benar adanya.

Resiko bisa diperkecil ketika rekan-rekan bisnis kita adalah orang yang sudah dikenal. Faktor kepercayaan satu dengan lain lebih baik dibandingkan jika dilakukan dengan orang tak dikenal dan hal ini membantu memperlancar roda organisasi.

Masalahnya adalah teori tersebut hanyalah "satu sisi" dari mata uang. Ada sisi lainnya yang kerap dilupakan orang banyak saat berbicara tentang bisnis. Sisi lainnya adalah UANG.

Uang, duit, money, atau apapun sebutannya adalah "benda" yang aneh dan seperti memiliki pengaruh "magis" yang kuat. Benda yang satu ini lebih ampuh dari keris Mpu Gandring, kalau sekarang masih ada, untuk merubah karakter dan sifat manusia.

Tidak banyak orang yang bisa bertahan terhadap pengaruh uang dan tanpa menyebabkan perubahan karakternya, kayak si Mark Zuckerberg itu. Tidak banyak.

Sebuah bisnis akan selalu menghadapi potensi

  • Untung
  •  Rugi
Keduanya berkaitan dengan kata uang.

Ok-lah bisnis yang dijalankan bersama tetangga itu berhasil dan sukses, uang ratusan juta rupiah bisa diraup dan dibagi.

Terlihat enak bukan.

Tetapi, pernahkah menyadari bahwa banyak sekali perselisihan di dunia hanya karena pembagian uang? Bukan hanya yang kelas ratusan juta atau ratusan milyar, seringkali puluhan ribu saja bisa membuat orang cakar-cakaran karena pembagian dianggap kurang adil.

Usaha bisnis yang untung menghadapi masalah bagaimana memuaskan rasa adil pada setiap pemegang sahamnya. Kemungkinan perselisihan tetap hadir di saat perusahaan sukses.

Jadi, bagusnya perusahaan rugi saja?

Tidak juga. Saat untung potensi penyebab perselisihan adalah bagaimana pembagian uangnya. Saat rugi, maka yang diributkan adalah siapa yang harus menanggung ruginya. Sudah biasa bahwa manusia maunya enak terus dan nggak mau rugi, kalau rugi orang cenderung mencari kambing hitam. Bukan hal aneh ketika melihat pemegang saham yang satu menuduh pemegang saham yang lain sudah mencurangi atau menjadi penyebab kerugian usaha mereka bersama.

Pengalaman bekerja di perusahaan sebelum ini menunjukkan hal itu. Perusahaan itu mengalami kerugian dan salah satu pemegang saham menyalahkan yang lain dan berujung pada tutupnya perusahaan itu.

Resiko ada di kedua sisi. Potensi perselisihan tidak hilang baik saat untung dan rugi.

Masalahnya, kalau rekan bisnis itu tetangga, imbas dari perselisihan di usaha, hampir pasti akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Masih sedikit orang yang bisa memisahkan antara menjadi pemegang saham dan menjadi tetangga. Keduanya sering dicampur adukkan.

Perasaan kesal dan marah saat di dunia bisnis, rentan terbawa ke dunia tetangga.

Hal itu akan menyulitkan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan mereka yang hidup di lingkungan yang sama. Padahal, besar kemungkinan kita akan tinggal dalam waktu yang panjang, bahkan seumur hidup disana.

Tidak terbayangkan kalau sesama tetangga tidak saling menyapa hanya karena yang satu merasa tidak diberi jatah keuntungan yang adil.

Ampun.

Itulah efek UANG, tetapi bukan uang yang menjadi kekhawatiran saya untuk ikut terjun berbinis dengan tetangga. Efek sampingnya itu yang "lebih berbahaya".

Siapa yang tidak butuh UANG? Apalagi dalam jumlah besar, iya nggak? Dan, bisnis atau usaha mmberi peluang untuk mendapatkan itu.

Hanya saja, saya berpendapat, resikonya terlalu besar untuk diambil. Saya tidak bisa menanggung resikonya/ Lebih mudah melakukan bisnis dengan orang yang tidak begitu kita kenal.

Ketika ada masalah, maka bisa segera dilupakan daripada dengan tetangga sendiri. Bayangkan saja kalau setiap keluar rumah bertemu dengan istri tetangga yang cemberut dan manyun ke arah kita karena suaminya bercerita bahwa ia diperlakukan tidak adil oleh saya dan rekan bisnis lainnya.

Saya tidak ingin itu terjadi. Bukan saya saja yang harus menghadapi hal ini, tetapi istri dan anak juga pasti terkena imbasnya. Kehidupan mereka juga akan terganggu karenanya.

Sesuatu yang tidak saya harapkan dan alasan mengapa saya tidak mau terjun berbisnis dengan tetangga.

Daripada nanti rusuh, lebih baik tidak sama sekali.

Bagusnya Kapan Yah? Anak Diajarkan, Mengenal Tentang , dan Diperbolehkan Berhubungan Dengan Lawan Jenis-nya?


Ini satu pertanyaan yang pasti hadir di kepala banyak orangtua. Sejak dulu hingga sekarang, pertanyaan itu akan muncul. Kapan seorang anak diajarkan tentang lawan jenisnya? Kapan mereka diperbolehkan mengenal? dan Kapan mereka diperbolehkan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya?

Jadi tiga pertanyaan, meski sebenarnya intinya cuma satu, yaitu hubungan dengan lawan jenisnya.

Di masa lalu, para orangtua cenderung mendirikan "benteng" di sekitar anak dalam kaitannya dengan lawan jenis dalam beberapa kalimat singkat, padat, jelas, tetapi menyebalkan.

"Jangan pacaran dulu sebelum bekerja"
"Sekolah dulu yang bener, jangan pacaran"
Dan sejenisnya.

Iya nggak? Pernah ngalamin?

Saya pernah kok.

Banyak teman-teman seangkatan juga mengalami hal yang sama.

Lalu, apa yang terjadi? Apakah saya dan teman-teman tersebut mematuhinya?

Ada yang pilih menjadi anak yang patuh, tetapi lebih banyak lagi yang tidak.

Jangan heran. Bagaimanapun "berpasangan" adalah kodrat dari manusia. Mereka memang harus berpasangan karena dengan begitu manusia bisa tetap "survive" dan ada. Ketertarikan terhadap lawan jenis adalah sebuah hal yang normal dan kodrati. Justru kalau hanya sesama jenis bisa menjadi sebuah masalah.

Jadi, mengenal dan kemudian menjalin hubungan antar lawan jenis adalah sebuah hal yang normal saja. Setiap manusia akan punya ketertarikan terhadap lawan jenisnya.

Hal itu juga disadari oleh orangtua di masa lalu. Mereka tidak mencoba menentang hal tersebut. Yang mereka coba lakukan hanyalah mengatur "timing" atau waktu kapan hal tersebut boleh dilakukan.

Mengingat beratnya konsekuensi dan resiko yang terkandung dalam hubungan dengan lawan jenis, mereka sudah menentukan batasan waktunya. Selama sang anak masih sekolah hal tersebut janganlah dilakukan.

Alasan utamanya adalah rasa takut orangtua bahwa hal tersebut bisa mengganggu konsentrasi belajar si anak kesayangan. Kalau sudah kacau konsentrasinya, bisa jadi akan membuat kacau pula sekolahnya. Ujungnya, masa depan gemilang yang diharapkan tidak akan bisa dicapai dan kehidupan sang anak akan ikut kacau.

Sebuah hal yang mulia.

Hanya, hal tersebut bertentangan dengan "gejolak" dalam diri seorang anak. Bagaimanapun, seorang anak, masih belum bisa 100% mengekang dan mengontrol emosi dirinya sendiri. Oleh karena itu, sesuatu yang sebenarnya baik, tidak akan terlihat baik ketika ego dan emosinya menginginkan kebebasan tetapi orangtua memberikan batasan.

Benturan pun terjadi.

Itulah mengapa banyak kasus kawin lari atau hal-hal buruk yang berkaitan dengan lawan jenis. Banyak yang dilakukan karena keinginan untuk "bebas" dalam diri anak-anak mendorng mereka melakukan pemberontakan terhadap batasan yang ditetapkan orangtua.

Apalagi ketika hormon mereka pun cenderung untuk mendorong mereka tertarik pada lawan jenisnya.

Jadilah perseteruan antar anak dan ortu.

Tetapi, pertanyaan itu hadir dalam diri setiap orangtua. Sayapun demikian adanya. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika si kribo kesayangan sudah mulai beranjak remaja.

Bolehkah dia mulai menjalin hubungan dengan seorang gadis?

Berbahayakah kalau dia mulai memiliki pacar?


Tidak berbeda dengan apa yang orangtua saya rasakan di masa lalu. Pertanyaan-pertanyaan itu hadir.

Hanya, saya dan istri memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda.

Kami tidak membuat batasan tentang hal itu.

Bukan karena kami tidak khawatir. Tetapi, kami memandang bahwa hal itu adalah proses belajar yang mau tidak mau harus dilalui semua manusia. Tidak bisa dicegah. Semua manusia sudah pasti akan selalu berinterkasi bukan hanya dengan sesama jenis, tetapi juga dengan lain jenis.

Lagi-lagi itu kodratnya.

Mencoba mengakali dan memberikan batasan tentang hal itu hanya akan menghasilkan perseturan khas yang sering terjadi di generasi sebelumnya.

Tidak ada gunanya.

Kami memutuskan untuk memberikan ruang bagi si kribo untuk mengeksplorasi hal tersebut sesuai dengan kemauannya. Bagaimanapun, itu adalah hidupnya dan bukan hidup kami. Ia berhak menggunakannya sesuai dengan kemauannya.

Yang bisa kami lakukan hanyalah mendampingi. Memberikan masukan. Memberikan arahan.

Karena, bagaimanapun hubungan antar manusia, termasuk dengan lawan jenis, terikat pada aturan dan norma yang berlaku kalau tidak mau berakibat buruk. Untuk itulah pendampingan dari kami sebagai orangtuanya akan sangat dibutuhkan olehnya dalam menemukan apa yang dikehendakinya.

Tidak masalah jika ia hanya ingin berteman dengan seorang atau beberapa gadis.

Tidak masalah juga jika ia ingin menjalin "cinta monyet" dengan salah satu diantaranya.

Bagi kami, itu adalah sebuah proses pembelajaran yang harus dijalaninya. Di masa depan, hal itu pasti akan berguna bagi kehidupannya. Tidak mungkin ia tidak bergaul dengan lawan jenisnya di masa depan. Untuk itu ia juga harus belajar sejak dini.

Dan, kami memutuskan untuk menyerahkan kapan waktunya pada dirinya. Ia yang akan menjalaninya. Sedangkan kami, tugasnya adalah memastikan ia memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghindari resiko yang bisa berakibat buruk bagi kehidupannya.

Itu saja.

Bukan kami, orangtuanya, yang memutuskan kapan waktunya. Dialah yang harus menentukan itu karena ia lebih tahu lebih tepat tentang dirinya sendiri.



Para Orangtua : Anak Kecanduan Handphone (Gadget)? Salahkan Diri Sendiri, Jangan Orang Lain


Sudah menjadi sebuah hal yang umum kalau mendengar keluhan banyak orangtua tentang anak mereka yang kecanduan Handphone/HP atau gadget. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di banyak bagian bumi yang lain, masalah ini juga terjadi.

Jadi, kalau anak Anda kecanduan bermain gadget atau smartphone, tidak perlu merasa berbeda dan gagal dalam mengurus anak, karena kenyataannya jutaan orangtua mengalami hal yang sama, dan di seluruh dunia. Paling tidak "gagal"nya jadi tidak sendirian, barengan dengan entah berapa orangtua lainnya.

Yang menjadi masalah, kenyataannya dari sekian banyak orangtua yang menghadapi masalah kecanduan ini, menyalahkan pada si anak. Tidak jarang mereka marah-marah ketika anaknya tidak mau mematuhi perintah mereka untuk berhenti memainkan smartphonenya.

Lucu juga sebenarnya kalau para orangtua melakukan itu.

Kenapa lucu? Ya, lucu saja.

Karena tidak seharusnya mereka menyalahkan anak mereka atas kebiasaan tersebut. Bukan anak yang salah (kalau berusia di bawah 17 tahun yah), mereka para orangtua yang salah dalam hal ini.

Jangan lempar batu sembunyi tangan.

Coba saja uraikan sedikit situasi yang terjadi itu dengan pertanyaan-pertanyaan berikut. Nanti akan ditemukan ujung pangkal masalahnya.

Siapa yang membelikan anak handphone/gadget/HP?

Ya, mayoritas adalah para ORANGTUA.

Kebanyakan anak berusia di bawah 17 tahun masih tergantun pada orangtuanya secara ekonomi. Smartphone, walau semakin murah tetap saja biasanya berada di luar jangkauan kantung anak-anak.

Keputusan untuk membelikan atau tidak pun dilakukan oleh ayah atau ibu. Meski biasanya dimulai dengan rengekan si anak , tetapi tetap saja ayah dan ibu lah yang menjatuhkan palu keputusan untuk jadi beli atau tidak.

Betul kan?

Cara paling efektif untuk mencegah anak kecanduan smartphone adalah dengan TIDAK MEMBELIKANNYA.

Dengan begitu sudah pasti ia tidak akan memegang gadget terus menerus. (Bagaimana bisa memegang kalau barangnya tidak ada? Logika sederhana saja)

Sudahkah mengajarkan cara menggunakan gadget dengan baik dan benar?

OK OK.. Jangan sewot.

Bisa dimengerti bahwa di masa kini, tentunya para orangtua pun tidak ingin anaknya menjadi gaptek (gagap teknologi) dan tertinggal dari kawan-kawan mereka.

Sangat bisa dimengerti.

Bagaimanapun, manusia memang harus dan dituntut mengikuti perkembangan budaya di sekitarnya. Kegagalan untuk melakukan ini akan melahirkan dampak dalam berbagai hal, mulai rasa rendah diri sampai dibully, bisa terjadi. Belum lagi sisi komunikasi dapat membantu orangtua mengawasi anaknya.

Jadi, tidak salah memang kalai para orangtua membelikan anaknya gadget. Walau berarti dengan begitu membuka celah dan menghadirkan resiko juga, yang namanya kecanduan hape atau smartphone itu tadi.

OK-lah.

Tetapi, pertanyaan berikutnya, kalau memang memutuskan untuk membelikan, sudahkah para orangtua mengajarkan

  1. Apa itu smartphone?
  2. Apa kegunaan dan fungsinya?
  3. Bagaimana cara menggunakannya?
  4. Bahaya yang terkandung di dalamnya?
Mengajarkan dalam hal ini bukan tentang bagaimana cara mengirim pesan via Whatsapp atau BBM atau Line. Juga bukan dengan sekedar menyuruh anak membaca buku manual smartphone yang diberikan kepadanya.

Bukan itu.

Setiap benda yang kita pakai akan menghadirkan konsekuensi dan resiko. Begitu juga dengan smartphone.

Smartphone akan membuka dunia bagi si anak. DUNIA.


Dalam dunia bukan hanya ada yang BAIK-BAIK saja, tetapi juga ada yang BURUK juga. Predator anak berkeliaran di dunia maya dimana identitas mudah sekali dipalsukan. Ada juga konflik-konflik. Ada juga hoaks dan sebagainya.

Smartphone bukan hanya membawa kebaikan, pengetahuan mendekat ke si anak, tetapi juga berbagai kejelekan dan keburukan pun akan beramai-ramai datang ke si anak.

Nah, sudah kah Anda memberikan tameng kepada si anak?

Sudahkah para orangtua memberitahukan bahwa terlalu banyak memandang layar smartphone bisa memberi efek buruk pada matanya? Sudahkah si orangtua mengajarkan bahwa tugas sekolah lebih penting daripada chatting dengan teman tak dikenal di ujung dunia entah sebelah mana? Sudahkah para orangtua memberikan batasan yang boleh dan yang tak boleh dilakukan dengan gadgetnya?

Sudahkah... ini dan itu yang susah dirinci saking banyaknya.

Anak tetaplah anak. Ia masih membutuhkan bantuan pengalaman dan kebijakan orangtuanya untuk memilah mana yang bisa menimbulkan dampak baik dan mana yang buruk. Ia belum bisa berdiri sendiri.

Oleh karena itu sudah seharusnya, ketika orangtua memutuskan membelikan anaknya smartphone atau hape, ia pun harus mengajarkan "CARA MEMPERGUNAKANNYA" dengan baik. Tanpa itu, sang anak akan bisa "kehilangan kendali" dan melahirkan ekses-ekses negatif yang membuat repot orangtuanya.

Masalahnya, kebanyakan orangtua tidak melakukan "pengajaran" tentang smartphone. Banyak dari mereka beranggapan bahwa hal itu adalah naluriah saja dan akan berjalan bersamaan dengan waktu. Padahal tidak.

Anak tetap anak. Yang masih harus banyak belajar dan diajari.

Sayangnya, para orangtuanya juga terkadang juga sedang kecanduan smartphone atau hapenya. Mereka merasa terganggung kalau anaknya bertanya ini dan itu. Mereka sering tidak peduli apa yang dikerjakan anaknya selama mereka tidak mengganggu kegiatannya.

Saat itulah anak kehilangan pembimbing yang seharusnya mengajarkan dirinya pengetahuan tentang dampak buruk dari smartphone. Lebih jauh lagi, mereka diberi contoh bahwa "BEGITULAH CARA MENGGUNAKAN SMARTPHONE/HP", yang sebenarnya tidak seharusnya dicontoh.

Jadi, orangtua seharusnya tidak marah-marah kepada si anak kalau mereka tidak bisa lepas dari gadget mereka. Kesalahan itu ada pada orangtuanya. Seharusnya para orangtua harus memarahi diri sendiri karena merekalah penyebab semua itu.

Merekalah penyebab para anak kecanduan HP.




Masih Perlukah Ibu Memisahkan Makanan Untuk Ayah?


Ibu saya dulu melakukannya. Ia akan menempatkan lauk pauk dan sayur pada piring yang diletakkan terpisah dari porsi yang disediakan untuk anak-anaknya. Dan, kebiasaan memisahkan makanan untuk ayah atau bapak, dilakukan oleh banyak ibu di saat saya masih anak-anak.

Penjelasan yang sering diberikan sang ibu kepada anak-anaknya adalah karena ayah mereka butuh makanan itu agar ia kuat dan punya tenaga untuk mencari nafkah. Penjelasan tambahannya adalah ayah adalah orang penting dalam sebuah keluarga karena ialah yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan dan nafkah keluarganya. Oleh karena itu, sang ibu harus memisahkan makanan untuk pria yang menjadi tulang punggung keluarganya tersebut.

Lagipula, hal itu juga dilakukan untuk membiarkan anak-anak bisa makan terlebih dahulu tanpa harus mengganggu bagian sang ayah.

Hingga saat ini, masih cukup banyak pula keluarga yang masih menerapkan pola yang sama. Tetangga saya masih melakukannya. Sang istri akan memisahkan makanan, dalam porsi yang lebih banyak dan juga bagian "spesial" untuk suaminya.

Tetapi, keluarga kecil kami TIDAK.

Saya menolak untuk diperlakukan seperti itu dan tidak pernah meminta agar istri saya memisahkan makanan dari yang ia dan si kribo kecil makan.

Semuanya diletakkan bersama. Bahkan, ketika mereka berdua makan terlebih dahulu, saya akan makan apa yang tersisa di meja makan.

Saya bukanlah bagian terpenting dalam sebuah keluarga. Tidak ada bagian yang lebih penting dari yang lainnya. Semuanya spesial.

Istri dan anak saya adalah dua orang paling berharga dalam kehidupan saya, dan saya juga percaya mereka berpandangan demikian terhadap saya. Lalu, mengapa saya yang harus mendapat perlakuan demikian spesial dari mereka. Justru, sebaliknya, saya ingin mereka merasa bahwa mereka adalah dua orang paling spesial bagi saya.

Apa yang ada di meja makan, bagi keluarga kecil kami adalah milik bersama dan bisa dinikmati bersama.

Malahan, saya berharap si kribo dan si yayang bisa mendapatkan bagian terbaik dari apa yang bisa dimakan. Untuk itulah saya mencari nafkah agar kehidupan mereka menjadi sejahtera dan mereka bisa mendapatkan bagian yang terbaik dari kesemua itu.

Memisahkan makanan untuk saya hanya menghambat mereka memilih bagian dari makanan yang paling mereka sukai hanya sekedar untuk ayah mereka. Banyak ibu menyisakan bagian yang paling banyak dagingnya dari seekor ikan goreng kepada sang ayah, tetapi hal ini isa menghambat sang anak mendapatkan bagian yang disukainya. Bisa jadi pada akhirnya ia hanya mendapatkan buntut yang banyak durinya dan bisa menyusahkannya.

Nope. Saya tidak mau demikian.

Istri dan si kribo kecil harus mendapatkan yang terbaik dari apa yang bisa saya berikan. Tidak masalah ketika saya hanya mendapatkan buntut atau kepalanya saja, toh saya bisa makan apa saja.

Jadi, saya tidak akan pernah meminta, menyuruh, atau mengindikasikan bahwa sebagai seorang ayah saya minta diperlakukan istimewa dengan cara memisahkan makanan untuk saya.

Kebiasaan seperti itu adalah sesuatu yang obsolete atau kuno bagi keluarga kami. Tidak sesuai dengan pola pikir dan tim yang sedang kami jalani.

Memiliki Istri Lebih Dari Satu Itu Adalah Pilihan


Poligini istilah tepatnya dan bukan poligami untuk pria yang memiliki istri lebih dari satu pada satu waktu atau bersamaan. Cuma karena masyarakat sudah terlalu akrab dengan istilah poligami, banyak yang akan mengerutkan kening kalau mendengar istilah poligini. Padahal dalam poligami ada dua jenis istilah yaitu poligini (pria beristri lebih dari satu) dan poliandri (wanita yang bersuami lebih dari satu).

Bukan itu yang akan dibahas. Bukan juga tentang halal haramnya, sunnah atau wajib, atau berbagai tips atau syarat agar diperkenankan untuk memiliki istri lebih dari satu. Sudah terlalu banyak dibahas oleh banyak orang dalam banyak artikel yang akhirnya menimbulkan banyak kepusingan.

Yang hendak disampaikan dalam tulisan ini adalah sebuah kenyataan bahwa poligini atau memiliki istri lebih dari satu adalah sebuah pilihan jalan hidup.

Faktanya memang hukum di Indonesia memperbolehkan hal itu dilakukan. Coba saja lihat Undang-Undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan walau dengan syarat yang cukup ketat. Begitu juga dari sisi agama, terutama Islam yang jelas memperbolehkan seorang pria menikahi sebanyak-banyaknya 4 orang dalam satu waktu.

Jadi, itulah fakta bahwa poligini diperkenankan hadir dalam kehidupan berkeluarga. Meskipun para wanita akan menentang dan mencibir tentang hal ini, tetapi aturan hukumnya jelas memperbolehkan. Mengenai mereka mengizinkan suaminya menambah jumlah istri atau tidak adalah lain hal.

Tetapi, ada satu hal yang dilupakan para pendukung poligini. Ini juga sebuah kenyataan dan fakta yang tidak terbantahkan.

MEMILIKI ISTRI LEBIH DARI SATU ATAU POLIGINI BUKANLAH KEWAJIBAN.

Cobalah lihat sendiri pasal-pasal dalam Undang-Undang Perkawinan yang sama dan begitu juga dalam berbagai ayat kitab suci. Adakah yang "mengharuskan" bahwa seorang pria harus menikahi beberapa wanita?

Jawabannya tidak ada.

Memang kalangan pendukung, dan yang mungkin sudah menikahi lebih dari satu wanita akan menyorongkan sisi positif, seperti kata-kata sakti "daripada berzinah" lebih baik dihalalkan dan dinikahi saja.

Logical fallacy yang sangat luar biasa. Karena seakan-akan tanpa menikahi  lebih dari satu wanita, maka seorang pria sudah pasti terjerumus dalam zinah, perbuatan dosa. Kenyataannya tidak selalu dan tidak demikian. Banyak sekali pria yang tetap bisa menjaga dirinya meski hanya menikah dengan satu wanita saja.

Sama halnya dengan cara berpikir yang selalu diagung-agungkan bahwa poligini adalah ibadah dan sunnah dari Nabi Besar Muhammad SAW. Tidak salah karena Beliau memang memberikan contoh seperti itu. Para pendukung poligini membuat seakan-akan memiliki istri lebih dari satu adalah satu-satunya sunnah yang bisa mendatangkan pahala

Padahal kenyataannya tidak demikian. Masih banyak cara yang diajarkan untuk merengkuh ridho dari Yang Maha Kuasa, mulai dari menyingkirkan batu di jalan, tersenyum, hingga menyumbangkan hartanya. Masih ada ribuan cara lain mendapatkan pahala. Bukan hanya dari menikahi lebih dari satu wanita.

Itulah kenyataannya. Fakta. Bahwa memiliki istri lebih dari satu bukanlah sebuah kewajiban dan keharusan. Tidak ada aturan hukum yang menyuruh orang memiliki 4 istri. Tidak ada aturan agama yang mewajibkan umatnya menikahi 4 istri.

Tidak ada.

Poligini hanyalah sebuah pilihan bagi seorang pria. Ia bisa memilih jalan yang dikehendakinya dan keluarga seperti apa yang dimauinya. Bukan sebuah jalan yang "harus" ditempuh.

Sebuah omong kosong kalau dikatakan HARUS.

Itulah mengapa para pendukung poligini begitu gencar meneriakkan berbagai keuntungan ber-poligini seperti yang paling menyakitkan adalah mengurangi jumlah janda dan menjauhkan mereka dari zinah. Padahal belum tentu seorang janda langsung tercebur pada hal-hal negatif.

Mereka ingin menyampaikan pembenaran atas tindakan dan jalan yang dipilihnya karena mereka menyadari bahwa hal itu bukanlah sebuah keharusan dan sekedar pilihan saja. Mereka membuat diri mereka terlihat menjadi mulia dengan tindakannya di mata masyarakat agar mereka tidak dihujat dan dicerca.

Padahal, menerima hujatan dan cercaan, baik dari istri pertama, atau masyarakat adalah salah satu konsekuensi dari sebuah poligini. Masyarakat Indonesia semakin modern dimana kesadaran atas kesamaan hak antar wanita dan pria sudah semakin tinggi. Oleh karena itu kebiasaan memiliki lebih dari satu istri yang banyak dilakukan di masa lalu sudah cenderung kurang populer di mata masyarakat sekarang.

Sesuatu yang coba ditangkis dengan melontarkan berbagai ayat kitab suci dan berbagai pembenaran lainnya. Banyak yang mencoba menafikan kenyataan bahwa memiliki istri lebih dari satu adalah sekedar pilihan dan bukan kewajiban.

Pembenaran apapun tidak bisa merubah kenyataan ini.

Jangan Lupa Ajarkan Anak Tiga Kata Penting Ini


Ada tiga kata penting dalam kehidupan yang sudah seharusnya diajarkan kepada anak sejak ia masih usia dini. Bukan, bukan panggilan keren kepada orangtuanya, seperti "mommy", "daddy", "papih", "mamih" atau sejenis.

Tiga kata penting ini bahkan bisa dikatakan lebih penting dibandingkan kejeniusan dalam bidang akademis. Tanpa pembiasaan mengatakan 3 kata ini, seorang anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi orang yang diremehkan oleh masyarakat.

Ketiga kata penting itu, yaitu :

  • Tolong
  • Terima kasih
  • Maaf
Tidak disusun secara alpabetik atau prioritas. Ke-3 kata ini memiliki porsi yang sama dan tidak ada yang lebih penting dari yang lain.

Mengapa? Pastinya banyak yang berpikir mengapa 3 kata ini menjadi bahkan lebih penting dibandingkan kepandaian dalam hal matematika atau hal lainnya.

Sederhana saja.

1) Tolong 


Sudah takdirnya manusia adalah makhluk sosial dan perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Juga, sudah kodratnya manusia penuh dengan kelemahan dan akan selalu membutuhkan bantuan dari orang lain.

Hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa kemampuan mengatakannya dengan cara yang sopan dan halus. Dalam bahasa Indonesia, kata tolong adalah penyambung sebuah interaksi antara manusia saat membutuhkan bantuan dari yang lainnya. Help dalam bahasa Inggris, dan entah dalam bahasa Rusia karena saya tidak paham.

Kegagalan mengutarakan permohonan bantuan dengan cara yang benar dan layak akan menempatkannya pada posisi sulit, entah dianggap orang yang tidak tahu sopan santun atau tidak tahu adab. Jeleknya, hal itu akan membuat orang yang dimintakan bantuan menolak untuk membantu.

2) Terima kasih


Setelah bantuan diterima, seorang manusia biasanya mengharapkan "apresiasi" atas apa yang dikerjakannya. Wajar saja. Meskipun banyak yang tidak terucap, tetapi tetap saja mereka "berharap" pada apresiasi tersebut.

Kata terima kasih merupakan perwujudan paling sederhana untuk mengungkapkan rasa gembira, senang, apresiasi terhadap sesuatu yang diberikan kepada kita.

Kalau seorang anak tidak paham tentang kata ini akan berbahaya di kemudian hari. Label tidak tahu terima kasih bisa saja dilekatkan kepada dirinya oleh masyarakat.

3) Maaf

Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah kepada orang lain. Kalau ada yang berkata demikian, maka berarti orang itu harus diragukan kemanusiaannya.

Semua manusia pasti pernah berbuat salah. Dan, salah itu sering menimbulkan luka di hati orang lain.

Kata sederhana ini bisa menjadi penyembuh luka yang paling sederhana dan paling efektif, tetapi bisa menjadi sesuatu yang besar dan sulit ketika ego berbicara.

Seorang anak yang diajarkan menggunakan kata maaf bisa menjadi orang yang sportif yang berani mengakui kesalahan yang diperbuatnya dan mau mencoba melakukan sesuatu untuk menebusnya.

Ketiga kata ini menjadi penting karena peran mereka tidak bisa digantikan dengan menyodorkan pengetahuan tentang geografi atau rumus matematika. Pengetahuan akademis seperti itu tidak dipergunakan setiap hari saat seorang manusia berinteraksi dengan manusia lainnya, tetapi ketiga kata ini akan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan, seorang anak yang tidak bisa mengucapkan hal ini, secara langsung atau perlahan akan diasingkan oleh masyarakat. Ia akan mendapat berbagai label buruk, seperti tidak tahu terima kasih, tidak sopan, tidak beradab, tidak tahu sopan santun, dan berbagai cap lainnya. Sesuatu yang tentu saja akan menyulitkannya dalam kehidupan.

Bagaimanapun ia akan bertemu dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Tidak mungkin tidak.

Ketiga kata sederhana nan penting ini merupakan tiga buah alat yang sangat penting dan efektif untuk memperlancar kehidupan seorang manusia. Oleh karena itu, para orangtua harus sedini mungkin mengajarkannya kepada anak-anak.

Ibu Hebat Bukan Hanya Sebatas Melahirkan Secara Normal Saja


Yah wajar saja kalau yang mengatakan hal ini dibully para netizen. Maklum banyak wanita merasa sewot akibat postingan "Ismi Wahidah"  seorang ibu muda di Facebook. Ia mengatakan bahwa ibu yang tidak melahirkan secara normal bukanlah ibu yang hebat karena tidak merasakan naluri sebagai ibu. Oleh karena itu wanita seperti ini tidak sempurna sebagai ibu.

Bukan sebuah pandangan baru. Banyak dari generasi pendahulu pun berpandangan seperti itu oleh karena itu mereka akan berusaha semaksimal mungkin menghindarkan diri dari melahirkan secara cesar alias melalui jalan operasi.

Jadi bisa dikata Ismi hanya meneruskan pandangan dari generasi sebelumnya. Mungkin ia banyak diberi petuah oleh ibu atau bibi-bibinya sehingga memiliki pandangan seperti itu.

Apakah saya akan ikut menghujat dan mem-bully-nya? Tidaklah. Untuk apa. Terutama karena saya paham betul bahwa pertarungan antara budaya lama dan budaya baru sedang terjadi. Pola pikir yang pernah dominan di masa lalu sedang tergusur oleh pola pikir yang baru.

Perdebatan soal sempurna atau tidaknya seorang wanita sebagai seorang ibu bukan pula barang baru. Hal itu sudah terjadi sejak operasi cesar ditemukan.

Apakah karena si kribo kecil kesayangan kami lahir dari persalinan normal? Tidak. Si ABG itu lahir ke dunia melalui tangan para dokter yang melakukan operasi cesar.

Bukan karena sang ibu memutuskan untuk melakukannya, karena sayalah yang memutuskan langkah itu harus diambil. Bahkan tanpa persetujuan istri yang sedang menahan sakit.

Tekanan darah yang mencapai lebih dari 180 dan juga "pembukaan " yang tidak kunjung berpindah dari bukaan 3 setelah beberapa jam menunjukkan adanya masalah.

Kondisi yang tentunya berbahaya bagi orang yang saya kasihi.

Tidak. Saya tidak ragu memutuskannya meskipun saya cukup paham keinginan sang istri untuk merasa "normal" dan "sempurna" sebagai wanita dengan melahirkan secara normal. Tetapi, nyawa dua orang yang saya sayangi lebih berharga daripada sekedar omongan nyinyir soal sempurna atau tidak sempurnanya wanita.

Wanita tidak akan pernah menjadi sempurna. Wanita hanyalah manusia dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Dia memiliki ratusan dan ribuan kekurangan. Jadi, mengapa harus berpikir tentang sempurna atau tidak ketika dua nyawa bisa terselamatkan.

EGP (Emang Gue Pikirin) pendapat orang. Kalau harus mengikuti omongan orang dan kemudian terjadi apa-apa pada ibu dan jabang bayinya, paling banter mereka yang ribut memperdebatkan soal sempurna atau tidaknya wanita saat melahirkan hanya akan mengatakan duka cita. Tetapi, saya akan kehilang dua orang yang berharga dalam hidup saya.

Tidak sebanding.

Memang tidak mudah. Si "Yayang: sempat merasa down karena merasa dirinya tidak bisa melahirkan secara normal. Perasaan itu tidak hilang dalam waktu sebentar. Terlebih kemudian ASI-nya tidak mengalir dengan lancar. Perasaan "tidak normal" semakin menjadi.

Butuh waktu untuk pada akhirnya ia bisa berkompromi dengan dirinya ketika melihat pertumbuhan si kribo kecil yang sehat dan normal. Tidak ada bedanya dengan anak yang dilahirkan secara normal.

Si kribo kecil jangkung sebagai ABG dan cukup berprestasi. Ia juga menjadi anak yang sopan dan santun, walau agak sedikit jutek dan seperti anak-anak masa kini agak kecanduan gadget, tetapi ia tumbuh dengan normal.

Pada saat itulah ia bisa menerima bahwa operasi cesar yang dilakukan adalah yang memberikan kebahagiaan ini kepada dirinya dan keluarganya. Kalau hanya sekedar menuruti ego dan pandangan orang lain tentang kesempurnaan wanita yang melahirkan normal, padahal indikasi medis mengatakan lain, mungkin tidak akan ada si kribo kecil dan ibunya.

Tidak akan ada kebahagiaan itu di keluarga kami.


Tidak masalah kalau ada orang seperti si Ismi yang mengatakan bahwa istri saya bukan wanita yang hebat dan sempurna. Kenyataannya dia memang begitu. Si Yayang hanyalah seorang ibu rumah tangga dan sebagai manusia dia tidak akan pernah sempurna.

Meskipun demikian, kehadirannya memberi kebahagiaan di rumah kami. Si kribo kecil yang lahir bukan dengan cara yang "normal" juga menghadirkan banyak tawa, senyum, dan canda.

Sesuatu yang tentunya jauh lebih mahal harganya dibandingkan pemikiran kolot nan usang yang terus-terusan membahas kehebatan wanita hanya dari sisi bisa melahirkan secara normal atau melalui operasi cesar.

Dari hal itu saja terlihat bahwa yang mengatakannya bukanlah orang yang sempurna karena dia tidak memiliki empati kepada sesama wanita. Ia juga bukan orang hebat karena tidak bisa menempatkan diri dalam mengemukakan pandangan.

Belum lagi, ia masih belum bisa menunjukkan bahwa anaknya sudah menjadi ABG dan menjadi manusia yang sopan santun dan berakhlak. Masih panjang jalan yang harus ditempuhnya supaya masyarakat menggelarinya wanita atau ibu yang hebat.

Lalu, untuk apa terlalu peduli sama orang keblinger seperti si Ismi?